Dakwah ini mengajariku banyak hal. Itu yang pertama terlintas dibenak. Hmm... sepertinya bahasan kali ini berat nih. Hehe. :p
Percakapan yang lumayan panjang malam itu dengan seorang sahabat, membuatku mau tak mau mengingat kembali awal mula perjalanan panjang ini. Saat itu setelah percakapan kami berakhir, ia—via SMS--masih sempat menyuruhku beristirahat. Tapi ternyata tubuh ini masih menyimpan resahnya sendiri. Alih-alih istirahat saya malah menulis. Walau malam sudah mencapai separuhnya tapi mata ini tak jua bisa diajak kompromi.
Orang tua saya memberi nama Rahmi Dwi Hastuti. Tapi ternyata orang-orang di catatan sipil kreatif sekali. Saya yang waktu SD bangga dengan tiga akhiran i di belakang nama saya harus merelakan kata terakhir dari nama saya berakhiran y. Sempat protes juga pada Ibu kenapa saya yang lahir di bulan Mei harus menuliskan Juni di bulan lahir saya untuk pengisian biodata. Kesalahan akta kelahiran yang dibuat di capil. Sekarang jika ada yang bertanya tanggal lahir dengan iseng saya malah balik nanya, “Mau yang asli apa yang palsu?” Yang bertanya bengong mendengar pertanyaan saya. Hehe...
Saya lahir dengan embel-embel suku komering. Suku yang bagi banyak orang di Indonesia ini lekat dengan masalah kriminal. Banyak preman-preman di kota-kota besar dengan suku ini. Sisi positifnya jika bepergian keluar Sumatera Selatan, menggunakan bahasa Palembang atau bahasa komering biasanya aman dari aksi kriminal. Hihihi... Negatifnya orang-orang takut dengan kita, disangkanya bagian dari kawanan kriminal itu. Hadeeeh. Yah ada positif negatifnyalah.
Saya sempat menahan tawa dan terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri, melihat seorang teman dalam perjalanan menuju Lampung. Saat itu kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Martapura. Saat berhenti itu masuklah pengamen. Mendengar mereka bernyanyi sontak teman saya itu menarik kedua tangannya, dimasukkan ke dalam jilbab. Ia secara refleks menutup kedua telinganya dengan tangan. Setelah pengamen itu pergi, sambil geleng-geleng teman saya bilang, “Aih parah... nyanyi apa ngajak berantem sih pengamen tadi?” Tawa saya langsung meledak saat itu juga. Dengan senyum dikulum saya kemudian berkomentar, “Ya beginilah Martapura, yang kalian kira marah itu, sebenarnya mereka hanya ngobrol.”
Itulah mengapa saat pertama kali diterima di Unsri, saya sempat mengalami syok juga. Teman-teman dan kakak tingkat sibuk protes dan mengkritik nada suara saya yang katanya ‘terlalu tinggi’. Yang buat saya heran, kok teman-teman di Martapura gak ada yang protes dengan yang ‘terlalu tinggi’ itu. Seorang sahabat dengan bijak mengatakan, “Beda Mi. Di sana mungkin nada yang seperti itu dianggap biasa. Tapi di sini jadi luar biasa.” Dalam hati saya bilang, “Bisa jadi...”
Seorang teman yang juga dari Martapura pernah bilang begini, “Nah wong Martapura ni apalagi komering ga marah aja dikira marah. Apalagi marah jangan-jangan dikira mau bunuh orang.” Saya cekikikan mendengar komennya.
