Sabtu, 07 Juli 2012
Dakwah ini mengajariku banyak hal....
Percakapan yang lumayan panjang malam itu dengan seorang sahabat, membuatku mau tak mau mengingat kembali awal mula perjalanan panjang ini. Saat itu setelah percakapan kami berakhir, ia—via SMS--masih sempat menyuruhku beristirahat. Tapi ternyata tubuh ini masih menyimpan resahnya sendiri. Alih-alih istirahat saya malah menulis. Walau malam sudah mencapai separuhnya tapi mata ini tak jua bisa diajak kompromi.
Orang tua saya memberi nama Rahmi Dwi Hastuti. Tapi ternyata orang-orang di catatan sipil kreatif sekali. Saya yang waktu SD bangga dengan tiga akhiran i di belakang nama saya harus merelakan kata terakhir dari nama saya berakhiran y. Sempat protes juga pada Ibu kenapa saya yang lahir di bulan Mei harus menuliskan Juni di bulan lahir saya untuk pengisian biodata. Kesalahan akta kelahiran yang dibuat di capil. Sekarang jika ada yang bertanya tanggal lahir dengan iseng saya malah balik nanya, “Mau yang asli apa yang palsu?” Yang bertanya bengong mendengar pertanyaan saya. Hehe...
Saya lahir dengan embel-embel suku komering. Suku yang bagi banyak orang di Indonesia ini lekat dengan masalah kriminal. Banyak preman-preman di kota-kota besar dengan suku ini. Sisi positifnya jika bepergian keluar Sumatera Selatan, menggunakan bahasa Palembang atau bahasa komering biasanya aman dari aksi kriminal. Hihihi... Negatifnya orang-orang takut dengan kita, disangkanya bagian dari kawanan kriminal itu. Hadeeeh. Yah ada positif negatifnyalah.
Saya sempat menahan tawa dan terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri, melihat seorang teman dalam perjalanan menuju Lampung. Saat itu kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Martapura. Saat berhenti itu masuklah pengamen. Mendengar mereka bernyanyi sontak teman saya itu menarik kedua tangannya, dimasukkan ke dalam jilbab. Ia secara refleks menutup kedua telinganya dengan tangan. Setelah pengamen itu pergi, sambil geleng-geleng teman saya bilang, “Aih parah... nyanyi apa ngajak berantem sih pengamen tadi?” Tawa saya langsung meledak saat itu juga. Dengan senyum dikulum saya kemudian berkomentar, “Ya beginilah Martapura, yang kalian kira marah itu, sebenarnya mereka hanya ngobrol.”
Itulah mengapa saat pertama kali diterima di Unsri, saya sempat mengalami syok juga. Teman-teman dan kakak tingkat sibuk protes dan mengkritik nada suara saya yang katanya ‘terlalu tinggi’. Yang buat saya heran, kok teman-teman di Martapura gak ada yang protes dengan yang ‘terlalu tinggi’ itu. Seorang sahabat dengan bijak mengatakan, “Beda Mi. Di sana mungkin nada yang seperti itu dianggap biasa. Tapi di sini jadi luar biasa.” Dalam hati saya bilang, “Bisa jadi...”
Seorang teman yang juga dari Martapura pernah bilang begini, “Nah wong Martapura ni apalagi komering ga marah aja dikira marah. Apalagi marah jangan-jangan dikira mau bunuh orang.” Saya cekikikan mendengar komennya.
Bukan saya ingin membela suku sendiri sih. Saya lahir dan besar di Martapura. Baru merantau saat masuk kuliah. Notabenenya delapan belas tahun saya habiskan di Martapura. Kultur yang seperti itu sudah seperti mengakar di diri saya. Dan ternyata gak cuma saya yang seperti itu. Tengoklah saat anggota Himpunan Mahasiswa Martapura berkumpul kadang kala yang datang baru 3 orang tapi suaranya sudah hampir mencapai 10 orang. :)
Kadang kala saat ingin memperjelas sesuatu karena ada beberapa teman yang tak mendengar, saya mengeraskan suara. Teman saya langsung komen, “Iya tau. Gak usah marah-marah kale.” Jreeeeenggggg... saya langsung diem. Dalam hati saya nih, “Yah... salah lagi. Padahal niatnya mau bantu.” T.T
Saya jadi berpikir apa saya sebegitu buruknya? Akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri. Berarti masih ada dalam diri yang membuat saudara-saudara saya ini tak nyaman untuk berdekatan. Masih banyak perbuatan dan lisan ini yang menyakiti mereka, dan ternyata itu saya lakukan entah dengan sengaja atau pun tidak disengaja. Untuk semua yang pernah tersakiti hatinya oleh saya, saya memohon kemaafan dari kalian. :)
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Sejak saya bergabung di jalan dakwah ini membuat saya banyak berubah. Jika ditilik dari awal mula bergabung hingga sekarang, saya tak pernah menyangka akan berubah sampai sejauh ini. Perubahan itu signifikan sekali.
Pertama kali dapat penilaian dari orang lain hasilnya negatif. Terlalu banyak buruknya dari pada baiknya. Kertas hasil penilaian mereka yang banyak nilai merahnya untuk saya itu masih saya simpan hingga dua tahun yang lalu. Masih suka saya baca-baca untuk muhasabah. Dua tahun lalu seorang teman yang meminjam catatan saya menghilangkannya.
Dari itu mencoba introspeksi lagi, oh ternyata saya begini. Dan hal yang sampai sekarang masih sulit saya kendalikan adalah nada bicara saya. Masih ‘terlalu tinggi’ untuk ukuran saudara-saudara saya itu. Jika saya pulang ke Martapura dan naik angkot, nada suara saya yang sekarang gak cukup untuk bikin sopir angkot menghentikan laju mobilnya, alias gak denger saya minta berhenti. Atau paling tidak membuat Ibu harus mengulang panggilannya sekali lagi, karena tak mendengar saya menjawab panggilannya. Hehe...
Pernah terlintas dalam benak saya untuk jadi seperti mbak-mbak senior saya di kampus. Anggun dengan jilbabnya, lembut dan tampak tenang. Saya pernah mencoba seperti itu. Hasilnya saya merasa seperti membohongi diri sendiri. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Ini bukan wujud pembelaan diri karena tak mau berubah kearah yang lebih baik. Bukan. Sama sekali bukan. Saya hanya merasa itu bukan saya.
Akhirnya saya bukan berubah untuk jadi seperti mbak itu atau mbak ini. Saya mencoba untuk jadi saya sendiri, dengan catatan ya sisi negatif saya dihilangkan atau paling tidak diminimalisir. Saya ketawa sendiri mengingat sebuah buku yang pernah saya baca. Pengennya ngomong kayak gitu. Cuma kesannya kok kayak gak mau berubah ya. Hehe... Nih saya kutip tulisannya—dengan editan versi saya lho ini. “Ami ya begini ini, nerima syukur, nggak terima kebangetan.” #korban buku Parcel Mini La Tansa. Hihihi...
Kebersamaan ini mengajari saya banyak hal. Mengajari saya untuk lebih peka, lebih peduli dan lebih memahami. Mengajari saya meminta maaf atas kesalahan yang dibuat. Mengajari memaafkan saudara yang bersalah karena mereka bukan malaikat yang gak pernah salah. Kebersamaan ini mengajari saya mempelajari karakteristik mereka satu per satu, belajar dari mereka walaupun mereka tanpa sadar ngajarinnya ke saya. Mengajari untuk setiap hari berproses menjadi lebih baik lagi. Walau pun karakter saya yang galak itu agak sulit saya ubah. Mau bantu saya untuk berubah? Hehehe...
