Selasa, 07 Juni 2011
'Dijewer' lagi karena kenakalanku... ^_^
saat itu begitu membacanya saya langsung terdiam. dalam hati saya, "Allah sepertinya saya salah lagi..."
yang saya baca itu:
"Namun, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syura: 43)
yang terpikir adalah bahwa saya 'dijewer' lagi. karena nakalnya saya. karena saya yang mulai melenceng dari yang seharusnya. karena saya mulai memelihara dendam itu. Maka saya mulai lagi. mengoreksi niat saya, menelaah hati saya yang mungkin tidak cuma tertitik noda tapi tertumpah satu mangkok noda. astaghfirullah....
maka saya tutup hari itu dengan mencoba memaafkan semua kesalahan yang telah terjadi. dan mulai untuk memintakan maaf atas semua kesalahan saya...
kejadian semalam mengingat saat saya benar-benar kehilangan kendali atas diri saya karena suatu masalah. saya benar-benar marah saat itu. hanya berselang beberapa menit setelah saya 'ngamuk' itu satu SMS masuk ke handphone saya, isinya seperti ini:
"Seperti apapun hari ini. Semoga Allah mengusap lembut hatimu. Menjadikanmu bagian dari orang-orang yang berjiwa tenang. Yang kelak akan datang kepada Allah dengan wajah bercahaya. Semoga hari-harimu diwarnai kasih sayang-Nya dan setiap peluh ternilai sebagai pemberat amal kebaikan. Amin."
detik itu juga airmata saya mengalir. saya sesegukan. menyesali apa yang sudah saya lakukan. Allah ampuni saya... dan saya berterima kasih kepada Rizka Melita Sari yang saat itu 'dikirim' untuk jadi 'guardian angel' saya.
saya pun teringat pada satu SMS yang masuk di kemarin. isinya seperti ini:
"situasi yang pahit, sering kali membawa dua efek, "Trauma" atau "Hikmah". bagi orang-orang yang trauma, mungkin cerita tak berlanjut lebih panjang lagi. tapi bagi mereka yang selalu mengambil hikmah jalan ceritanya mash terjaga. salah satu hikmah yang akan didapati adalah: menjadi DEWASA."
lagi-lagi ini nyinggung saya. tapi saya berterima kasih atas pengingatan dari saudara-saudaraku sekalian. ini membuat saya tetap dalam koridor yang seharusnya. terima kasih juga untuk yang ngirim SMS karena SMS ini pula saya bisa menjawab curhatnya seorang sahabat.
saya merasa beruntung karena bergabung bersama mereka dalam barisan Tarbiyah. bersama mereka suka duka dilewati. bersama mereka pula saya banyak belajar tentang arti kehidupan.
kekalkan persaudaraan karenamu ini Ya Rabb. jadikan persahabatan ini akan kami bawa hingga ke jannah-Mu nanti. amin.
Selasa, 26 April 2011
Milad PKS ke 13 di Palembang
“Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Rute: DPRD sampai Benteng Kuto Besak. Bawa kresek, snack dan minum. Targetan kita sepuluh ribu massa. Tolong bantu sebarkan!”
Bingung. Itu yang saya rasakan. Soal bantu nyebarin sih mudah. Lha ini yang ngasih berita nggak komplit kok. Gimana coba mau nyebarin ke yang lain? Akhirnya daripada bingung saya balas sms teman saya itu. “W3. Acaranya mulai jam berapa? Trus kalo yang dari Indralaya kumpul dimana n jam berapa?”
Gak lama kemudian sms balasan dari dia masuk. Nah ini jawabannya, “Wah, ana kurang tau juga ukh. Ntar ana tanya2 lagi.” Gubrak!!!
Kamis, 21 April 2011. Teman satu departemen dengan saya di Komunitas Generasi Cendekia Ogan Ilir sms. “Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Kumpul di Trifika jam 7. Bawa kresek, minum dan snack. Sebarkan ke kader yang lain dan binaan. Jzkllh.”
Saat itu dipikiran saya berangkat ke Palembangnya jam 7 dari Indralaya. Ok, maka sms itu saya forward ke teman-teman sesama kader.
Sabtu, 23 April 2011. Pas syuro Student Expo KGC dibahas lagi acara longmarch itu. Eh saya malah kaget. Yang lain bilang kalo kumpul di Trifika jam 5.30 bukan jam 7. Lha udah telanjur saya kirim tuh sms ke yang lain. Akhirnya diambil kesimpulan kalo kumpulnya jam 5.30.
Saya berdoa dalam hati semoga nggak ujan malam harinya. Kalo ujan, bakal kesulitan nih keluar dari komplek perumahan tempat saya kos. Jam segitu mana ada mamang becak (oh ya kalo di Sum-sel gak ada yang nyebut abang becak tapi mamang becak. Hehehe…). Cara satu-satunya kalo jalan tergenang air setinggi mata kaki ya jalan kaki.
Nyampe rumah ada sms masuk. Dari teman satu lq lagi. Isinya ya hampir sama dengan sms-sms sebelumnya. Satu beritanya. “Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Kumpul di Trifika jam 6.30. Bawa kresek, minum dan snack. Rute: DPRD-Benteng Kuto Besak.”
Lho kok malah lain-lain sih? Ada yang sms jam 7, tadi 5.30 eh sekarang 6.30. Walah kok malah jadi gak jelas gini ya? Jadi tambah bingung.
Akhirnya saya putuskan untuk ambil jam 5.30 aja. Dari pada saya ditinggal yang lain karena datengnya telat, ya kan? :)
Ahad, 24 April 2011. Jam 5.30 keluar dari rumah. Saya udah was-was tuh. Diminta kumpul jam segitu eh malah baru keluar rumah jam segitu. Pasrah aja kalo ditinggal. Karena semalam hujan saya harus mengambil jalan memutar dan itu artinya memperlama waktu tempuh dari kos ke Trifika.
Nyampe di Trifika. Celingak celinguk. Kok sepi? Wah beneran ditinggal nih. Udah siap-siap mo nangis... Nelpon temen eh katanya mereka baru berangkat dari kos. Ha? Jadi? Saya the first nih?
Pas liat-liat ke pelataran Trifika eh ada satu ikhwan lagi duduk sambil jagain dua dus air mineral. Wah jadi saya cuma berdua dengan ikhwan itu? Yah… gak seru ih.
Gak lama Nani n Isti dateng. Yes, ada temen. Kita yang pada kelaparan akhirnya makan pisang goreng yang dibawa Nani n Isti. Gak lama kemudian dateng Siska. Berempat deh jadinya. Kemudian mulai berdatangan yang lain. Tapi kok ikhwan semua? Masa akhwatnya cuma kita berempat?
Jam 7 kita berangkat. Palembang kami datang….
Nyampe DPRD Sum-Sel. Kepanduan udah pada pasang badan di jalan. Ngatur lalu lintas maksudnya. Turun dari bus, langsung diminta masuk barisan. Saya pikir baru sedikit yang dateng. Eh ternyata udah banyak banget cuma gak keliatan aja. Rombongannya udah mulai jalan. Kami langsung gabung n ikutan jalan bareng.
Longmarch-nya start dari DPRD Sumsel lewat jalan Kapten A. Rifai sampe di perempatan Sudirman ke kanan. Terus aja nyampe Bundaran Air Mancur alias BAM belok ke kanan masuk jalan Merdeka, dekat Kantor Pos belok kiri ke arah RS AK Gani. Lurus aja nyampe deh kita di BKB alias Benteng Kuto Besak.