Bukan saya ingin membela suku sendiri sih. Saya lahir dan besar di Martapura. Baru merantau saat masuk kuliah. Notabenenya delapan belas tahun saya habiskan di Martapura. Kultur yang seperti itu sudah seperti mengakar di diri saya. Dan ternyata gak cuma saya yang seperti itu. Tengoklah saat anggota Himpunan Mahasiswa Martapura berkumpul kadang kala yang datang baru 3 orang tapi suaranya sudah hampir mencapai 10 orang. :)
Kadang kala saat ingin memperjelas sesuatu karena ada beberapa teman yang tak mendengar, saya mengeraskan suara. Teman saya langsung komen, “Iya tau. Gak usah marah-marah kale.” Jreeeeenggggg... saya langsung diem. Dalam hati saya nih, “Yah... salah lagi. Padahal niatnya mau bantu.” T.T
Saya jadi berpikir apa saya sebegitu buruknya? Akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri. Berarti masih ada dalam diri yang membuat saudara-saudara saya ini tak nyaman untuk berdekatan. Masih banyak perbuatan dan lisan ini yang menyakiti mereka, dan ternyata itu saya lakukan entah dengan sengaja atau pun tidak disengaja. Untuk semua yang pernah tersakiti hatinya oleh saya, saya memohon kemaafan dari kalian. :)
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Sejak saya bergabung di jalan dakwah ini membuat saya banyak berubah. Jika ditilik dari awal mula bergabung hingga sekarang, saya tak pernah menyangka akan berubah sampai sejauh ini. Perubahan itu signifikan sekali.
Pertama kali dapat penilaian dari orang lain hasilnya negatif. Terlalu banyak buruknya dari pada baiknya. Kertas hasil penilaian mereka yang banyak nilai merahnya untuk saya itu masih saya simpan hingga dua tahun yang lalu. Masih suka saya baca-baca untuk muhasabah. Dua tahun lalu seorang teman yang meminjam catatan saya menghilangkannya.
Dari itu mencoba introspeksi lagi, oh ternyata saya begini. Dan hal yang sampai sekarang masih sulit saya kendalikan adalah nada bicara saya. Masih ‘terlalu tinggi’ untuk ukuran saudara-saudara saya itu. Jika saya pulang ke Martapura dan naik angkot, nada suara saya yang sekarang gak cukup untuk bikin sopir angkot menghentikan laju mobilnya, alias gak denger saya minta berhenti. Atau paling tidak membuat Ibu harus mengulang panggilannya sekali lagi, karena tak mendengar saya menjawab panggilannya. Hehe...
Pernah terlintas dalam benak saya untuk jadi seperti mbak-mbak senior saya di kampus. Anggun dengan jilbabnya, lembut dan tampak tenang. Saya pernah mencoba seperti itu. Hasilnya saya merasa seperti membohongi diri sendiri. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Ini bukan wujud pembelaan diri karena tak mau berubah kearah yang lebih baik. Bukan. Sama sekali bukan. Saya hanya merasa itu bukan saya.
Akhirnya saya bukan berubah untuk jadi seperti mbak itu atau mbak ini. Saya mencoba untuk jadi saya sendiri, dengan catatan ya sisi negatif saya dihilangkan atau paling tidak diminimalisir. Saya ketawa sendiri mengingat sebuah buku yang pernah saya baca. Pengennya ngomong kayak gitu. Cuma kesannya kok kayak gak mau berubah ya. Hehe... Nih saya kutip tulisannya—dengan editan versi saya lho ini. “Ami ya begini ini, nerima syukur, nggak terima kebangetan.” #korban buku Parcel Mini La Tansa. Hihihi...
Kebersamaan ini mengajari saya banyak hal. Mengajari saya untuk lebih peka, lebih peduli dan lebih memahami. Mengajari saya meminta maaf atas kesalahan yang dibuat. Mengajari memaafkan saudara yang bersalah karena mereka bukan malaikat yang gak pernah salah. Kebersamaan ini mengajari saya mempelajari karakteristik mereka satu per satu, belajar dari mereka walaupun mereka tanpa sadar ngajarinnya ke saya. Mengajari untuk setiap hari berproses menjadi lebih baik lagi. Walau pun karakter saya yang galak itu agak sulit saya ubah. Mau bantu saya untuk berubah? Hehehe...
Saya terkenang dengan kisah antara Abu Dzar dan Bilal bin Rabah. Seperti yang dituliskan oleh Salim A. Fillah, di buku Dalam Dekapan Ukhuwah. “Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditunjukkan ke wajah kita seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw kepada Abu Dzar. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Saya sadar masih banyak kekurangan saya. Mungkin masih banyak saudara-saudara di kehidupan ini yang belum mendapatkan perlakuan yang selayaknya dari saya. Mungkin masih banyak yang mengeluhkan sikap dan lisan saya.