Saya terkenang dengan kisah antara Abu Dzar dan Bilal bin Rabah. Seperti yang dituliskan oleh Salim A. Fillah, di buku Dalam Dekapan Ukhuwah. “Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditunjukkan ke wajah kita seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw kepada Abu Dzar. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Saya sadar masih banyak kekurangan saya. Mungkin masih banyak saudara-saudara di kehidupan ini yang belum mendapatkan perlakuan yang selayaknya dari saya. Mungkin masih banyak yang mengeluhkan sikap dan lisan saya.
Saya sadari itu. Dan saya membayangkan, pun jika Rasulullah saw di depan saya sekarang, pasti lisan yang mulia itu juga akan berucap hal yang sama. Sama seperti ucapan yang beliau tujukan untuk Abu Dzar. “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Untuk saudara-saudaraku yang sempat bahkan sering terlukai hatinya karena lisan dan perbuatan saya, tolong maafkan saya. ^_^
Hijau 12, 01.25
Rahmi Dwi Hastuty
Selasa, 26 April 2011
Milad PKS ke 13 di Palembang
“Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Rute: DPRD sampai Benteng Kuto Besak. Bawa kresek, snack dan minum. Targetan kita sepuluh ribu massa. Tolong bantu sebarkan!”
Bingung. Itu yang saya rasakan. Soal bantu nyebarin sih mudah. Lha ini yang ngasih berita nggak komplit kok. Gimana coba mau nyebarin ke yang lain? Akhirnya daripada bingung saya balas sms teman saya itu. “W3. Acaranya mulai jam berapa? Trus kalo yang dari Indralaya kumpul dimana n jam berapa?”
Gak lama kemudian sms balasan dari dia masuk. Nah ini jawabannya, “Wah, ana kurang tau juga ukh. Ntar ana tanya2 lagi.” Gubrak!!!
Kamis, 21 April 2011. Teman satu departemen dengan saya di Komunitas Generasi Cendekia Ogan Ilir sms. “Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Kumpul di Trifika jam 7. Bawa kresek, minum dan snack. Sebarkan ke kader yang lain dan binaan. Jzkllh.”
Saat itu dipikiran saya berangkat ke Palembangnya jam 7 dari Indralaya. Ok, maka sms itu saya forward ke teman-teman sesama kader.
Sabtu, 23 April 2011. Pas syuro Student Expo KGC dibahas lagi acara longmarch itu. Eh saya malah kaget. Yang lain bilang kalo kumpul di Trifika jam 5.30 bukan jam 7. Lha udah telanjur saya kirim tuh sms ke yang lain. Akhirnya diambil kesimpulan kalo kumpulnya jam 5.30.
Saya berdoa dalam hati semoga nggak ujan malam harinya. Kalo ujan, bakal kesulitan nih keluar dari komplek perumahan tempat saya kos. Jam segitu mana ada mamang becak (oh ya kalo di Sum-sel gak ada yang nyebut abang becak tapi mamang becak. Hehehe…). Cara satu-satunya kalo jalan tergenang air setinggi mata kaki ya jalan kaki.
Nyampe rumah ada sms masuk. Dari teman satu lq lagi. Isinya ya hampir sama dengan sms-sms sebelumnya. Satu beritanya. “Asw. Ahad, 24 April 2011 akan diadakan longmarch dalam rangka milad PKS ke 13. Kumpul di Trifika jam 6.30. Bawa kresek, minum dan snack. Rute: DPRD-Benteng Kuto Besak.”
Lho kok malah lain-lain sih? Ada yang sms jam 7, tadi 5.30 eh sekarang 6.30. Walah kok malah jadi gak jelas gini ya? Jadi tambah bingung.
Akhirnya saya putuskan untuk ambil jam 5.30 aja. Dari pada saya ditinggal yang lain karena datengnya telat, ya kan? :)
Ahad, 24 April 2011. Jam 5.30 keluar dari rumah. Saya udah was-was tuh. Diminta kumpul jam segitu eh malah baru keluar rumah jam segitu. Pasrah aja kalo ditinggal. Karena semalam hujan saya harus mengambil jalan memutar dan itu artinya memperlama waktu tempuh dari kos ke Trifika.
Nyampe di Trifika. Celingak celinguk. Kok sepi? Wah beneran ditinggal nih. Udah siap-siap mo nangis... Nelpon temen eh katanya mereka baru berangkat dari kos. Ha? Jadi? Saya the first nih?
Pas liat-liat ke pelataran Trifika eh ada satu ikhwan lagi duduk sambil jagain dua dus air mineral. Wah jadi saya cuma berdua dengan ikhwan itu? Yah… gak seru ih.
Gak lama Nani n Isti dateng. Yes, ada temen. Kita yang pada kelaparan akhirnya makan pisang goreng yang dibawa Nani n Isti. Gak lama kemudian dateng Siska. Berempat deh jadinya. Kemudian mulai berdatangan yang lain. Tapi kok ikhwan semua? Masa akhwatnya cuma kita berempat?
Jam 7 kita berangkat. Palembang kami datang….
Nyampe DPRD Sum-Sel. Kepanduan udah pada pasang badan di jalan. Ngatur lalu lintas maksudnya. Turun dari bus, langsung diminta masuk barisan. Saya pikir baru sedikit yang dateng. Eh ternyata udah banyak banget cuma gak keliatan aja. Rombongannya udah mulai jalan. Kami langsung gabung n ikutan jalan bareng.
Longmarch-nya start dari DPRD Sumsel lewat jalan Kapten A. Rifai sampe di perempatan Sudirman ke kanan. Terus aja nyampe Bundaran Air Mancur alias BAM belok ke kanan masuk jalan Merdeka, dekat Kantor Pos belok kiri ke arah RS AK Gani. Lurus aja nyampe deh kita di BKB alias Benteng Kuto Besak.
Dekat perempatan Sudirman para awak kepanduan dah sibuk lari-lari. Saya sih ngeh kenapa mereka lari-larian. Perempatan Sudirman kan terkenal dengan jalur sibuk di Palembang. Bentar lagi, nyampe dekat perempatan itu kita pasti diminta lari juga. Biar macetnya gak lama. Tuh kan bener diminta lari. Yuk, lariiiii….!
Nyebrang di perempatan eh udah ada yang lampu ijo tuh. Tapi bukan giliran kita. Karena diminta lari n liat yang laen pada lari, ikutan lari juga ah… Heran… Kok gak ada kendaraan lewat ya? Yang di jalur kita berenti. Di depan jalur kita juga berenti. Di sebelah kiri sama aja, berenti juga. Pas nengok ke kanan walah pantes aja gak ada kendaraan yang lewat, lha wong kepanduannya bikin border di depan kendaraan-kendaraan itu.
Kenapa kita diminta bawa kantong kresek? Ya jawabannya gak lain gak bukan buat mungutin sampah di jalan. Sepanjang jalan siapa yang nemuin sampah harus dipungut n dimasukin ke kresek masing-masing. Karena kita bagian belakang gak kebagian deh sampahnya. Dah diambilin semua sama yang depan. Sampe ketua DPD se-Sumsel n anggota dewan dari PKS pada ikutan mungut sampah di jalan. Mantap ustad…!! Like this! :)
Nyampe di BKB, udah ada musik-musik penyemangat diputer. Langsung dikasih minum. Wah…
Ada orasi yang intinya jangan mau dipecahbelah. Kalo emang ada berita yang nggak sedap tentang PKS harus cek n ricek dulu kebenaran. Jangan langsung telen mentah-mentah aja beritanya. Setuju ustad!! Foto bareng seluruh ketua DPD PKS se-Sumsel plus jajaran DPW PKS n anggota dewan dari PKS. Hadir semua lho ketua DPD-nya pas diabsen satu-satu oleh MC-nya. Subhanallah…
Kader dan simpatisan yang dateng pas acara banyak banget. Yang saya liat mulai dari anak-anak yang masih naek kereta dorong, ada juga yang naek sepeda mini, ada yang lelap tidur di gendongan abinya, yang nongkrong di pundak abinya juga ada, plus ada juga yang gandengan dengan umi atau abinya. Remaja hingga orang dewasa pada turun ke jalan. Bahkan seorang teman yang tanggal 1 Mei nanti akan menikah masih ikut berpartisipasi. Hehehe…
Juga ada dari berbagai daerah di Sum-sel. Dari OKU Timur (hahaha, daerah sendiri jadi disebut pertama kali), OKU, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, Lubuk Linggau, Empat Lawang, Muba, Banyuasin, OKI, OI, Prabumulih, Muara Enim dan tuan rumah Palembang. Yang saya pikirin itu dari Linggau, berangkat jam berapa ya mereka? Jarak Palembang-Linggau kan ditempuh 9-10 jam. Dua jempol deh untuk kader Linggau, Pagar Alam, Lahat, Empat Lawang, dan OKU Selatan. Yang jarak tempuhnya mulai dari 6-10 jam. Salut deh! :)
Setelah orasi ada acara membersihkan sungai Musi. Nah yang ini dilakukan para ‘pembesar’ PKS. Hmm… pembesar yang merakyat. Selagi para anggota dewan dari PKS, DPW dan DPD membersihkan eceng gondok yang ada di Sungai Musi kita-kita yang kader disuguhi pagelaran nasyid mulai dari Muslim Generation hingga persembahan nasyid dari anak-anak kader.