Dekat perempatan Sudirman para awak kepanduan dah sibuk lari-lari. Saya sih ngeh kenapa mereka lari-larian. Perempatan Sudirman kan terkenal dengan jalur sibuk di Palembang. Bentar lagi, nyampe dekat perempatan itu kita pasti diminta lari juga. Biar macetnya gak lama. Tuh kan bener diminta lari. Yuk, lariiiii….!
Nyebrang di perempatan eh udah ada yang lampu ijo tuh. Tapi bukan giliran kita. Karena diminta lari n liat yang laen pada lari, ikutan lari juga ah… Heran… Kok gak ada kendaraan lewat ya? Yang di jalur kita berenti. Di depan jalur kita juga berenti. Di sebelah kiri sama aja, berenti juga. Pas nengok ke kanan walah pantes aja gak ada kendaraan yang lewat, lha wong kepanduannya bikin border di depan kendaraan-kendaraan itu.
Kenapa kita diminta bawa kantong kresek? Ya jawabannya gak lain gak bukan buat mungutin sampah di jalan. Sepanjang jalan siapa yang nemuin sampah harus dipungut n dimasukin ke kresek masing-masing. Karena kita bagian belakang gak kebagian deh sampahnya. Dah diambilin semua sama yang depan. Sampe ketua DPD se-Sumsel n anggota dewan dari PKS pada ikutan mungut sampah di jalan. Mantap ustad…!! Like this! :)
Nyampe di BKB, udah ada musik-musik penyemangat diputer. Langsung dikasih minum. Wah…
Ada orasi yang intinya jangan mau dipecahbelah. Kalo emang ada berita yang nggak sedap tentang PKS harus cek n ricek dulu kebenaran. Jangan langsung telen mentah-mentah aja beritanya. Setuju ustad!! Foto bareng seluruh ketua DPD PKS se-Sumsel plus jajaran DPW PKS n anggota dewan dari PKS. Hadir semua lho ketua DPD-nya pas diabsen satu-satu oleh MC-nya. Subhanallah…
Kader dan simpatisan yang dateng pas acara banyak banget. Yang saya liat mulai dari anak-anak yang masih naek kereta dorong, ada juga yang naek sepeda mini, ada yang lelap tidur di gendongan abinya, yang nongkrong di pundak abinya juga ada, plus ada juga yang gandengan dengan umi atau abinya. Remaja hingga orang dewasa pada turun ke jalan. Bahkan seorang teman yang tanggal 1 Mei nanti akan menikah masih ikut berpartisipasi. Hehehe…
Juga ada dari berbagai daerah di Sum-sel. Dari OKU Timur (hahaha, daerah sendiri jadi disebut pertama kali), OKU, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, Lubuk Linggau, Empat Lawang, Muba, Banyuasin, OKI, OI, Prabumulih, Muara Enim dan tuan rumah Palembang. Yang saya pikirin itu dari Linggau, berangkat jam berapa ya mereka? Jarak Palembang-Linggau kan ditempuh 9-10 jam. Dua jempol deh untuk kader Linggau, Pagar Alam, Lahat, Empat Lawang, dan OKU Selatan. Yang jarak tempuhnya mulai dari 6-10 jam. Salut deh! :)
Setelah orasi ada acara membersihkan sungai Musi. Nah yang ini dilakukan para ‘pembesar’ PKS. Hmm… pembesar yang merakyat. Selagi para anggota dewan dari PKS, DPW dan DPD membersihkan eceng gondok yang ada di Sungai Musi kita-kita yang kader disuguhi pagelaran nasyid mulai dari Muslim Generation hingga persembahan nasyid dari anak-anak kader.
Kalo menurut saya alasan kenapa pembersihan Sungai Musi hanya dilakukan oleh para pembesar PKS adalah:
1. Membuktikan ke masyarakat Sumsel bahwa PKS itu dekat dengan rakyat dan gak gengsian. Mentang-mentang udah jadi pejabat terus gak mau turun langsung, gak mau kotor. Nah PKS mau jungkir-balikkan fakta itu. Melalui acara ini keliatan dong kalo pembesar dan anggota dewan dari PKS gak segan mungut sampah langsung n nenteng-nenteng kresek isi sampah.
2. Untuk pembersihan Sungai Musi mungkin nih—mungkin lho ya—kalo semua kader mau dikerahkan untuk bersihin Sungai Musi tentu aja getek-nya—getek itu kalo di Palembang sejenis perahu kecil--gak bakalan muat. Getek yang ada di sekitaran Musi berapa lha kader yang dateng berapa. Hehehe..
Cuaca juga mendukung. Matahari malah terus sembunyi di balik awan. Baru menampakkan dirinya beberapa saat sebelum acara Milad PKS selesai. Alhamdulillah… bener-bener dimudahkan Allah…
Melalui acara ini pula saya bertemu dengan para ‘senior’ yang udah lama banget gak ketemu. Ada Mbak Nana, Mbak Mustika dan Kak Dadang dari Rumah Zakat, ada Mbak Ummi dan Evi dari FLP Sum-sel, Kak Adi, Kak Andra, Mbak Didit dari Infocus Nadwah.
Terkhusus untuk Mbak Nana syukron sudah memperlihatkan foto-foto milad PKS di GBK kemarin. Subhanallah… Alhamdulillah bisa ikut meramaikan acara PKS di Palembang. :)
Semoga di hari jadinya ke 13 ini PKS makin solid. Mengutip yang dikatakan Ustad… kalo PKS akan disebut kuat manakala ia mampu melewati puting beliung fitnah yang datang. Amin Ya Rabb…
Ah iya saya jadi teringat dengan training ESQ dua tahun silam yang diadakan saat malam takbiran idul adha. Saat itu hampir seluruh Sum-sel hujan. Hanya Palembang yang cerah, menjelang tengah malam hujan mengguyur kota Palembang. Saat training dimulai dengan takbir, Allah menunjukkan kuasanya. Saat itu disebelah timur awan membentuk tulisan Allah dalam ukuran besar. Belum selesai takjub dan gemetar itu, dari sebelah barat muncul awan yang juga bertuliskan Allah dalam ukuran lebih kecil.
Awan bertuliskan Allah itu memudar berganti dengan tulisan Muhammad. Langit Palembang malam itu berhiaskan tulisan Allah dan Muhammad. Setelah itu berganti menjadi peta Sumatera, kemudian Jawa, Kalimantan, Sulawesi terakhir Papua. Allahu akbar!!
Kak Ridwan trainer ESQ malam itu ditengah isak tangisnya berkata, “Saya merasa tak pantas lagi untuk mentraining kalian malam ini. Saya merasa tak pantas. Karena Allah sudah mentraining kalian secara langsung. Allah. Subhanallah. Allahu akbar…. Betapa kami kecil di hadapan-Mu…”
Dan kejadian malam itu menginspirasi kami. Bahwa harapan itu masih ada, dan insya Allah kebangkitan islam, kebangkitan dakwah ini akan kami mulai dari Sumatera Selatan. Bismillah…
Semangat! Semangat! Semangat jadikan PKS tiga besar di 2014!!