Saya sadari itu. Dan saya membayangkan, pun jika Rasulullah saw di depan saya sekarang, pasti lisan yang mulia itu juga akan berucap hal yang sama. Sama seperti ucapan yang beliau tujukan untuk Abu Dzar. “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Untuk saudara-saudaraku yang sempat bahkan sering terlukai hatinya karena lisan dan perbuatan saya, tolong maafkan saya. ^_^
Hijau 12, 01.25
Rahmi Dwi Hastuty
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Juli 2012
Kamis, 24 Februari 2011
Selamat Hari Lahir Untuk Himapuraku Tercinta....
Selamat Milad yang ke tiga Himapura-ku….
Untuk ukuran anak kecil mungkin kau masih sangat lucu-lucunya. Menggemaskan. Ya, tak terasa usiamu menginjak tiga tahun. Masih muda memang. Namun kau mampu buktikan bahwa kau bersama kami mampu menatap dunia yang tak ramah pada kita. Tertawa, menangis, tersenyum bersama.
Bersama membentuk dirimu. Mengembangkan ide-ide kami yang tak tersalurkan. (???) Bersatu karena merasa senasib. Senasib karena teman-teman dari Martapura yang tidak terorganisir. Hingga sebelum terbentuk aku hanya tahu bahwa anak martapura itu hanya Neli, Nurul, dan Kenan. Walaupun akhirnya terlambat bergabung karena keterbatasan kesehatan (bahasa lain dari sering sakit, hihihi...). :)
Setelah perburuan panjang karena mencari dan menghubungi anak-anak yang diduga dari martapura. (hihihi..) Serta perjuangan panjang mencoba ‘menelurkan’ Himapura. :). Dan tibalah hari itu hari menetasnya Himapura. Di aula Pansos Dharmapala tepatnya tanggal 24 Februari 2008 kau lahir (Alhamdulillah..). Lahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan SDM. Keterbatasan dana. Dan segala keterbatasan lainnya. (halah…)
Terima kasih untuk Rudiansyah yang telah menyumbang banyak untuk ‘Himapura’. Kenapa pada kata Himapura diberi tanpa petik? Karena dari Rudi itulah nama itu terucap. Setelah nama Imara tak mendapat respon yang baik (hiks, padahal saya suka sekali dengan nama itu. T_T). Tapi kami beberapa tahun ini—lebih tepatnya saat kepengurusan kami—kami memaksamu berlari. ‘Memaksamu’ untuk mencoba membuktikan eksistensimu pada dunia. Pada Martapura tepatnya.
Akhirnya tiba masa itu, masa dimana harus ada regenerasi. Sudah sunnatullah. Akhirnya di Villa Terapung RU semuanya berakhir. Kami menyerahkan tampuk pimpinan setelah setahun dipegang Herman Susanti (upssss, Susanto… Maaf Herman… Peace… :)) kepada Wahyu Budianto. Sekarang, seperti yang kalian tahu pimpinan dipegang Azhari Husni. Untung gak Azhari Husno, karena nama dua pimpinan lainnya berakhiran O. Sebentar lagi pun akan segera berakhir masa baktinya.
Saya tidak akan menceritakan apa lagi mengomentari bagaimana Himapura sekarang. Tapi izinkan saya mengenang saat itu. Saat-saat Himapura belum satu tahun. Azhari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Slamat, Rizki, Puput, Mayang, Rudi dan kawan-kawan adalah saksi hidup (cieee..) bagaimana ‘kerasnya’ rapat Himapura di awal-awal terbentuk. Rapat yang jarang sekali jika diadakan akan terjadi pembicaraan yang baik-baik. Sibuk serang sana-sini karena mencoba mempertahankan pendapat. Herman yang menurut kami--saya, Nurul dan Neli—kadang-kadang ngasih ide yang nyebelin (maaf lagi ya, Man…:) ) lagi-lagi sebagai pihak kalah yang kami serang bertiga. Kadang kala kalo lagi akur nyerangnya berempat bareng Kenan. Nggak adil emang. Hahahaha…
Tapi jujur saat mengenang kejadian itu, ‘ngeroyok’ Herman di rumahnya sendiri—karena awalnya Sekret Himapura ada di Sarjana Blok C no. 37 (kalo gak salah… hihihi—suka ketawa sendiri. Kayaknya kami bertiga puas banget deh kalo sudah membuat Herman pias, karena idenya ditolak mentah-mentah. Kayaknya lagi Herman gak beruntung karena milih kadep-kadep seperti kami. Kadep-kadep yang selalu mencoba menang sendiri. (hihihi..) Dengan pengetahuan Herman yang minim soal organisasi bila dibandingkan dengan sepak terjang para kadepnya, makanya Herman kadang jadi bulan-bulanan kami. Untuk itu please forgive me, Man. Maaf nian. Hehehe.