Kalo menurut saya alasan kenapa pembersihan Sungai Musi hanya dilakukan oleh para pembesar PKS adalah:
1. Membuktikan ke masyarakat Sumsel bahwa PKS itu dekat dengan rakyat dan gak gengsian. Mentang-mentang udah jadi pejabat terus gak mau turun langsung, gak mau kotor. Nah PKS mau jungkir-balikkan fakta itu. Melalui acara ini keliatan dong kalo pembesar dan anggota dewan dari PKS gak segan mungut sampah langsung n nenteng-nenteng kresek isi sampah.
2. Untuk pembersihan Sungai Musi mungkin nih—mungkin lho ya—kalo semua kader mau dikerahkan untuk bersihin Sungai Musi tentu aja getek-nya—getek itu kalo di Palembang sejenis perahu kecil--gak bakalan muat. Getek yang ada di sekitaran Musi berapa lha kader yang dateng berapa. Hehehe..
Cuaca juga mendukung. Matahari malah terus sembunyi di balik awan. Baru menampakkan dirinya beberapa saat sebelum acara Milad PKS selesai. Alhamdulillah… bener-bener dimudahkan Allah…
Melalui acara ini pula saya bertemu dengan para ‘senior’ yang udah lama banget gak ketemu. Ada Mbak Nana, Mbak Mustika dan Kak Dadang dari Rumah Zakat, ada Mbak Ummi dan Evi dari FLP Sum-sel, Kak Adi, Kak Andra, Mbak Didit dari Infocus Nadwah.
Terkhusus untuk Mbak Nana syukron sudah memperlihatkan foto-foto milad PKS di GBK kemarin. Subhanallah… Alhamdulillah bisa ikut meramaikan acara PKS di Palembang. :)
Semoga di hari jadinya ke 13 ini PKS makin solid. Mengutip yang dikatakan Ustad… kalo PKS akan disebut kuat manakala ia mampu melewati puting beliung fitnah yang datang. Amin Ya Rabb…
Ah iya saya jadi teringat dengan training ESQ dua tahun silam yang diadakan saat malam takbiran idul adha. Saat itu hampir seluruh Sum-sel hujan. Hanya Palembang yang cerah, menjelang tengah malam hujan mengguyur kota Palembang. Saat training dimulai dengan takbir, Allah menunjukkan kuasanya. Saat itu disebelah timur awan membentuk tulisan Allah dalam ukuran besar. Belum selesai takjub dan gemetar itu, dari sebelah barat muncul awan yang juga bertuliskan Allah dalam ukuran lebih kecil.
Awan bertuliskan Allah itu memudar berganti dengan tulisan Muhammad. Langit Palembang malam itu berhiaskan tulisan Allah dan Muhammad. Setelah itu berganti menjadi peta Sumatera, kemudian Jawa, Kalimantan, Sulawesi terakhir Papua. Allahu akbar!!
Kak Ridwan trainer ESQ malam itu ditengah isak tangisnya berkata, “Saya merasa tak pantas lagi untuk mentraining kalian malam ini. Saya merasa tak pantas. Karena Allah sudah mentraining kalian secara langsung. Allah. Subhanallah. Allahu akbar…. Betapa kami kecil di hadapan-Mu…”
Dan kejadian malam itu menginspirasi kami. Bahwa harapan itu masih ada, dan insya Allah kebangkitan islam, kebangkitan dakwah ini akan kami mulai dari Sumatera Selatan. Bismillah…
Semangat! Semangat! Semangat jadikan PKS tiga besar di 2014!!
Kamis, 24 Februari 2011
Selamat Hari Lahir Untuk Himapuraku Tercinta....
Untuk ukuran anak kecil mungkin kau masih sangat lucu-lucunya. Menggemaskan. Ya, tak terasa usiamu menginjak tiga tahun. Masih muda memang. Namun kau mampu buktikan bahwa kau bersama kami mampu menatap dunia yang tak ramah pada kita. Tertawa, menangis, tersenyum bersama.
Bersama membentuk dirimu. Mengembangkan ide-ide kami yang tak tersalurkan. (???) Bersatu karena merasa senasib. Senasib karena teman-teman dari Martapura yang tidak terorganisir. Hingga sebelum terbentuk aku hanya tahu bahwa anak martapura itu hanya Neli, Nurul, dan Kenan. Walaupun akhirnya terlambat bergabung karena keterbatasan kesehatan (bahasa lain dari sering sakit, hihihi...). :)
Setelah perburuan panjang karena mencari dan menghubungi anak-anak yang diduga dari martapura. (hihihi..) Serta perjuangan panjang mencoba ‘menelurkan’ Himapura. :). Dan tibalah hari itu hari menetasnya Himapura. Di aula Pansos Dharmapala tepatnya tanggal 24 Februari 2008 kau lahir (Alhamdulillah..). Lahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan SDM. Keterbatasan dana. Dan segala keterbatasan lainnya. (halah…)
Terima kasih untuk Rudiansyah yang telah menyumbang banyak untuk ‘Himapura’. Kenapa pada kata Himapura diberi tanpa petik? Karena dari Rudi itulah nama itu terucap. Setelah nama Imara tak mendapat respon yang baik (hiks, padahal saya suka sekali dengan nama itu. T_T). Tapi kami beberapa tahun ini—lebih tepatnya saat kepengurusan kami—kami memaksamu berlari. ‘Memaksamu’ untuk mencoba membuktikan eksistensimu pada dunia. Pada Martapura tepatnya.
Akhirnya tiba masa itu, masa dimana harus ada regenerasi. Sudah sunnatullah. Akhirnya di Villa Terapung RU semuanya berakhir. Kami menyerahkan tampuk pimpinan setelah setahun dipegang Herman Susanti (upssss, Susanto… Maaf Herman… Peace… :)) kepada Wahyu Budianto. Sekarang, seperti yang kalian tahu pimpinan dipegang Azhari Husni. Untung gak Azhari Husno, karena nama dua pimpinan lainnya berakhiran O. Sebentar lagi pun akan segera berakhir masa baktinya.