Sabtu, 19 Maret 2011
Belajar dari seekor ngengat
Pagi kemarin saat saya hendak mengangkat jemuran, di salah satu baju yang dijemur ada seekor ngengat. Badannya besar sih. Saya suka melihatnya, namun sedikit takut untuk menyentuhnya. Akhirnya saya biarkan saja ngengat itu hinggap di salah satu baju. Sayangnya, kamera saya sedang dipakai adik. Saya pun harus menunda untuk mengabadikan ngengat tersebut.
“Wah, kupu-kupunya besar banget!” seru Dita--salah satu teman kos saya—saat melihat sang ngengat.
Seruan itu terdengar hingga ke kamar saya, yang kebetulan bersebelahan dengan tempat jemuran pakaian. “Bukan kupu-kupu, Ta. Itu ngengat. Memang bentuknya mirip kupu-kupu.”
“Ohh.. Tapi serem ya mbak liatnya.”
Saya ketawa saja.
Sore harinya saya mencoba memberanikan diri menyentuh si ngengat. Ia sih diam saja saat saya pegang sayapnya. (ya iyalah wong sayapnya saya kepit pake tangan, wajar dong kalo si ngengat nggak bisa gerak-gerak. Hihihi…)
Pagi ini saya kembali mencari sang ngengat di belakang. Ternyata ia masih ada di sana. Hinggap di papan penutup sumur. Akhirnya ngengat itu saya bawa masuk kamar, dan meletakkannya di gorden kamar. Lama saya pandangi, cantiknya… Sulurnya mirip daun hehehe.
Krrreeekkkk…
Saya menajamkan pendengaran. Ada yang membuka pagar rumah. Saya beranjak ke ruang tamu. Ternyata Tika. Oh iya Tika ini salah satu dari lima teman sekos saya. Saya langsung meminjam ponselnya untuk mengabadikan si ngengat. Akhirnya berhasil! Satu foto ngengat sudah didapat. Nantilah kalo mau nambah fotonya. Yang penting itu sudah ada satu. Hehehe.
Tika bertanya pada saya saat melihat foto itu, “Dapat kupu-kupu darimana Mbak?”
“Bukan kupu-kupu, tapi ngengat. Cantikkan?”
“Iya, tapi dapat darimana fotonya?”
“Ini,” ujar saya sambil mengangsurkan si ngengat yang hinggap di tangan saya—tepatnya saya yang meletakkannya di sana. “Kasihan ya ngengat ini. Lahir hanya untuk mati.” Desah saya sembari mengamati ngengat di tangan.
Kemudian saya memindahkan ngengat tersebut di tempat lain. Kasihan dia jika harus hinggap terus-terusan di tangan saya. Bisa-bisa ia ikut mandi juga bareng sama saya. Hehehe. Setelah meletakkan ngengat itu, ucapan saya yang terakhir terngiang kembali, “Kasihan ya ngengat ini. Lahir hanya untuk mati”.
Ya, saya pernah menonton suatu acara di salah satu televisi swasta yang menayangkan pengetahuan mengenai hewan-hewan darat. Saat itu yang dibahas adalah mengenai hewan yang bermetamorfosa. Salah satunya ya ngengat. Ngengat tidak punya mulut untuk makan. Jadi, tak berapa lama dari kelahirannya maka ngengat akan mati. Karena tidak ada asupan pangan. Dan, karena teringat dengan hal itulah makanya saya bilang kasihan, karena lahir hanya untuk mati.
Kemudian saya pikir-pikir lagi dengan lebih matang dan mendalam. (cieee…) Bukankah manusia setelah lahir juga akan mati? Ya, namanya juga makhluk hidup, pasti bakal mati lah. Betul tidak??? Terus apa bedanya saya sama ngengat itu? Ujung-ujungnya juga bakal mati kan? Lha kenapa saya harus kasihan sama si ngengat ya??? Nah, nah, nah, saya mulai bingung nih!
Kalo dipikir-pikir lagi harusnya ngengat itu yang mengasihani saya kali ya? Mungkin kalo bisa ngomong si ngengat bakal ngomong kayak gini, “Kok ngasihani saya sih Mbak? Bukannya situ yang harusnya dikasihani? Kalo saya mati, ya mati aja Mbak. Lha situ kalo sudah mati masih diminta pertanggungjawabankan? Iya kalo dapat enak di surga, lha kalo masuh neraka? Susah sendirikan? Menderita lho Mbak. Itu belum disiksa di kubur tuh… Hiiii, kalo saya sih nggak kuaaaatttt!!! Si Mbaknya kuat nggak? Hayoooo????”
Jadi, kenapa saya harus mengasihani si ngengat? Entahlah… kadang kala kita mengukur segala sesuatunya berdasarkan diri kita. Mengukur orang lain berdasarkan baju kita. Jadinya bakal ada yang kekecilan, ada yang kebesaran dan ada juga yang pas. Sehingga kayaknya yang kata kita aneh bakal ditendang jauh-jauh deh. Padahal setiap orang bahkan setiap makhluk memiliki caranya sendiri untuk bertasbih pada Tuhannya. Ya kan?
Saya merenungkan kembali semua ini, sembari memperhatikan sang ngengat yang masih hinggap di jilbab putih saya. Hmmm… Mungkin karena ini pula makanya ayat Al Qur’an yang pertama turun adalah iqra. Bacalah. Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan. Bukan hanya membaca buku-buku pengetahuan tapi juga membaca alam ini. mengambil pelajaran dari tiap-tipa kejadian. Ah, untuk hal ini banyak buku yang membahasnya. Silahkan mencarinya lewat referensi yang lebih mendalam.
Bukankah Allah menciptakan segala sesuatunya sudah berdasarkan porsi yang seharusnya? Untuk menjadi pelajaran juga bagi manusia, ya kan?
Hari ini saya belajar dari ngengat. Dari seekor ngengat. Bahwa ada ketundukan di sana. Ketundukan atas takdir yang diberikan Allah. Ngengat tidak berusaha protes apalagi unjuk rasa besar-besaran kepada Allah karena tak punya mulut. Yang karena kekurangannya itu ia hanya hidup dalam hitungan hari. Ia menerima takdirnya. Toh ia lahir dengan tidak sia-sia. Ia lahir dan dewasa untuk meneruskan keturunannya. Setelah bertelur ia akan mati. Kemudian akan lahir ngengat lainnya dan kembali bertelur untuk melestarikan jenisnya.
Dan, manusia walaupun dianugerahi Allah dengan segala kelebihannya masih saja tak mau tunduk sujud pada Rabb-nya. Masih saja melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Saya tidak bicara mengenai orang-orang diluar sana. Saya bicara mengenai diri saya. Saya bukan malaikat yang tak pernah melakukan maksiat. Jika malaikat diletakkan di tempat maksiat pun ia tak akan melakukan kemaksiatan. Saya pun—sering kali—melakukan kesalahan yang saya sesali di kemudiannya.
Saya juga masih saja mengeluhkan segala sesuatu yang tak sesuai dengan harapan saya. Padahal ngengat kecil itu tidak pernah mengeluh tentang keadaan dirinya ke Allah. Lalu kenapa saya bisa kalah dari seekor ngengat??
Semua anugerah yang dilimpahkan Allah saya lupakan begitu saja hanya karena keluhan gak penting itu. Saya tak pernah mengerti bahasa ngengat, namun Rasulullah yang mulia itu menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup bertasbih kepada Allah dengan caranya masing-masing. Mungkin ini cara ngengat bertasbih kepada Allah, dengan menerima setiap ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Bersyukur bahwa lewat dia akan ada generasi penerus dari jenisnya.