Oh, iya mari membuka sejarah, diawal kepengurusan Himapura, yang jadi pucuk pimpinan adalah Herman Susanto.
Sekretaris umum: Neli Liana.
Bendahara: Putri Oktaria.
Kadep PSDM: Nurul Aisyiah.
Kadep kerohanian: Rahmi Dwi Hastuty (cuit.. cuit…).
Kadep Humas dan advokasi adalah Kenan Evran Mahdani.
Kadep pemuda, olahraga, dan kebudayaan: statusnya ‘BURONAN’. Nggak jelas kabar beritanya, nggak pernah nongol rapat, deesbe. Makanya dia jadi buronan. (hihihi).
Danus: Rudiansyah. Setelah reshuffle diganti jadi M. Wahyu. Huuu, emang pemerintah aja yang bisa reshuffle
Kestari: Wahyu Winarsih.
PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....
Saya masih sangat terkenang saat kami bergerilya mencari peserta untuk try out SMA/SMK yang diadakan Himapura. Saat itu di SMA 1 Buay Madang, Herman dan Kenan sibuk bertengkar sendiri meributkan siapa yang akan mengawas di SMA Buay Madang. Herman dengan segala argumentasinya begitu juga dengan Kenan. Rusuh deh pokoknya. Saat itu saya mendengar Slamat berkata pada saya, “Mbak kalau kami cak kak Herman samo Kak Kenan tadi, mungkin dak akan pernah lagi muncul di Himapura.” Saat itu saya hanya tersenyum. Saya tak tahu harus menjawab apa.
Mengenang rapat himapura yang keras. Penuh dengan marah-marahan. Nada-nada tinggi yang selalu keluar. Apalagi kami sering silang pendapat. Saya, Neli, Nurul, Herman dan Kenan tidak bisa dihitung seberapa sering keras kepalanya mempertahankan pendapat masing-masing. Jika sudah saling marah-marah, Azhari dkk kadang hanya diem. Takut mungkin. (hihihi). Hayo… Iyon, Ari, Riko, Deni, Dani, ngaku…!
Tapi di luar itu, setelah rapat kami sering ngumpul di depan rumah Herman, ngobrol biasa lagi. Ketawa lagi. Bercanda lagi. Tak ada dendam. Saat itu yang dipikiran kami—hasil share dengan Nurul, dan Neli—itu semua dilakukan demi Himapura, walaupun cara menyampaikannya agak menakutkan. Hahaha…
Saat rapat ya serius rapat, mau marah-marah kek, mau melotot-melotot kek, mau saling ejek atau apalah itu never mind. Tapi setelah rapat ditutup rasa dongkol, marah, sebel, merajuk, apa pun itu rasa yang gak mengenakkan selama rapat menguap begitu saja. Tak perlu berpikir sedemikian keras, karena saat tujuan sudah sama, maka tak aka nada hal yang cukup untuk membuatnya terpecah. Percayalah…
Karena sedikitnya anggota himapura diawal terbentuk hanya ada segelintir orang. Kak Dian, Kak Rio, Yuk Mega (tiga nama itu, hilang tak tahu dimana rimbanya. Kadang-kadang aja nongol itu pun dah kayak manggil Om Je, datang tak dijemput pulang tak diantar. PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....). Maaf kan saya kakak-kakak…. Herman, Kenan, Neli Nurul, Saya, Anja, Wahyu Winarsih, Puput, Wahyu Budianto, M. Wahyu, Mayang, Intan, siapa lagi ya??? Kemudian masuk Jumi, Ari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Pandu, Rizki, Aan, dekaka. Rudiansyah yang akhirnya harus vakum beberapa lama karena karena musibah kecelakaan itu. Welcome back to Himapura, Rudi….