Saya tidak akan menceritakan apa lagi mengomentari bagaimana Himapura sekarang. Tapi izinkan saya mengenang saat itu. Saat-saat Himapura belum satu tahun. Azhari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Slamat, Rizki, Puput, Mayang, Rudi dan kawan-kawan adalah saksi hidup (cieee..) bagaimana ‘kerasnya’ rapat Himapura di awal-awal terbentuk. Rapat yang jarang sekali jika diadakan akan terjadi pembicaraan yang baik-baik. Sibuk serang sana-sini karena mencoba mempertahankan pendapat. Herman yang menurut kami--saya, Nurul dan Neli—kadang-kadang ngasih ide yang nyebelin (maaf lagi ya, Man…:) ) lagi-lagi sebagai pihak kalah yang kami serang bertiga. Kadang kala kalo lagi akur nyerangnya berempat bareng Kenan. Nggak adil emang. Hahahaha…
Tapi jujur saat mengenang kejadian itu, ‘ngeroyok’ Herman di rumahnya sendiri—karena awalnya Sekret Himapura ada di Sarjana Blok C no. 37 (kalo gak salah… hihihi—suka ketawa sendiri. Kayaknya kami bertiga puas banget deh kalo sudah membuat Herman pias, karena idenya ditolak mentah-mentah. Kayaknya lagi Herman gak beruntung karena milih kadep-kadep seperti kami. Kadep-kadep yang selalu mencoba menang sendiri. (hihihi..) Dengan pengetahuan Herman yang minim soal organisasi bila dibandingkan dengan sepak terjang para kadepnya, makanya Herman kadang jadi bulan-bulanan kami. Untuk itu please forgive me, Man. Maaf nian. Hehehe.
Oh, iya mari membuka sejarah, diawal kepengurusan Himapura, yang jadi pucuk pimpinan adalah Herman Susanto.
Sekretaris umum: Neli Liana.
Bendahara: Putri Oktaria.
Kadep PSDM: Nurul Aisyiah.
Kadep kerohanian: Rahmi Dwi Hastuty (cuit.. cuit…).
Kadep Humas dan advokasi adalah Kenan Evran Mahdani.
Kadep pemuda, olahraga, dan kebudayaan: statusnya ‘BURONAN’. Nggak jelas kabar beritanya, nggak pernah nongol rapat, deesbe. Makanya dia jadi buronan. (hihihi).
Danus: Rudiansyah. Setelah reshuffle diganti jadi M. Wahyu. Huuu, emang pemerintah aja yang bisa reshuffle
Kestari: Wahyu Winarsih.
PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....
Saya masih sangat terkenang saat kami bergerilya mencari peserta untuk try out SMA/SMK yang diadakan Himapura. Saat itu di SMA 1 Buay Madang, Herman dan Kenan sibuk bertengkar sendiri meributkan siapa yang akan mengawas di SMA Buay Madang. Herman dengan segala argumentasinya begitu juga dengan Kenan. Rusuh deh pokoknya. Saat itu saya mendengar Slamat berkata pada saya, “Mbak kalau kami cak kak Herman samo Kak Kenan tadi, mungkin dak akan pernah lagi muncul di Himapura.” Saat itu saya hanya tersenyum. Saya tak tahu harus menjawab apa.
Mengenang rapat himapura yang keras. Penuh dengan marah-marahan. Nada-nada tinggi yang selalu keluar. Apalagi kami sering silang pendapat. Saya, Neli, Nurul, Herman dan Kenan tidak bisa dihitung seberapa sering keras kepalanya mempertahankan pendapat masing-masing. Jika sudah saling marah-marah, Azhari dkk kadang hanya diem. Takut mungkin. (hihihi). Hayo… Iyon, Ari, Riko, Deni, Dani, ngaku…!
Tapi di luar itu, setelah rapat kami sering ngumpul di depan rumah Herman, ngobrol biasa lagi. Ketawa lagi. Bercanda lagi. Tak ada dendam. Saat itu yang dipikiran kami—hasil share dengan Nurul, dan Neli—itu semua dilakukan demi Himapura, walaupun cara menyampaikannya agak menakutkan. Hahaha…
Saat rapat ya serius rapat, mau marah-marah kek, mau melotot-melotot kek, mau saling ejek atau apalah itu never mind. Tapi setelah rapat ditutup rasa dongkol, marah, sebel, merajuk, apa pun itu rasa yang gak mengenakkan selama rapat menguap begitu saja. Tak perlu berpikir sedemikian keras, karena saat tujuan sudah sama, maka tak aka nada hal yang cukup untuk membuatnya terpecah. Percayalah…
Karena sedikitnya anggota himapura diawal terbentuk hanya ada segelintir orang. Kak Dian, Kak Rio, Yuk Mega (tiga nama itu, hilang tak tahu dimana rimbanya. Kadang-kadang aja nongol itu pun dah kayak manggil Om Je, datang tak dijemput pulang tak diantar. PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....). Maaf kan saya kakak-kakak…. Herman, Kenan, Neli Nurul, Saya, Anja, Wahyu Winarsih, Puput, Wahyu Budianto, M. Wahyu, Mayang, Intan, siapa lagi ya??? Kemudian masuk Jumi, Ari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Pandu, Rizki, Aan, dekaka. Rudiansyah yang akhirnya harus vakum beberapa lama karena karena musibah kecelakaan itu. Welcome back to Himapura, Rudi….
Saat itu kami sering ngadain pertemuan-pertemuan gak penting, sekedar kumpul, makan seadanya eh ternyata dari sana ide-ide besar itu muncul. Selain itu kedekatan secara emosional antar personil himapura juga makin terasa. Benar-benar seperti sebuah keluarga. Wa bil khusus untuk Ari n Iyon yang bulan depan milad juga. Pengen makan-makan seperti dulu, Ri, Yon. Tapi kalian yang traktir kan milad. Hahaha... ngarep.com.
Hari ini saya mengenangnya. Mengenang saat-saat bersejarah itu. Saat terbentuknya himapura yang bahkan tak sempat terselamatkan foto-foto kenangan itu. (hiks.. hiks..).
Ah, kenapa jadi seserius ini? :)
And, the last… Jadi teringat dengan Herman Lagi. Saat mengatakan, “Pesan terakhir dari kakak…” hihihi. Tapi tenang, saya tak akan mengatakan pesan terakhir dari mbak kok. :D.
Untuk adik-adikku yang masih memegang jabatan di Himapura dan yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya. Jangan pusing dengan ulah para personil Himapura lainnya. Karena untuk menyentuh hati maka diperlukan hati pula. Kedekatan emosional itu penting, untuk membuat mereka yang baru kenal Himapura agar mampu mencintai Himapura pula.
Jangan lelah untuk berusaha memajukan Himapura. Percayalah jika mau terus berjalan maka akan kau temukan jalan terang itu. Semangat!!!
Terspesial untuk Wahyu Budiano, maafkan karena dengan emosional tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanmu memilih akan mengundurkan diri di percaturan Himapura. Yang ternyata keputusan gak mutu saya malah membuatmu sedikit down karena merasa tak disokong. Maaf… benar-benar maaf… Yang walaupun akhirnya gak jadi juga. Hahaha…
Spesial juga untuk azhari Husni, jangan menyerah, dek. Percayalah akan ada banyak tangan yang akan mengulurkan bantuan saat engkau terjatuh. Akan ada yang meluruskan saat engkau mulai melenceng. Mengutip dari Aris Ahmad Jay, “Bangkit dan jadilah bukti! Optimislah agar engkau jadi magnet kebaikan”. Motivasi itu juga untuk semua personil Himapura.
Untuk adek-adek angkatan 2009 saatnya kalian berjaya tahun ini. Buktikan bahwa kalian mampu berbuat lebih baik dari kami!
Sekali lagi, SELAMAT HARI LAHIR YANG KETIGA UNTUK HIMAPURA….