Saya jelas harus banyak belajar lagi. Belajar ikhlas akan semua ketentuan yang Allah gariskan untuk saya. Belajar untuk menerima walaupun berat. Ngengat kecil itu saja tidak mengeluh, lalu kenapa saya yang notabenenya makhluk yang diciptakan lebih sempurna dari makhluk lain harus mengeluh? Saya tak mau kalah dari ngengat kecil itu. Tak mau.
Terima kasih untuk pelajaran hari ini, wahai ngengat coklat yang cantik. Terima kasih….
Sarjana, B.18
19 Maret 2011
"radisty badar"
Kamis, 24 Februari 2011
Selamat Hari Lahir Untuk Himapuraku Tercinta....
Untuk ukuran anak kecil mungkin kau masih sangat lucu-lucunya. Menggemaskan. Ya, tak terasa usiamu menginjak tiga tahun. Masih muda memang. Namun kau mampu buktikan bahwa kau bersama kami mampu menatap dunia yang tak ramah pada kita. Tertawa, menangis, tersenyum bersama.
Bersama membentuk dirimu. Mengembangkan ide-ide kami yang tak tersalurkan. (???) Bersatu karena merasa senasib. Senasib karena teman-teman dari Martapura yang tidak terorganisir. Hingga sebelum terbentuk aku hanya tahu bahwa anak martapura itu hanya Neli, Nurul, dan Kenan. Walaupun akhirnya terlambat bergabung karena keterbatasan kesehatan (bahasa lain dari sering sakit, hihihi...). :)
Setelah perburuan panjang karena mencari dan menghubungi anak-anak yang diduga dari martapura. (hihihi..) Serta perjuangan panjang mencoba ‘menelurkan’ Himapura. :). Dan tibalah hari itu hari menetasnya Himapura. Di aula Pansos Dharmapala tepatnya tanggal 24 Februari 2008 kau lahir (Alhamdulillah..). Lahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan SDM. Keterbatasan dana. Dan segala keterbatasan lainnya. (halah…)
Terima kasih untuk Rudiansyah yang telah menyumbang banyak untuk ‘Himapura’. Kenapa pada kata Himapura diberi tanpa petik? Karena dari Rudi itulah nama itu terucap. Setelah nama Imara tak mendapat respon yang baik (hiks, padahal saya suka sekali dengan nama itu. T_T). Tapi kami beberapa tahun ini—lebih tepatnya saat kepengurusan kami—kami memaksamu berlari. ‘Memaksamu’ untuk mencoba membuktikan eksistensimu pada dunia. Pada Martapura tepatnya.
Akhirnya tiba masa itu, masa dimana harus ada regenerasi. Sudah sunnatullah. Akhirnya di Villa Terapung RU semuanya berakhir. Kami menyerahkan tampuk pimpinan setelah setahun dipegang Herman Susanti (upssss, Susanto… Maaf Herman… Peace… :)) kepada Wahyu Budianto. Sekarang, seperti yang kalian tahu pimpinan dipegang Azhari Husni. Untung gak Azhari Husno, karena nama dua pimpinan lainnya berakhiran O. Sebentar lagi pun akan segera berakhir masa baktinya.
Saya tidak akan menceritakan apa lagi mengomentari bagaimana Himapura sekarang. Tapi izinkan saya mengenang saat itu. Saat-saat Himapura belum satu tahun. Azhari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Slamat, Rizki, Puput, Mayang, Rudi dan kawan-kawan adalah saksi hidup (cieee..) bagaimana ‘kerasnya’ rapat Himapura di awal-awal terbentuk. Rapat yang jarang sekali jika diadakan akan terjadi pembicaraan yang baik-baik. Sibuk serang sana-sini karena mencoba mempertahankan pendapat. Herman yang menurut kami--saya, Nurul dan Neli—kadang-kadang ngasih ide yang nyebelin (maaf lagi ya, Man…:) ) lagi-lagi sebagai pihak kalah yang kami serang bertiga. Kadang kala kalo lagi akur nyerangnya berempat bareng Kenan. Nggak adil emang. Hahahaha…
Tapi jujur saat mengenang kejadian itu, ‘ngeroyok’ Herman di rumahnya sendiri—karena awalnya Sekret Himapura ada di Sarjana Blok C no. 37 (kalo gak salah… hihihi—suka ketawa sendiri. Kayaknya kami bertiga puas banget deh kalo sudah membuat Herman pias, karena idenya ditolak mentah-mentah. Kayaknya lagi Herman gak beruntung karena milih kadep-kadep seperti kami. Kadep-kadep yang selalu mencoba menang sendiri. (hihihi..) Dengan pengetahuan Herman yang minim soal organisasi bila dibandingkan dengan sepak terjang para kadepnya, makanya Herman kadang jadi bulan-bulanan kami. Untuk itu please forgive me, Man. Maaf nian. Hehehe.
Oh, iya mari membuka sejarah, diawal kepengurusan Himapura, yang jadi pucuk pimpinan adalah Herman Susanto.
Sekretaris umum: Neli Liana.
Bendahara: Putri Oktaria.
Kadep PSDM: Nurul Aisyiah.
Kadep kerohanian: Rahmi Dwi Hastuty (cuit.. cuit…).
Kadep Humas dan advokasi adalah Kenan Evran Mahdani.
Kadep pemuda, olahraga, dan kebudayaan: statusnya ‘BURONAN’. Nggak jelas kabar beritanya, nggak pernah nongol rapat, deesbe. Makanya dia jadi buronan. (hihihi).
Danus: Rudiansyah. Setelah reshuffle diganti jadi M. Wahyu. Huuu, emang pemerintah aja yang bisa reshuffle
Kestari: Wahyu Winarsih.
PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....
Saya masih sangat terkenang saat kami bergerilya mencari peserta untuk try out SMA/SMK yang diadakan Himapura. Saat itu di SMA 1 Buay Madang, Herman dan Kenan sibuk bertengkar sendiri meributkan siapa yang akan mengawas di SMA Buay Madang. Herman dengan segala argumentasinya begitu juga dengan Kenan. Rusuh deh pokoknya. Saat itu saya mendengar Slamat berkata pada saya, “Mbak kalau kami cak kak Herman samo Kak Kenan tadi, mungkin dak akan pernah lagi muncul di Himapura.” Saat itu saya hanya tersenyum. Saya tak tahu harus menjawab apa.
Mengenang rapat himapura yang keras. Penuh dengan marah-marahan. Nada-nada tinggi yang selalu keluar. Apalagi kami sering silang pendapat. Saya, Neli, Nurul, Herman dan Kenan tidak bisa dihitung seberapa sering keras kepalanya mempertahankan pendapat masing-masing. Jika sudah saling marah-marah, Azhari dkk kadang hanya diem. Takut mungkin. (hihihi). Hayo… Iyon, Ari, Riko, Deni, Dani, ngaku…!