Saat itu kami sering ngadain pertemuan-pertemuan gak penting, sekedar kumpul, makan seadanya eh ternyata dari sana ide-ide besar itu muncul. Selain itu kedekatan secara emosional antar personil himapura juga makin terasa. Benar-benar seperti sebuah keluarga. Wa bil khusus untuk Ari n Iyon yang bulan depan milad juga. Pengen makan-makan seperti dulu, Ri, Yon. Tapi kalian yang traktir kan milad. Hahaha... ngarep.com.
Hari ini saya mengenangnya. Mengenang saat-saat bersejarah itu. Saat terbentuknya himapura yang bahkan tak sempat terselamatkan foto-foto kenangan itu. (hiks.. hiks..).
Ah, kenapa jadi seserius ini? :)
And, the last… Jadi teringat dengan Herman Lagi. Saat mengatakan, “Pesan terakhir dari kakak…” hihihi. Tapi tenang, saya tak akan mengatakan pesan terakhir dari mbak kok. :D.
Untuk adik-adikku yang masih memegang jabatan di Himapura dan yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya. Jangan pusing dengan ulah para personil Himapura lainnya. Karena untuk menyentuh hati maka diperlukan hati pula. Kedekatan emosional itu penting, untuk membuat mereka yang baru kenal Himapura agar mampu mencintai Himapura pula.
Jangan lelah untuk berusaha memajukan Himapura. Percayalah jika mau terus berjalan maka akan kau temukan jalan terang itu. Semangat!!!
Terspesial untuk Wahyu Budiano, maafkan karena dengan emosional tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanmu memilih akan mengundurkan diri di percaturan Himapura. Yang ternyata keputusan gak mutu saya malah membuatmu sedikit down karena merasa tak disokong. Maaf… benar-benar maaf… Yang walaupun akhirnya gak jadi juga. Hahaha…
Spesial juga untuk azhari Husni, jangan menyerah, dek. Percayalah akan ada banyak tangan yang akan mengulurkan bantuan saat engkau terjatuh. Akan ada yang meluruskan saat engkau mulai melenceng. Mengutip dari Aris Ahmad Jay, “Bangkit dan jadilah bukti! Optimislah agar engkau jadi magnet kebaikan”. Motivasi itu juga untuk semua personil Himapura.
Untuk adek-adek angkatan 2009 saatnya kalian berjaya tahun ini. Buktikan bahwa kalian mampu berbuat lebih baik dari kami!
Sekali lagi, SELAMAT HARI LAHIR YANG KETIGA UNTUK HIMAPURA….
Untuk ukuran anak kecil mungkin kau masih sangat lucu-lucunya. Menggemaskan. Ya, tak terasa usiamu menginjak tiga tahun. Masih muda memang. Namun kau mampu buktikan bahwa kau bersama kami mampu menatap dunia yang tak ramah pada kita. Tertawa, menangis, tersenyum bersama.
Bersama membentuk dirimu. Mengembangkan ide-ide kami yang tak tersalurkan. (???) Bersatu karena merasa senasib. Senasib karena teman-teman dari Martapura yang tidak terorganisir. Hingga sebelum terbentuk aku hanya tahu bahwa anak martapura itu hanya Neli, Nurul, dan Kenan. Walaupun akhirnya terlambat bergabung karena keterbatasan kesehatan (bahasa lain dari sering sakit, hihihi...). :)
Setelah perburuan panjang karena mencari dan menghubungi anak-anak yang diduga dari martapura. (hihihi..) Serta perjuangan panjang mencoba ‘menelurkan’ Himapura. :). Dan tibalah hari itu hari menetasnya Himapura. Di aula Pansos Dharmapala tepatnya tanggal 24 Februari 2008 kau lahir (Alhamdulillah..). Lahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan SDM. Keterbatasan dana. Dan segala keterbatasan lainnya. (halah…)
Terima kasih untuk Rudiansyah yang telah menyumbang banyak untuk ‘Himapura’. Kenapa pada kata Himapura diberi tanpa petik? Karena dari Rudi itulah nama itu terucap. Setelah nama Imara tak mendapat respon yang baik (hiks, padahal saya suka sekali dengan nama itu. T_T). Tapi kami beberapa tahun ini—lebih tepatnya saat kepengurusan kami—kami memaksamu berlari. ‘Memaksamu’ untuk mencoba membuktikan eksistensimu pada dunia. Pada Martapura tepatnya.