Kamis, 16 Desember 2010
“Hari Ini Kulepaskan Kau dari Hatiku”
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, fatamorgana dalam gurun pasir hatiku. Seseorang yang datang kemudian pergi dengan meninggalkan jejak. Kau tahu, sampai hari ini aku belum mampu menghapus jejakmu dengan sempurna. Terus melangkah maju tapi tetap tak mampu melepaskan harapan bodohku untuk bersamamu. Jika ada pemilihan predikat manusia bodoh, kurasa aku yang akan mendapatkan predikat rangking satu. Aku bertahan hanya dengan kemungkinan 0,1 % saja. Tapi, hari ini aku belajar untuk melupakanmu.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, satu nama yang terlukis jelas dalam prasasti hatiku. Satu nama yang selalu membuatku kagum akan kepribadiannya, kesetiaannya, perjuangannya dan pengorbanannya. Kau baik dimata teman-temanmu, ramah dan mudah berteman dengan orang. Jika kau tanya padaku sejak kapan aku merasakan getaran-getaran senandung lagu cinta, sejak aku mendengar namamu dan kebaikanmu dari teman baikmu yang selalu kau tolong tanpa meminta imbalan apapun. Aku merasakannya tanpa tahu seperti apa sosokmu, yang kutahu akhlakmu baik, dan yang terpenting agamamu pun tak diragukan. Aku menganggumimu jauh sebelum aku bertemu denganmu dan tak pernah berharap lebih. Namun takdir membukakan jalan untukku. Hari itu, kita bertemu.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, kau yang pernah memintaku menjadi penyempurna separuh dienmu, pendamping hidup, penentram jiwamu. Aku tak bermaksud menyakiti hati siapapun, aku hanya tak pandai mengutarakan isi hatiku dengan sempurna. Maaf, aku benar-benar tidak bisa membuatmu menunggguku, tanpa pernah ku tahu kapan mampu ku akhiri. Jiwaku hampir mati saat itu, badai, hujan, dan gelombang besar terus saja membuat laut hatiku terhempas. Maafkan aku, karena aku membuatmu sedih. Mungkin membuat goresan dalam hatimu yang putih. Maafkan aku karena tak bisa menjelaskan semua kesalahpahaman ini sebelum kau pergi menjauh dan menghilang, karena aku sedang berada dikota lain saat itu. Rasanya saat kau katakan takkan ada di kota saat aku pulang, hatiku menjerit ingin pulang dan bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya dan menjelaskan apa yang kurasa tapi dengan kebodohanku, aku memilih diam.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, bintang dalam gelapnya malamku. Diatas sajadah yang kubentang, disepertiga malam itu. Aku bertemu dengan-Nya, sang pemilik hatiku. Aku menangis, sedu sedan sendiri. Aku mengadukan hatiku yang resah karena rasa yang ada dalam hatiku kepadamu, meminta Allah berkenan memberikanku petunjuk dalam mengendalikan rasa cintaku agar tak melebihi cintaku kepada-NYA.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, satu nama yang berkata akan setia jika aku memintamu untuk menunggguku. Kulepaskan semua angan-angan indahku dan keyakinanku jika kau masih setia sampai saat ini walau aku tak memintamu untuk menungguku.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan kekecewaan dalam hatiku. Setelah kepergianmu, dalam diamku aku mempersiapkan segalanya. Segera menyelesaikan study, dan meminta restu kedua orang tuaku, dan setelah semuanya kudapatkan. Aku sudah terlambat.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan hujan yang terus turun dalam hatiku. Setelah aku mendengar kini kau telah memilih hati yang lain dan meletakkannya disampingmu selalu. Kau yang membawa hatiku pergi dengan kepergianmu. Kau yang kufikir tetap menjaga rasa itu. Rasa yang mungkin kini hanya aku yang memiliki. Akhirnya cinta yang kujaga, pecah seribu berserakan begitu saja.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan senyuman. Senyum tulus dari dasar hatiku. Semoga kau bahagia dan aku tak kan pernah datang dan mengabarkan hal ini padamu. Bahwa aku tak pernah melupakanmu dan kaulah yang selalu ada dalam ingatanku. Aku tak ingin membuatmu bimbang. Aku ingin kau setia padanya, menjaga cintamu. Bukankah kau berkata padaku, jika cinta tak harus memiliki dan jika cinta itu menyakiti hati sang kekasih kenapa harus egois untuk tetap menggenggamnya erat dalam dekapan cintamu. Biarkan cintamu bebas memilih, jika dia bahagia. Karena belum tentu jika bersamaku, cintaku bisa mendapatkan kebahagiaan.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, karena aku ingin melangkah maju menuju kebahagiaanku sendiri. Terimakasih, karena kini aku telah belajar tentang kesetiaan dan pengorbanan. Terimakasih, untuk telah mematahkan hatiku dengan sempurna, karena dengan begitu aku belajar untuk bangkit dari kekecewaan dan keterpurukan dan mampu mengendallikan diriku sendiri. Terimakasih, untuk sejenak kau hadirkan kisah cinta yang tak harus memiliki dalam hidupku. Dan sekarang saat kau baca tulisanku ini, tersenyumlah! Tersenyumlah karena sekarang kau tak perlu khawatir tentang keadaanku. Karena aku baik-baik saja!
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, sebab semua terjadi karena satu alasan. Dan aku yakin Allah akan menggantikanmu dengan yang lebih baik setelah ini.
(By: Rika Z. Putri)
Tulisan ini kudapatkan dari FB adik tingkat yang diikutkan dalam sebuah kompetisi penulisan. Dengan izin beliau pula, aku mem-posting-nya. Kenapa kupilih ini untuk posting-an blog? Sengaja, sebagai ajang muhasabah untukku dan untukmu. Mengoreksi lagi niat-niat yang mungkin terkotori. Niat melakukan sesuatu karena dia, bukan Dia.
“Sekali-kali batu karang yang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak yang membenturnya.”
(Birunya Langit Cinta, Azzura Dayana)
Dan, kini aku pun memilih untuk melepasmu. Membiarkanmu terbang jauh dari hatiku. Walaupun harus tertatih-tatih ‘kan kutata hati ini lagi. Biarlah begini…. Hingga aku benar-benar bisa melepasmu pergi. Membuang semua mimpi yang mungkin tak pernah terealisasi. Suatu saat aku akan sembuh dari lukaku ini. Pasti.
Semua yang pernah terjadi, biarlah menjadi sebuah histori. Semua rasa yang tak pernah terungkap secara nyata diantara kita. Walaupun kau dan aku sama-sama tahu apa yang kita rasa. Percayalah aku akan baik-baik saja. Kaupun juga akan baik-baik saja. Ini jalan terbaik untuk kita.
Aku tak inginkan pembenaran dari semua salahku. Hatiku memang bukanlah batu karang, tapi ia pun mampu untuk lebih tegar. Dan aku yakin semua akan berlalu seiring bergantinya sang waktu….
Mewangi Bunga Dunia (Tazakka)
Dunia…
Indah diciptakan menawan hati
Kadang menggoda
Jelita dipandang
Terasa harum semerbak,
Mewangi bunga dunia
Mencinta tiada akhirnya
Merindu menjadi pilu
Mendamba entah pastinya
Terlena hamba sembilu
Wahai diri berapa lama lagi?
Kau terus begini terus mengkhianati
Kapankah lagi engkau kan kembali?
Berserah diri setulus sepenuh hati..
Tundukkan pandangan mata dan hatiku
Dari gemerlap dunia yang palsu memperdaya jiwa.
Ku memohon kepada-Mu Ya Rabbi…
Selamatkanlah duniaku
Dan akhiratku yang pasti.
Jangan cintakan ku padanya duniawi
Ampuni dosa khilafku
Di masa laluku, kini dan nanti
Selasa, 14 Desember 2010
Skenario Indah Allah untukku
“Allah menyayangimu dengan cara-Nya. Kadang engkau merasa hidup tak adil. Engkau marah karena keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu. Engkau kecewa atas apa yang terjadi dalam hidup. Engkau kadang mempertanyakan ke-Maha Agungan-Nya karena dunia tidak mengindahkanmu. Tapi percayalah teman, Allah sayang padamu. Dia mencintaimu dengan cara-Nya.”