Tapi di luar itu, setelah rapat kami sering ngumpul di depan rumah Herman, ngobrol biasa lagi. Ketawa lagi. Bercanda lagi. Tak ada dendam. Saat itu yang dipikiran kami—hasil share dengan Nurul, dan Neli—itu semua dilakukan demi Himapura, walaupun cara menyampaikannya agak menakutkan. Hahaha…
Saat rapat ya serius rapat, mau marah-marah kek, mau melotot-melotot kek, mau saling ejek atau apalah itu never mind. Tapi setelah rapat ditutup rasa dongkol, marah, sebel, merajuk, apa pun itu rasa yang gak mengenakkan selama rapat menguap begitu saja. Tak perlu berpikir sedemikian keras, karena saat tujuan sudah sama, maka tak aka nada hal yang cukup untuk membuatnya terpecah. Percayalah…
Karena sedikitnya anggota himapura diawal terbentuk hanya ada segelintir orang. Kak Dian, Kak Rio, Yuk Mega (tiga nama itu, hilang tak tahu dimana rimbanya. Kadang-kadang aja nongol itu pun dah kayak manggil Om Je, datang tak dijemput pulang tak diantar. PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....). Maaf kan saya kakak-kakak…. Herman, Kenan, Neli Nurul, Saya, Anja, Wahyu Winarsih, Puput, Wahyu Budianto, M. Wahyu, Mayang, Intan, siapa lagi ya??? Kemudian masuk Jumi, Ari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Pandu, Rizki, Aan, dekaka. Rudiansyah yang akhirnya harus vakum beberapa lama karena karena musibah kecelakaan itu. Welcome back to Himapura, Rudi….
Saat itu kami sering ngadain pertemuan-pertemuan gak penting, sekedar kumpul, makan seadanya eh ternyata dari sana ide-ide besar itu muncul. Selain itu kedekatan secara emosional antar personil himapura juga makin terasa. Benar-benar seperti sebuah keluarga. Wa bil khusus untuk Ari n Iyon yang bulan depan milad juga. Pengen makan-makan seperti dulu, Ri, Yon. Tapi kalian yang traktir kan milad. Hahaha... ngarep.com.
Hari ini saya mengenangnya. Mengenang saat-saat bersejarah itu. Saat terbentuknya himapura yang bahkan tak sempat terselamatkan foto-foto kenangan itu. (hiks.. hiks..).
Ah, kenapa jadi seserius ini? :)
And, the last… Jadi teringat dengan Herman Lagi. Saat mengatakan, “Pesan terakhir dari kakak…” hihihi. Tapi tenang, saya tak akan mengatakan pesan terakhir dari mbak kok. :D.
Untuk adik-adikku yang masih memegang jabatan di Himapura dan yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya. Jangan pusing dengan ulah para personil Himapura lainnya. Karena untuk menyentuh hati maka diperlukan hati pula. Kedekatan emosional itu penting, untuk membuat mereka yang baru kenal Himapura agar mampu mencintai Himapura pula.
Jangan lelah untuk berusaha memajukan Himapura. Percayalah jika mau terus berjalan maka akan kau temukan jalan terang itu. Semangat!!!
Terspesial untuk Wahyu Budiano, maafkan karena dengan emosional tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanmu memilih akan mengundurkan diri di percaturan Himapura. Yang ternyata keputusan gak mutu saya malah membuatmu sedikit down karena merasa tak disokong. Maaf… benar-benar maaf… Yang walaupun akhirnya gak jadi juga. Hahaha…
Spesial juga untuk azhari Husni, jangan menyerah, dek. Percayalah akan ada banyak tangan yang akan mengulurkan bantuan saat engkau terjatuh. Akan ada yang meluruskan saat engkau mulai melenceng. Mengutip dari Aris Ahmad Jay, “Bangkit dan jadilah bukti! Optimislah agar engkau jadi magnet kebaikan”. Motivasi itu juga untuk semua personil Himapura.
Untuk adek-adek angkatan 2009 saatnya kalian berjaya tahun ini. Buktikan bahwa kalian mampu berbuat lebih baik dari kami!
Sekali lagi, SELAMAT HARI LAHIR YANG KETIGA UNTUK HIMAPURA….
Kamis, 16 Desember 2010
“Hari Ini Kulepaskan Kau dari Hatiku”
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, fatamorgana dalam gurun pasir hatiku. Seseorang yang datang kemudian pergi dengan meninggalkan jejak. Kau tahu, sampai hari ini aku belum mampu menghapus jejakmu dengan sempurna. Terus melangkah maju tapi tetap tak mampu melepaskan harapan bodohku untuk bersamamu. Jika ada pemilihan predikat manusia bodoh, kurasa aku yang akan mendapatkan predikat rangking satu. Aku bertahan hanya dengan kemungkinan 0,1 % saja. Tapi, hari ini aku belajar untuk melupakanmu.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, satu nama yang terlukis jelas dalam prasasti hatiku. Satu nama yang selalu membuatku kagum akan kepribadiannya, kesetiaannya, perjuangannya dan pengorbanannya. Kau baik dimata teman-temanmu, ramah dan mudah berteman dengan orang. Jika kau tanya padaku sejak kapan aku merasakan getaran-getaran senandung lagu cinta, sejak aku mendengar namamu dan kebaikanmu dari teman baikmu yang selalu kau tolong tanpa meminta imbalan apapun. Aku merasakannya tanpa tahu seperti apa sosokmu, yang kutahu akhlakmu baik, dan yang terpenting agamamu pun tak diragukan. Aku menganggumimu jauh sebelum aku bertemu denganmu dan tak pernah berharap lebih. Namun takdir membukakan jalan untukku. Hari itu, kita bertemu.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, kau yang pernah memintaku menjadi penyempurna separuh dienmu, pendamping hidup, penentram jiwamu. Aku tak bermaksud menyakiti hati siapapun, aku hanya tak pandai mengutarakan isi hatiku dengan sempurna. Maaf, aku benar-benar tidak bisa membuatmu menunggguku, tanpa pernah ku tahu kapan mampu ku akhiri. Jiwaku hampir mati saat itu, badai, hujan, dan gelombang besar terus saja membuat laut hatiku terhempas. Maafkan aku, karena aku membuatmu sedih. Mungkin membuat goresan dalam hatimu yang putih. Maafkan aku karena tak bisa menjelaskan semua kesalahpahaman ini sebelum kau pergi menjauh dan menghilang, karena aku sedang berada dikota lain saat itu. Rasanya saat kau katakan takkan ada di kota saat aku pulang, hatiku menjerit ingin pulang dan bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya dan menjelaskan apa yang kurasa tapi dengan kebodohanku, aku memilih diam.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, bintang dalam gelapnya malamku. Diatas sajadah yang kubentang, disepertiga malam itu. Aku bertemu dengan-Nya, sang pemilik hatiku. Aku menangis, sedu sedan sendiri. Aku mengadukan hatiku yang resah karena rasa yang ada dalam hatiku kepadamu, meminta Allah berkenan memberikanku petunjuk dalam mengendalikan rasa cintaku agar tak melebihi cintaku kepada-NYA.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, satu nama yang berkata akan setia jika aku memintamu untuk menunggguku. Kulepaskan semua angan-angan indahku dan keyakinanku jika kau masih setia sampai saat ini walau aku tak memintamu untuk menungguku.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan kekecewaan dalam hatiku. Setelah kepergianmu, dalam diamku aku mempersiapkan segalanya. Segera menyelesaikan study, dan meminta restu kedua orang tuaku, dan setelah semuanya kudapatkan. Aku sudah terlambat.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan hujan yang terus turun dalam hatiku. Setelah aku mendengar kini kau telah memilih hati yang lain dan meletakkannya disampingmu selalu. Kau yang membawa hatiku pergi dengan kepergianmu. Kau yang kufikir tetap menjaga rasa itu. Rasa yang mungkin kini hanya aku yang memiliki. Akhirnya cinta yang kujaga, pecah seribu berserakan begitu saja.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan senyuman. Senyum tulus dari dasar hatiku. Semoga kau bahagia dan aku tak kan pernah datang dan mengabarkan hal ini padamu. Bahwa aku tak pernah melupakanmu dan kaulah yang selalu ada dalam ingatanku. Aku tak ingin membuatmu bimbang. Aku ingin kau setia padanya, menjaga cintamu. Bukankah kau berkata padaku, jika cinta tak harus memiliki dan jika cinta itu menyakiti hati sang kekasih kenapa harus egois untuk tetap menggenggamnya erat dalam dekapan cintamu. Biarkan cintamu bebas memilih, jika dia bahagia. Karena belum tentu jika bersamaku, cintaku bisa mendapatkan kebahagiaan.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, karena aku ingin melangkah maju menuju kebahagiaanku sendiri. Terimakasih, karena kini aku telah belajar tentang kesetiaan dan pengorbanan. Terimakasih, untuk telah mematahkan hatiku dengan sempurna, karena dengan begitu aku belajar untuk bangkit dari kekecewaan dan keterpurukan dan mampu mengendallikan diriku sendiri. Terimakasih, untuk sejenak kau hadirkan kisah cinta yang tak harus memiliki dalam hidupku. Dan sekarang saat kau baca tulisanku ini, tersenyumlah! Tersenyumlah karena sekarang kau tak perlu khawatir tentang keadaanku. Karena aku baik-baik saja!