Akhirnya tiba masa itu, masa dimana harus ada regenerasi. Sudah sunnatullah. Akhirnya di Villa Terapung RU semuanya berakhir. Kami menyerahkan tampuk pimpinan setelah setahun dipegang Herman Susanti (upssss, Susanto… Maaf Herman… Peace… :)) kepada Wahyu Budianto. Sekarang, seperti yang kalian tahu pimpinan dipegang Azhari Husni. Untung gak Azhari Husno, karena nama dua pimpinan lainnya berakhiran O. Sebentar lagi pun akan segera berakhir masa baktinya.
Saya tidak akan menceritakan apa lagi mengomentari bagaimana Himapura sekarang. Tapi izinkan saya mengenang saat itu. Saat-saat Himapura belum satu tahun. Azhari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Slamat, Rizki, Puput, Mayang, Rudi dan kawan-kawan adalah saksi hidup (cieee..) bagaimana ‘kerasnya’ rapat Himapura di awal-awal terbentuk. Rapat yang jarang sekali jika diadakan akan terjadi pembicaraan yang baik-baik. Sibuk serang sana-sini karena mencoba mempertahankan pendapat. Herman yang menurut kami--saya, Nurul dan Neli—kadang-kadang ngasih ide yang nyebelin (maaf lagi ya, Man…:) ) lagi-lagi sebagai pihak kalah yang kami serang bertiga. Kadang kala kalo lagi akur nyerangnya berempat bareng Kenan. Nggak adil emang. Hahahaha…
Tapi jujur saat mengenang kejadian itu, ‘ngeroyok’ Herman di rumahnya sendiri—karena awalnya Sekret Himapura ada di Sarjana Blok C no. 37 (kalo gak salah… hihihi—suka ketawa sendiri. Kayaknya kami bertiga puas banget deh kalo sudah membuat Herman pias, karena idenya ditolak mentah-mentah. Kayaknya lagi Herman gak beruntung karena milih kadep-kadep seperti kami. Kadep-kadep yang selalu mencoba menang sendiri. (hihihi..) Dengan pengetahuan Herman yang minim soal organisasi bila dibandingkan dengan sepak terjang para kadepnya, makanya Herman kadang jadi bulan-bulanan kami. Untuk itu please forgive me, Man. Maaf nian. Hehehe.
Oh, iya mari membuka sejarah, diawal kepengurusan Himapura, yang jadi pucuk pimpinan adalah Herman Susanto.
Sekretaris umum: Neli Liana.
Bendahara: Putri Oktaria.
Kadep PSDM: Nurul Aisyiah.
Kadep kerohanian: Rahmi Dwi Hastuty (cuit.. cuit…).
Kadep Humas dan advokasi adalah Kenan Evran Mahdani.
Kadep pemuda, olahraga, dan kebudayaan: statusnya ‘BURONAN’. Nggak jelas kabar beritanya, nggak pernah nongol rapat, deesbe. Makanya dia jadi buronan. (hihihi).
Danus: Rudiansyah. Setelah reshuffle diganti jadi M. Wahyu. Huuu, emang pemerintah aja yang bisa reshuffle
Kestari: Wahyu Winarsih.
PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....
Saya masih sangat terkenang saat kami bergerilya mencari peserta untuk try out SMA/SMK yang diadakan Himapura. Saat itu di SMA 1 Buay Madang, Herman dan Kenan sibuk bertengkar sendiri meributkan siapa yang akan mengawas di SMA Buay Madang. Herman dengan segala argumentasinya begitu juga dengan Kenan. Rusuh deh pokoknya. Saat itu saya mendengar Slamat berkata pada saya, “Mbak kalau kami cak kak Herman samo Kak Kenan tadi, mungkin dak akan pernah lagi muncul di Himapura.” Saat itu saya hanya tersenyum. Saya tak tahu harus menjawab apa.