Saya lupa tepatnya kapan SMS itu dikirim oleh teman saya. Harus diakui bahwa kadang kala saya juga mempertanyakan ke-Mahaan-Nya. Saya marah, sedih, kecewa karena merasa diperlakukan tak adil. Merasa layak untuk diperlakukan lebih dari itu. Astagfirullah… betapa saya telah berlaku ujub. Ya Allah, ampuni hamba…
Padahal nikmat Allah begitu banyak dicurahkan kepada saya. Dan saya jarang mensyukurinya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
Allah memang menyayangi dengan cara-Nya. Saya mencoba mengingat kembali hal-hal yang telah terjadi. Ternyata skenario Allah untuk hidup saya itu indah. Sangat indah malah.
Saya memiliki keluarga yang luar biasa. Pertama kali memutuskan untuk mengenakan jilbab, tidak ada nada protes dari keluarga. Sedangkan teman saya ada yang ditentang keluarganya untuk memakai jilbab. Hingga saat kuliah, saya bergabung di tarbiyah, dan memutuskan untuk memperlebar jilbab saya. Keluarga saya juga tidak menentang.
Keluarga saya--terutama Ibu--yang menjadi garda terdepan dalam melindungi saya. Ya, melindungi. Melindungi dari serbuan keluarga besar yang menganggap aneh jilbab saya. Melindungi saya dari cercaan saudara saya yang lain karena menganggap jilbab saya kelebaran. (Padahal jika mereka memperhatikan lebih detail, maka mereka akan menemukan ada akhwat lain yang jilbabnya jauh lebih panjang dan lebar dari saya. Bahkan jilbab saya ini belum seberapa jika dibandingkan dengan jilbab mereka, hehehe). Serbuan dari berbagai pihak ini pernah membuat saya down dan hampir memperpendek jilbab saya. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Hehehe.
Saya memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa pula. Sahabat yang menguatkan kala saya rapuh. Membantu berdiri kala saya jatuh. Saat saya butuh penguatan ada-ada saja yang mengirimi saya SMS tausiyah itu. Hampir selalu pas dengan kondisi saya saat itu. Alhamdulillah… Segala puji untuk-Mu, Ya Rabb….
“Tidaklah seorang hamba diberikan karunia yang paling baik keislamannya, melebihi saudara yang shalih. Bila dia lupa diingatkannya. Bila dalam kondisi sadar dengan ketaatan ia akan membantunya. Bila salah seorang kalian merasakan kasih sayang dari saudaranya, maka peganglah ia.” (Umar bin Khattab).
Ok, back to skenario indah itu. Maka tak ada lagi yang layak saya katakan selain syukur. Saya menemukan begitu banyak hal yang awalnya telah direncanakan, endingnya berbeda atau cara berlakunya yang berbeda. Walaupun ternyata itulah yang lebih saya butuhkan. Bahwa itulah yang menjadi pelajaran untuk saya.
Seperti kemarin saat itu selepas shalat zuhur di mushala perpustakaan pusat, saya melihat seseorang yang dari belakang mirip sahabat saya. Kenapa dari belakang? Karena posisinya saat itu sedang duduk membelakangi saya. Maka saya dekati. Ternyata benar sahabat saya.
Kami ngobrol sebentar dan memutuskan untuk makan siang di kantin kampus. Soalnya perut saya sudah “unjuk rasa” sejak tadi. Saya menunggunya shalat dulu, karena dia belum shalat. Setelah shalat kami naik satu lantai, ke ruang sirkulasi. Karena sahabat saya itu hendak meminjam buku, namun kartu perpus-nya ketinggalan. Hingga dia—karena begitu membutuhkan buku itu secepatnya—meminjam buku itu menggunakan kartu saya. Kebetulan saya memang tidak ada pinjaman di sana.
Nah, masalah terjadi saat hendak meminjam buku. Karena ternyata saya masih ada pinjaman. Padahal seingat saya semua buku yang dipinjam atas nama saya sudah semua dikembalikan—walaupun masih kena denda juga karena terlambat mengembalikan buku. Hehehe. Karena sudah hampir sebulan buku itu belum dikembalikan maka saya tidak diizinkan meminjam buku. O ow…
Di jalan menuju kantin, saya menelepon sahabat saya yang lainnya, yang kemarin meminjam buku menggunakan kartu saya. Katanya sudah semua dikembalikan. Bahkan sudah bayar denda pula. Nah lho, nggak mungkin sahabat saya ini berbohong. Kalau memang sudah dikembalikan kenapa kartu dari buku itu masih juga “nyangkut” di kartu saya? Siapa yang salah sebenarnya? Solusinya? Saya bingung. Akhirnya kami memutuskan untuk mengurusi masalah ini besok harinya.
Salah saya adalah tidak mengembalikan buku itu secara langsung. Saya karena ada satu dan lain hal memberikan kartu itu kepada sahabat saya, memintanya mengembalikan sendiri buku yang ia pinjam atas nama saya tersebut. Kemudian ia menyerahkan kartu itu. Selesai saya pikir. Karena jelas buku itu sudah dikembalikan. Kok malah jadi kayak gini??? Saya tambah bingung.
Besok harinya, setelah menyusun strategi—walaupun nggak yakin strategi itu berhasil—kami ke ruang sirkulasi. Strateginya adalah mencari lebih dahulu buku yang kemarin dipinjam. Logikanya jika kartu itu masih ada di kartu yang disimpan petugas perpus, maka tidak mungkin ada yang meminjam. Karena jelas kartunya tidak ada.
Lama kemudian sahabat saya menemukan buku itu. Ternyata kartunya ada. Kami berdua lemas. Bagaimana ini? sahabat saya berkata bahwa ia sudah searching, ternyata perpus hanya memiliki dua buku dengan judul ini, karena buku lama. Satunya yang kami pegang, lalu yang satunya lagi? Dipinjam orang lain?
Akhirnya masih ditengah kebingungan, sahabat saya menemukan buku yang pernah ia pinjam. Setelah meneliti buku itu dari kartu peminjaman, kami menemukan namanya. Setelah usut punya usut, meneliti lebih lanjut. Menganalisis lebih runut. (Kalau ingin diceritakan secara mendetail bakal panjang). Maka kami menyimpulkan kemungkinan itu kesalahan petugas perpus. Petugasnya lupa untuk mengembalikan kartu di kartu perpus saya ke buku tersebut. Karena pada hari itu ramai pengunjung perpus yang hendak mengembalikan buku.
Walaupun dengan ketidakyakinan, sahabat saya mencoba menghadap petugas dengan dalih hendak meminjam buku. Buku yang bermasalah itu. Walaupun kami jauh lebih tidak siap jika akhirnya didakwa dengan pasal penghilangan buku. Hahaha. Resiko mendapatkan cap buruk plus kena marah petugas. Waduh…. Pasrah. Hanya itu yang ada dalam pikiran kami saat itu. Kalau diminta ganti, yah terpaksa harus ganti. Walaupun itu judulnya “menzhalimi” kami. Jelas-jelas bukunya sudah dikembalikan kok.
Semula kami mengianggapnya begitu menakutkan, ternyata begitu mudah. Kakak petugas perpus begitu mudah diyakinkan dengan argumentasi yang memang telah lebih dahulu didiskusikan. Karena kami memang sebelumnya diskusi untuk meyakinkan bahwa itu bukunya! Tidak ada perang mulut. Perang argumentasi. Apalagi sampai pertumpahan darah, saudara-saudara. Halah, lebay banget!!
Rasa-rasanya kalau nggak malu, mau deh berdua jingkrak-jingkrakan. Saking senengnya. Hohoho. J. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Saya teringat kejadian sebelum idul adha. Saat itu saya sudah memutuskan untuk pulang ke rumah. Rencana sudah disusun dengan matang. Saya akan pulang hari jumat. Saat ibu menelepon dengan yakin saya mengatakan akan pulang hari jumat.