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, sebab semua terjadi karena satu alasan. Dan aku yakin Allah akan menggantikanmu dengan yang lebih baik setelah ini.
(By: Rika Z. Putri)
Tulisan ini kudapatkan dari FB adik tingkat yang diikutkan dalam sebuah kompetisi penulisan. Dengan izin beliau pula, aku mem-posting-nya. Kenapa kupilih ini untuk posting-an blog? Sengaja, sebagai ajang muhasabah untukku dan untukmu. Mengoreksi lagi niat-niat yang mungkin terkotori. Niat melakukan sesuatu karena dia, bukan Dia.
“Sekali-kali batu karang yang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak yang membenturnya.”
(Birunya Langit Cinta, Azzura Dayana)
Dan, kini aku pun memilih untuk melepasmu. Membiarkanmu terbang jauh dari hatiku. Walaupun harus tertatih-tatih ‘kan kutata hati ini lagi. Biarlah begini…. Hingga aku benar-benar bisa melepasmu pergi. Membuang semua mimpi yang mungkin tak pernah terealisasi. Suatu saat aku akan sembuh dari lukaku ini. Pasti.
Semua yang pernah terjadi, biarlah menjadi sebuah histori. Semua rasa yang tak pernah terungkap secara nyata diantara kita. Walaupun kau dan aku sama-sama tahu apa yang kita rasa. Percayalah aku akan baik-baik saja. Kaupun juga akan baik-baik saja. Ini jalan terbaik untuk kita.
Aku tak inginkan pembenaran dari semua salahku. Hatiku memang bukanlah batu karang, tapi ia pun mampu untuk lebih tegar. Dan aku yakin semua akan berlalu seiring bergantinya sang waktu….
Mewangi Bunga Dunia (Tazakka)
Dunia…
Indah diciptakan menawan hati
Kadang menggoda
Jelita dipandang
Terasa harum semerbak,
Mewangi bunga dunia
Mencinta tiada akhirnya
Merindu menjadi pilu
Mendamba entah pastinya
Terlena hamba sembilu
Wahai diri berapa lama lagi?
Kau terus begini terus mengkhianati
Kapankah lagi engkau kan kembali?
Berserah diri setulus sepenuh hati..
Tundukkan pandangan mata dan hatiku
Dari gemerlap dunia yang palsu memperdaya jiwa.
Ku memohon kepada-Mu Ya Rabbi…
Selamatkanlah duniaku
Dan akhiratku yang pasti.
Jangan cintakan ku padanya duniawi
Ampuni dosa khilafku
Di masa laluku, kini dan nanti
Yui in Memoriam....

Tadi malam saat sedang asyik bercanda dengan Pipit dan Tika, ponselku berdering. Dua SMS masuk, yang pertama dari Ibu dan yang kedua dari Yuk Ary. Kedua-duanya mengabarkan berita yang sama. Kucingku, si Yui mati. Dianiaya macan akar. Bapak yang melihat langsung “pelaku penganiayaan” itu.
Mendengar berita itu sedih memang. Yui itu kucingku, karena yang memberi nama Yui adalah aku. Umurnya sekitar empat tahun (dalam hitungan manusia). Aku yang meminta untuk memberi nama pada salah satu anaknya Coreng. Dan, ia kuberi nama Yui. Padahal aku belum pernah melihat bagaimana rupanya. Yui lahir saat aku masih di Inderalaya.
Dia kucing terunik yang pernah kami punya. Kedua kaki depannya agak bengkok dan lebih pendek dari kaki belakang. Disitulah lucunya Yui. Cara berjalannya menyesuaikan dengan kaki-kakinya yang pendek.
Yui dengan gayanya yang seperti itu, sangat lucu untuk di foto. Dia objek pertama yang akan jadi bahan jeprat jepret kami.
Jika kucing lain mengeong minta makan. Kami kurang percaya. Karena kucing-kucing itu lapar nggak lapar maka mereka akan dengan semangat mengeong minta makan. Lain cerita jika Yui yang mengeong sambil memandang kami. Maka kami akan segera memberi makan kucing peliharaan kami. Yui itu tipe kucing yang jarang mengeong. Jika ia sudah ikut-ikutan mengeong, berarti dia sudah sangat lapar.
Yui bahkan nggak makan minum jika sudah tidur di kamar. Jika pagi hari ia masuk untuk tidur di kamar, maka sorenya baru keluar kamar. Itupun diusir oleh yang empunya kamar. Hehehe.
Yui, yang paling banyak mengundang perhatian saudara-saudara dan tamu yang berkunjung ke rumah, karena keanehannya. Yui yang selalu sembunyi jika di rumah sedang ramai teman-teman yang berkunjung.
Warna abu-abu, kuning dan hitam. Itu warna bulu Yui.

Yui dengan segala keunikan yang ada di dirinya. Menjadi berbeda dengan Mamang, Endut, Bella ataupun Cat. Aku tak pernah sesedih ini saat mendengar kabar Abang mati. Karena aku tahu Abang sudah lama sakit. Yui sehat. Sangat sehat. Dan juga pemberani. Hingga kami menjulukinya kepala suku kucing.
Saat kembali ke Inderalaya ba’da ied adha, aku tak sempat berpamitan padanya. Kebiasaanku sebelum pulang adalah menyempatkan diri memeluk kucingku satu persatu. Yang ketemu hanya Endut, Cat dan Bella. Yui nggak ada di rumaa, biasanya jam segitu Yui sedang main ke tempat Edi. Numpang tidur dan makan di rumah Edi. Hehehe.
Yui mungkin dikuburkan pagi ini. Selamat jalan, sayang…. Tidurlah dengan tenang.