Hari H-nya. Saya terbangun pukul tiga, tepatnya tiga lewat berapa saya lupa. Saat itu hujan deras disertai petir. Bikin ngeri. Doa yang saya lantunkan setelah shalat seperti ini, “Ya Allah, jika Engkau ridhai perjalananku hari ini, tolong hentikan hujan ini.”
Hujannya memang reda tidak lama kemudian. Eh, menjelang subuh hujannya turun, lebih deras lagi. Saya hopeless. Wahhh, jangan-jangan nggak diridhoi. Jadi lemes. Jangan-jangan nggak diizinin pulang nih… hiks.. hiks.. T_T
Akhirnya doa saya bertambah menjadi, “Ya Allah, jika Engkau ridha maka tolong redakan hujan ini jam enam nanti.” Mengapa jam enam? Karena jam itu maksimal saya berangkat ke stasiun kertapati. Setengah enam alias 06.30, saya menatap hujan dari jendela. Masih deras plus mati lampu. Hrap-harap cemas. Mencoba menguatkan hati jika ternyata hujan masih juga deras jam enam nanti. Dan itu pertanda saya nggak bisa pulang kampung alias mulang tiuh.
Saya memutuskan untuk mandi dan mencuci baju. Walaupun dengan resiko tidak jadi berangkat. Mencoba tetap optimis. Ditambah dengan menyenandungkan doa itu berkali-kali. Hehehe. Hari sudah terang, hampir jam enam. Hujan masih turun. Saya makin kebat-kebit. Jadi nggak, jadi nggak. Pengen nangis…. Ibu, anakmu ini kayaknya nggak jadi pulang hari ini….
Alhamdulillah ternyata hujan reda, saudara-saudara! Jam enam, lewat dikitlah. Akhirnya saya berangkat. “Martapura, aku datang. Hohohoho” Berangkat dengan semangat 45. Walau akhirnya saya ternganga saat hendak melewati jalanan depan kompleks. Ada kubangan air di jalan, sekitar 3 meter jaraknya. Pagi itu juga tidak ada becak yang bisa diharapkan untuk menembus kubangan air setinggi mata kaki itu. Jalan satu-satunya adalah melewatinya dengan kaki sendiri. Dengan resiko kaos kaki, rok, dan sandal saya basah.
Seorang dari sekian bapak-bapak yang berdiri di dekat kubangan itu menyarankan saya untuk melepas kaos kaki dan sandal. Intinya saya harus nyeker. Dilema. Nggak mungin dong saya lepas kaos kaki sedangkan banyak bapak-bapak di sana. Kemudian saya memilih nekat. Maju terus. Bismillah… semoga Allah ridha dengan yang saya lakukan ini. Saya nggak mau aurat saya kelihatan orang lain. Toh saya bawa kaos kaki dua, dan sandal saya ini anti air. Hahaha.
Gerbang depan kompleks. Saya berdiri menunggu travel atau bis yang akan ke Palembang. Namun apa hendak dikata tidak ada satupun dari dua mobil itu lewat. Padahal kaki saya sudah mulai kedinginan. Ganti kaos kaki di depan gerbang. Jelas nggak mungkin. Sama aja bunuh diri.
Alternatif satu-satunya adalah ganti di kamar mandi stasiun. Sangat tidak memungkinkan untuk saya berganti kaos kaki di dalam travel atau bis. Ya, kan? Berarti saya harus bertahan dengan kaos kaki basah ini sekitar satu jam lagi. Itu hitungan paling cepat, bisa lebih lama lagi. Karena saya harus antri tiket kereta api. Padahal kepala saya sudah nyut-nyutan, dan perut saya sudah bernyanyi sejak tadi. Nggak apa-apa deh. Fight! Fight! Fight!
Eh, ada mobil lemabang lewat. Berhenti nggak jauh dari tempat saya berdiri. Akhirnya saya naik mobil itu. Duduk paling belakang. Sendirian pula. Penumpang satunya duduk disamping supir. Saya pun bisa ganti kaos kaki. Alhamdulillah.
Tiba di stasiun, para calo sibuk menawarkan tiket. Pilih jalur resmi aja ah! Eh, ada adik tingkat, salah satu anggota Himapura yang juga hendak pulang. Dia bersama dengan temannya dan bersedia mengantrikan tiket. Alhamdulillah, saya memang tidak sanggup mengantri karena kepala saya pusing. Banget. Plus laperrrrr.
Dapet tiket, nyari gerbong, nyari tempat duduk. Lama kemudian, Berangkat! Menuju bumi sebiduk sehaluan….
Awalnya saya nggak yakin bisa pulang karena hujan deras. Kemudian Allah mengabulkan doa saya. Banjir yang menghalangi jalanan kompleks. Kaos kaki basah, hingga bisa ganti kaos kaki di mobil. Ada yang bersedia mengantrikan tiket. Wah, akhirnya saya bisa pulang. Hehehe.
Berulang kali skenario Allah yang bermain. Skenario indah untuk hidup saya. Walaupun awalnya sering saya bertanya-tanya apa hikmah dibalik semua ini. Akhirnya saya menemukan hikmahnya. Menemukan pelajaran yang bisa diambil untuk hidup saya. Menambah wawasan saya. Semoga saya makin bijak dalam menyikapi hidup ini. Semoga kalian juga bisa mengambil pelajaran dari semua hal yang terjadi dalam hidup ini.
Percayalah seindah-indahnya skenario yang dibuat manusia, lebih indah skenario Allah. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Jelas Allah yang paling tahu.
Allahu a’lam bish shawab…
Kamis, 11 November 2010
Hati yang Bersih?!?
Setelah mencari sekian lama ketemulah kata-kata itu. Tangan ini pun lincah menari di keypad ponsel. Memilih nama-nama yang akan dikirimi SMS, kemudian send. Laporan terkirimnya menyusul kemudian.
Tak lama kemudian ponsel saya berdering. Ringtone SMS. Si pengirim SMS itu adalah salah satu dari sekian teman yang saya kirimi SMS. Isi SMS-nya kira-kira seperti ini, "Cara untuk mendapatkan hati yang bersih???"
Saya mencoba menjawab pertanyaan teman saya itu. Jawaban saya--kira-kira--begini (saya lupa tepatnya dalam menjawab SMS itu. Tapi secara garis besar begitulah isi SMS saya), "Salah satunya kalau dalam ESQ cara mengupayakan hati yang bersih itu dengan zero mind process. Dengan ZMP itu God spot kita akan bersih. Bebas dari belenggu-belenggu."
Kemudian teman saya bertanya lagi "God spot itu apa?"
Saya jawab saja, "Titik Tuhan."
SMS balasan masuk tak lama kemudian, eh beliau protes, katanya kalau hanya menerjemahkan dia juga bisa, yang diminta itu definisi dari God spot itu sendiri.
Yah, maaf. Maaf. Hehehe.
Sebelumnya sempat terlintas di pikiran saya, jangan-jangan beliau--sang pengirim SMS--mau ngerjain saya, sekedar ngetes sejauh mana pengetahuan saya soal mensucikan hati. Kemudian saya mencoba untuk ber-husnudzhan. Semoga perkiraan saya salah. Kalau pun benar ingin ngetes saya, awas aja ya!!! Gak bisa pulang ke Martapura lho tahun depan, 'ntar saya sweeping. Biar gak bisa masuk Martapura!! (Sadis nian euy... hehehe).
Oh iya hampir lupa, isi SMS saya itu seperti ini:
"Bila hati itu bersih maka ia akan mudah menerima kebenaran dan merasa ringan untuk melakukan kebaikan."
Maka untuk permulaan saya memutuskan merenungi isi SMS saya itu. Mengapa hati yang bersih dikaitkan dengan menerima kebenaran dan melakukan kebaikan? Memang jika hati kotor kita tidak akan melakukan kebaikan? Akhirnya berujung pada satu kata, bingung. Hehehe.