Percayalah, Yui akan selalu ada dihati ini. Kau bukan hanya sekedar indah. Kau tak akan terganti. Aku mengikhlaskanmu pergi. Ini yang terbaik untukmu. Aku tak akan tega melihatmu kesakitan menahan perih karena luka-luka yang kau derita. Hari ini aku melepasmu pergi…. Walaupun tak kulihat wajah itu terakhir kali.
Pergilah…. Ini memang yang terbaik.
Aku tak akan menyalahkan siapa-siapa. Ini salah satu bagian ujian keikhlasan untukku. Karena setiap yang bernyawa tentu akan mati. innaalillaahi wa innaailaihi raajiuun. Selamat jalan, cinta….
Hari ini kulepas kau pergi. Pahit memang. Sedih. Iya. Masa indah bersamamu hanya akan tinggal kenangan. Foto-fotomu akan jadi pengobat rindu yang tak tersampaikan. Kita berada di dunia yang berbeda sekarang.
Selamat jalan, cinta… Yui….

(maaf kalau agak berlebihan.... ^_^)
Selasa, 14 Desember 2010
Skenario Indah Allah untukku
“Allah menyayangimu dengan cara-Nya. Kadang engkau merasa hidup tak adil. Engkau marah karena keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu. Engkau kecewa atas apa yang terjadi dalam hidup. Engkau kadang mempertanyakan ke-Maha Agungan-Nya karena dunia tidak mengindahkanmu. Tapi percayalah teman, Allah sayang padamu. Dia mencintaimu dengan cara-Nya.”
Saya lupa tepatnya kapan SMS itu dikirim oleh teman saya. Harus diakui bahwa kadang kala saya juga mempertanyakan ke-Mahaan-Nya. Saya marah, sedih, kecewa karena merasa diperlakukan tak adil. Merasa layak untuk diperlakukan lebih dari itu. Astagfirullah… betapa saya telah berlaku ujub. Ya Allah, ampuni hamba…
Padahal nikmat Allah begitu banyak dicurahkan kepada saya. Dan saya jarang mensyukurinya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
Allah memang menyayangi dengan cara-Nya. Saya mencoba mengingat kembali hal-hal yang telah terjadi. Ternyata skenario Allah untuk hidup saya itu indah. Sangat indah malah.
Saya memiliki keluarga yang luar biasa. Pertama kali memutuskan untuk mengenakan jilbab, tidak ada nada protes dari keluarga. Sedangkan teman saya ada yang ditentang keluarganya untuk memakai jilbab. Hingga saat kuliah, saya bergabung di tarbiyah, dan memutuskan untuk memperlebar jilbab saya. Keluarga saya juga tidak menentang.
Keluarga saya--terutama Ibu--yang menjadi garda terdepan dalam melindungi saya. Ya, melindungi. Melindungi dari serbuan keluarga besar yang menganggap aneh jilbab saya. Melindungi saya dari cercaan saudara saya yang lain karena menganggap jilbab saya kelebaran. (Padahal jika mereka memperhatikan lebih detail, maka mereka akan menemukan ada akhwat lain yang jilbabnya jauh lebih panjang dan lebar dari saya. Bahkan jilbab saya ini belum seberapa jika dibandingkan dengan jilbab mereka, hehehe). Serbuan dari berbagai pihak ini pernah membuat saya down dan hampir memperpendek jilbab saya. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Hehehe.
Saya memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa pula. Sahabat yang menguatkan kala saya rapuh. Membantu berdiri kala saya jatuh. Saat saya butuh penguatan ada-ada saja yang mengirimi saya SMS tausiyah itu. Hampir selalu pas dengan kondisi saya saat itu. Alhamdulillah… Segala puji untuk-Mu, Ya Rabb….
“Tidaklah seorang hamba diberikan karunia yang paling baik keislamannya, melebihi saudara yang shalih. Bila dia lupa diingatkannya. Bila dalam kondisi sadar dengan ketaatan ia akan membantunya. Bila salah seorang kalian merasakan kasih sayang dari saudaranya, maka peganglah ia.” (Umar bin Khattab).
Ok, back to skenario indah itu. Maka tak ada lagi yang layak saya katakan selain syukur. Saya menemukan begitu banyak hal yang awalnya telah direncanakan, endingnya berbeda atau cara berlakunya yang berbeda. Walaupun ternyata itulah yang lebih saya butuhkan. Bahwa itulah yang menjadi pelajaran untuk saya.
Seperti kemarin saat itu selepas shalat zuhur di mushala perpustakaan pusat, saya melihat seseorang yang dari belakang mirip sahabat saya. Kenapa dari belakang? Karena posisinya saat itu sedang duduk membelakangi saya. Maka saya dekati. Ternyata benar sahabat saya.
Kami ngobrol sebentar dan memutuskan untuk makan siang di kantin kampus. Soalnya perut saya sudah “unjuk rasa” sejak tadi. Saya menunggunya shalat dulu, karena dia belum shalat. Setelah shalat kami naik satu lantai, ke ruang sirkulasi. Karena sahabat saya itu hendak meminjam buku, namun kartu perpus-nya ketinggalan. Hingga dia—karena begitu membutuhkan buku itu secepatnya—meminjam buku itu menggunakan kartu saya. Kebetulan saya memang tidak ada pinjaman di sana.
Nah, masalah terjadi saat hendak meminjam buku. Karena ternyata saya masih ada pinjaman. Padahal seingat saya semua buku yang dipinjam atas nama saya sudah semua dikembalikan—walaupun masih kena denda juga karena terlambat mengembalikan buku. Hehehe. Karena sudah hampir sebulan buku itu belum dikembalikan maka saya tidak diizinkan meminjam buku. O ow…
Di jalan menuju kantin, saya menelepon sahabat saya yang lainnya, yang kemarin meminjam buku menggunakan kartu saya. Katanya sudah semua dikembalikan. Bahkan sudah bayar denda pula. Nah lho, nggak mungkin sahabat saya ini berbohong. Kalau memang sudah dikembalikan kenapa kartu dari buku itu masih juga “nyangkut” di kartu saya? Siapa yang salah sebenarnya? Solusinya? Saya bingung. Akhirnya kami memutuskan untuk mengurusi masalah ini besok harinya.
Salah saya adalah tidak mengembalikan buku itu secara langsung. Saya karena ada satu dan lain hal memberikan kartu itu kepada sahabat saya, memintanya mengembalikan sendiri buku yang ia pinjam atas nama saya tersebut. Kemudian ia menyerahkan kartu itu. Selesai saya pikir. Karena jelas buku itu sudah dikembalikan. Kok malah jadi kayak gini??? Saya tambah bingung.
Besok harinya, setelah menyusun strategi—walaupun nggak yakin strategi itu berhasil—kami ke ruang sirkulasi. Strateginya adalah mencari lebih dahulu buku yang kemarin dipinjam. Logikanya jika kartu itu masih ada di kartu yang disimpan petugas perpus, maka tidak mungkin ada yang meminjam. Karena jelas kartunya tidak ada.
Lama kemudian sahabat saya menemukan buku itu. Ternyata kartunya ada. Kami berdua lemas. Bagaimana ini? sahabat saya berkata bahwa ia sudah searching, ternyata perpus hanya memiliki dua buku dengan judul ini, karena buku lama. Satunya yang kami pegang, lalu yang satunya lagi? Dipinjam orang lain?