Dan karena bingung, saya mencoba untuk memikirkan satu persatu orang-orang shalih di zaman Rasulullah. Pikiran saya yang pertama jatuh pada sosok shalih itu, sosok yang malaikat pun malu kepadanya. Ya, sosok itu bernama Utsman bin Affan. Karena kejernihan hatinya beliau bisa membaca kemaksiatan yang tergambar dari wajah seseorang. Bagaimana dengan kita??? Malu rasanya bila berkaca dengan mereka.
Kembali saya mencoba merenungi isi SMS saya. Akhirnya saya temukan jawabannya. Korelasi antara hati yang bersih, menerima kebenaran dan melakukan kebaikan. Saat kita futur, berada pada titik lemah iman kita. Saat itu untuk melakukan suatu kebaikan pun terasa sulit. Malas untuk melangkah. Malas untuk berbenah. Malas untuk berupaya memperbaiki diri. Malas semualah pokoknya.
Dinasehati teman, terasa menggurui. Akhirnya malah jadi tersinggung. Menjauh dari komunitas, menjauh dari jamaah. Sehingga akan makin membuat terperosok pada kefuturan itu sendiri. Naudzubillah….
Baiklah, kita kembali pada pertanyaan teman saya saja. Saya mencoba mencarinya dalam buku ESQ, tapi tidak ada penjelasan yang terperinci mengenai apa itu God spot. Maka saya mencoba menyimpulkan sendiri makna God spot berdasarkan pemahaman saya. Maaf jika ternyata kesimpulan saya ini tidak sesuai dengan pemahaman teman-teman yang pernah mengikuti atau terlibat langsung dalam training ESQ. ^_^
Pada ESQ model, lingkaran ke dalam (God spot) terletak pada dimensi spiritual (SQ) atau berada dalam alam bawah sadar kita. Lingkaran pada dimensi emosi (EQ) dan dimensi fisik (IQ) harus berada pada garis edarnya dan mengorbit pada Titik Tuhan (God spot). Seperti gerakan galaksi Bima Sakti (Milky Way), gerakan atom (Bohr), atau gerakan jamaah haji mengelilingi Ka’bah. Semua berthawaf. Tuduk pada sifat-sifat Tuhan. Konsep ini dinamakan God Sentris yaitu berpusat pada SQ.
Gambar : ESQ model
The ESQ Way 165 :
1 (satu) hati (value) yang ihsan pada God spot
6 (enam) prinsip moral berdasarkan rukun iman
5 (lima) langkah sukses berdasarkan rukun islam.
God spot sendiri didasarkan pada suara hati yang universal. Bahwa manusia siapa pun dia, agama apa pun yang dianut, bagaimanapun baik buruknya, mereka sebenarnya memiliki suara hati yang sama. Suara hati yang didasarkan pada Asma’ul Husna. Suara hati yang akan sama dirasakan oleh manusia di seluruh dunia. Dan inilah yang disebut dengan anggukan universal.
Bahwa setiap manusia sebelum dilahirkan telah membuat perjanjian dengan Allah. Mengakui bahwa Allah-lah Tuhan mereka yang satu. Tidak ada Tuhan selain Dia. Saat ia lahir maka orang tuanyalah yang membuat dia menjadi pemeluk islam, nasrani dan sebagainya.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan Bani Adam keturunannya dari sulbinya, dan menyuruh mereka bersaksi terhadap dirinya sendiri (atas pertanyaan), ‘Bukankah aku Tuhanmu?’ Mereka manjawab, ‘Ya, kami bersaksi!’ (Yang demikian itu) supaya jangan kamu berkata di hari kiamat, “Kami tiada mengetahui hal ini.” (QS. Al A’raaf : 172)
Setiap diri dikarunia oleh Allah sebuah jiwa. Dengan jiwa itu ia bebas menentukan pilihan. Untuk berhenti di persimpangan-persimpangan yang kecil atau berhenti di persimpangan yang besar. Memilih antara kebaikan dan keburukan. Memilih untuk bereaksi positif atau negatif. Melanjutkan atau berhenti. Sabar atau marah. Sehingga kitalah yang menjadi leader bagi diri kita. Bukan orang lain ataupun lingkungan kita. Kitalah aktornya, aktor untuk hidup kita. Kita pula lah yang menjadi penanggung jawab atas sikap yang telah kita ambil.
Dorongan suara hati itu misalnya saat hendak melakukan keburukan maka suara hati nurani akan melarangnya. Begitu berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, maka ia akan menyesalinya. Namun adakalanya suara hati terbelenggu dan “buta”. Buta untuk melihat nilai-nilai universal itu. Seringkali kita mengabaikan suara hati yang akhirnya mengakibatkan terjerumus ke dalam kejahatan, kecurangan, kekerasan, kerusakan, dan lain-lain.
Saat manusia begitu dekat dengan Allah. Maka dititik itulah kita akan mampu melihat segala sesuatu dengan lebih bijak. Kecerdasan spiritual kita terasah. Seperti Utsman bin Affan yang bisa membaca wajah orang yang maksiat. “Hati-hati dengan firasat orang mukmin, sebab ia melihat dengan nur Allah.” Lalu, bagaimana dengan kita? Astaghfirullah… Mari perbaiki diri.
Hati yang terbelenggu yang menyebabkan kita “buta”. Buta dalam membedakan kebaikan yang ikhlas dengan kebaikan karena mengharapkan pujian dari orang lain. Buta karena merasa diri jauh lebih baik dari orang lain. Buta karena terlalu asyik berprasangka negatif pada saudaranya.
Dalam ESQ untuk menjadikan kita bisa “melihat” lebih jelas, bersikap lebih tegas maka kita harus mengembalikan manusia pada fitrahnya, pada God spot-nya. Dengan demikian manusia mampu melihat dengan mata hatinya. Mampu memilih, memilah dan memprioritaskan pilihan yang benar sesuai dengan suara hati. Sesuai dengan tuntunan dari Ilahi Rabbi.
Pembersihan God spot disebut Zero Mind Process. Zero Mind Process (ZMP) adalah pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci. Kemerdekaan berpikir akan melahirkan pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel, mampu berpikir jernih dan God spot yang kembali bercahaya (Ari Ginanjar Agustian, ESQ, hlm.83).
Gambar: Zero Mind Process




Hasil akhir dari ZMP adalah melahirkan suara hati ilahiah. Sehingga kita akan menjadi orang yang merdeka. Orang yang bebas dari prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, pembanding-pembanding yang subyektif dan belenggu-belengu fanatisme yang menyesatkan.
God spot menjadi pusat orbit dari keseharian hidup kita. Suara hati manusia adalah kunci spiritual karena ia adalah pancaran sifat-sifat Ilahi. Ketika jiwa manusia mengangguk, mengakui Allah sebagai Tuhan-nya maka saat itulah sifat-sifat Tuhan yang suci dan mulia muncul dari dalam God spot-nya dan dari situlah kecerdasan spiritual bermula. Anggukan yang membenarkan suara hati yang didasarkan pada Asma’ul Husna itu terus berjalan dan bisa dirasakan kecuali jika hati dalam keadaan tertutup. Untuk itulah manusia harus mencapai titik zero dan terbebas dari belenggu-belenggu pikiran (Agustian, hlm.86-87).
Karena dosa itu membelenggu. Keburukan yang kita lakukan itu tanpa kita sadari telah membuat kita jauh dari Allah. Dibutuhkan kejernihan hati sebelum mencari dan menemukan kebenaran. Kebenaran yang sesuai dengan kehendak Allah, Sang Pencipta.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allahu a’lam bish shawab…
Referensi:
1. Al Qur'an
2. ESQ, The ESQ Way 165, Ary Ginanjar Agustian.
3. The Way to Win, Solikhin Abu Izzudzin.