Akhirnya masih ditengah kebingungan, sahabat saya menemukan buku yang pernah ia pinjam. Setelah meneliti buku itu dari kartu peminjaman, kami menemukan namanya. Setelah usut punya usut, meneliti lebih lanjut. Menganalisis lebih runut. (Kalau ingin diceritakan secara mendetail bakal panjang). Maka kami menyimpulkan kemungkinan itu kesalahan petugas perpus. Petugasnya lupa untuk mengembalikan kartu di kartu perpus saya ke buku tersebut. Karena pada hari itu ramai pengunjung perpus yang hendak mengembalikan buku.
Walaupun dengan ketidakyakinan, sahabat saya mencoba menghadap petugas dengan dalih hendak meminjam buku. Buku yang bermasalah itu. Walaupun kami jauh lebih tidak siap jika akhirnya didakwa dengan pasal penghilangan buku. Hahaha. Resiko mendapatkan cap buruk plus kena marah petugas. Waduh…. Pasrah. Hanya itu yang ada dalam pikiran kami saat itu. Kalau diminta ganti, yah terpaksa harus ganti. Walaupun itu judulnya “menzhalimi” kami. Jelas-jelas bukunya sudah dikembalikan kok.
Semula kami mengianggapnya begitu menakutkan, ternyata begitu mudah. Kakak petugas perpus begitu mudah diyakinkan dengan argumentasi yang memang telah lebih dahulu didiskusikan. Karena kami memang sebelumnya diskusi untuk meyakinkan bahwa itu bukunya! Tidak ada perang mulut. Perang argumentasi. Apalagi sampai pertumpahan darah, saudara-saudara. Halah, lebay banget!!
Rasa-rasanya kalau nggak malu, mau deh berdua jingkrak-jingkrakan. Saking senengnya. Hohoho. J. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Saya teringat kejadian sebelum idul adha. Saat itu saya sudah memutuskan untuk pulang ke rumah. Rencana sudah disusun dengan matang. Saya akan pulang hari jumat. Saat ibu menelepon dengan yakin saya mengatakan akan pulang hari jumat.
Hari H-nya. Saya terbangun pukul tiga, tepatnya tiga lewat berapa saya lupa. Saat itu hujan deras disertai petir. Bikin ngeri. Doa yang saya lantunkan setelah shalat seperti ini, “Ya Allah, jika Engkau ridhai perjalananku hari ini, tolong hentikan hujan ini.”
Hujannya memang reda tidak lama kemudian. Eh, menjelang subuh hujannya turun, lebih deras lagi. Saya hopeless. Wahhh, jangan-jangan nggak diridhoi. Jadi lemes. Jangan-jangan nggak diizinin pulang nih… hiks.. hiks.. T_T
Akhirnya doa saya bertambah menjadi, “Ya Allah, jika Engkau ridha maka tolong redakan hujan ini jam enam nanti.” Mengapa jam enam? Karena jam itu maksimal saya berangkat ke stasiun kertapati. Setengah enam alias 06.30, saya menatap hujan dari jendela. Masih deras plus mati lampu. Hrap-harap cemas. Mencoba menguatkan hati jika ternyata hujan masih juga deras jam enam nanti. Dan itu pertanda saya nggak bisa pulang kampung alias mulang tiuh.
Saya memutuskan untuk mandi dan mencuci baju. Walaupun dengan resiko tidak jadi berangkat. Mencoba tetap optimis. Ditambah dengan menyenandungkan doa itu berkali-kali. Hehehe. Hari sudah terang, hampir jam enam. Hujan masih turun. Saya makin kebat-kebit. Jadi nggak, jadi nggak. Pengen nangis…. Ibu, anakmu ini kayaknya nggak jadi pulang hari ini….
Alhamdulillah ternyata hujan reda, saudara-saudara! Jam enam, lewat dikitlah. Akhirnya saya berangkat. “Martapura, aku datang. Hohohoho” Berangkat dengan semangat 45. Walau akhirnya saya ternganga saat hendak melewati jalanan depan kompleks. Ada kubangan air di jalan, sekitar 3 meter jaraknya. Pagi itu juga tidak ada becak yang bisa diharapkan untuk menembus kubangan air setinggi mata kaki itu. Jalan satu-satunya adalah melewatinya dengan kaki sendiri. Dengan resiko kaos kaki, rok, dan sandal saya basah.
Seorang dari sekian bapak-bapak yang berdiri di dekat kubangan itu menyarankan saya untuk melepas kaos kaki dan sandal. Intinya saya harus nyeker. Dilema. Nggak mungin dong saya lepas kaos kaki sedangkan banyak bapak-bapak di sana. Kemudian saya memilih nekat. Maju terus. Bismillah… semoga Allah ridha dengan yang saya lakukan ini. Saya nggak mau aurat saya kelihatan orang lain. Toh saya bawa kaos kaki dua, dan sandal saya ini anti air. Hahaha.
Gerbang depan kompleks. Saya berdiri menunggu travel atau bis yang akan ke Palembang. Namun apa hendak dikata tidak ada satupun dari dua mobil itu lewat. Padahal kaki saya sudah mulai kedinginan. Ganti kaos kaki di depan gerbang. Jelas nggak mungkin. Sama aja bunuh diri.
Alternatif satu-satunya adalah ganti di kamar mandi stasiun. Sangat tidak memungkinkan untuk saya berganti kaos kaki di dalam travel atau bis. Ya, kan? Berarti saya harus bertahan dengan kaos kaki basah ini sekitar satu jam lagi. Itu hitungan paling cepat, bisa lebih lama lagi. Karena saya harus antri tiket kereta api. Padahal kepala saya sudah nyut-nyutan, dan perut saya sudah bernyanyi sejak tadi. Nggak apa-apa deh. Fight! Fight! Fight!
Eh, ada mobil lemabang lewat. Berhenti nggak jauh dari tempat saya berdiri. Akhirnya saya naik mobil itu. Duduk paling belakang. Sendirian pula. Penumpang satunya duduk disamping supir. Saya pun bisa ganti kaos kaki. Alhamdulillah.
Tiba di stasiun, para calo sibuk menawarkan tiket. Pilih jalur resmi aja ah! Eh, ada adik tingkat, salah satu anggota Himapura yang juga hendak pulang. Dia bersama dengan temannya dan bersedia mengantrikan tiket. Alhamdulillah, saya memang tidak sanggup mengantri karena kepala saya pusing. Banget. Plus laperrrrr.
Dapet tiket, nyari gerbong, nyari tempat duduk. Lama kemudian, Berangkat! Menuju bumi sebiduk sehaluan….
Awalnya saya nggak yakin bisa pulang karena hujan deras. Kemudian Allah mengabulkan doa saya. Banjir yang menghalangi jalanan kompleks. Kaos kaki basah, hingga bisa ganti kaos kaki di mobil. Ada yang bersedia mengantrikan tiket. Wah, akhirnya saya bisa pulang. Hehehe.
Berulang kali skenario Allah yang bermain. Skenario indah untuk hidup saya. Walaupun awalnya sering saya bertanya-tanya apa hikmah dibalik semua ini. Akhirnya saya menemukan hikmahnya. Menemukan pelajaran yang bisa diambil untuk hidup saya. Menambah wawasan saya. Semoga saya makin bijak dalam menyikapi hidup ini. Semoga kalian juga bisa mengambil pelajaran dari semua hal yang terjadi dalam hidup ini.
Percayalah seindah-indahnya skenario yang dibuat manusia, lebih indah skenario Allah. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Jelas Allah yang paling tahu.
Allahu a’lam bish shawab…