Mengenang rapat himapura yang keras. Penuh dengan marah-marahan. Nada-nada tinggi yang selalu keluar. Apalagi kami sering silang pendapat. Saya, Neli, Nurul, Herman dan Kenan tidak bisa dihitung seberapa sering keras kepalanya mempertahankan pendapat masing-masing. Jika sudah saling marah-marah, Azhari dkk kadang hanya diem. Takut mungkin. (hihihi). Hayo… Iyon, Ari, Riko, Deni, Dani, ngaku…!
Tapi di luar itu, setelah rapat kami sering ngumpul di depan rumah Herman, ngobrol biasa lagi. Ketawa lagi. Bercanda lagi. Tak ada dendam. Saat itu yang dipikiran kami—hasil share dengan Nurul, dan Neli—itu semua dilakukan demi Himapura, walaupun cara menyampaikannya agak menakutkan. Hahaha…
Saat rapat ya serius rapat, mau marah-marah kek, mau melotot-melotot kek, mau saling ejek atau apalah itu never mind. Tapi setelah rapat ditutup rasa dongkol, marah, sebel, merajuk, apa pun itu rasa yang gak mengenakkan selama rapat menguap begitu saja. Tak perlu berpikir sedemikian keras, karena saat tujuan sudah sama, maka tak aka nada hal yang cukup untuk membuatnya terpecah. Percayalah…
Karena sedikitnya anggota himapura diawal terbentuk hanya ada segelintir orang. Kak Dian, Kak Rio, Yuk Mega (tiga nama itu, hilang tak tahu dimana rimbanya. Kadang-kadang aja nongol itu pun dah kayak manggil Om Je, datang tak dijemput pulang tak diantar. PS. Maafkan kalau ada yang terlupa dari semua fungsional Himapura di masa Herman....). Maaf kan saya kakak-kakak…. Herman, Kenan, Neli Nurul, Saya, Anja, Wahyu Winarsih, Puput, Wahyu Budianto, M. Wahyu, Mayang, Intan, siapa lagi ya??? Kemudian masuk Jumi, Ari, Iyon, Riko, Deni, Dani, Pandu, Rizki, Aan, dekaka. Rudiansyah yang akhirnya harus vakum beberapa lama karena karena musibah kecelakaan itu. Welcome back to Himapura, Rudi….
Saat itu kami sering ngadain pertemuan-pertemuan gak penting, sekedar kumpul, makan seadanya eh ternyata dari sana ide-ide besar itu muncul. Selain itu kedekatan secara emosional antar personil himapura juga makin terasa. Benar-benar seperti sebuah keluarga. Wa bil khusus untuk Ari n Iyon yang bulan depan milad juga. Pengen makan-makan seperti dulu, Ri, Yon. Tapi kalian yang traktir kan milad. Hahaha... ngarep.com.
Hari ini saya mengenangnya. Mengenang saat-saat bersejarah itu. Saat terbentuknya himapura yang bahkan tak sempat terselamatkan foto-foto kenangan itu. (hiks.. hiks..).
Ah, kenapa jadi seserius ini? :)
And, the last… Jadi teringat dengan Herman Lagi. Saat mengatakan, “Pesan terakhir dari kakak…” hihihi. Tapi tenang, saya tak akan mengatakan pesan terakhir dari mbak kok. :D.
Untuk adik-adikku yang masih memegang jabatan di Himapura dan yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya. Jangan pusing dengan ulah para personil Himapura lainnya. Karena untuk menyentuh hati maka diperlukan hati pula. Kedekatan emosional itu penting, untuk membuat mereka yang baru kenal Himapura agar mampu mencintai Himapura pula.
Jangan lelah untuk berusaha memajukan Himapura. Percayalah jika mau terus berjalan maka akan kau temukan jalan terang itu. Semangat!!!
Terspesial untuk Wahyu Budiano, maafkan karena dengan emosional tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanmu memilih akan mengundurkan diri di percaturan Himapura. Yang ternyata keputusan gak mutu saya malah membuatmu sedikit down karena merasa tak disokong. Maaf… benar-benar maaf… Yang walaupun akhirnya gak jadi juga. Hahaha…
Spesial juga untuk azhari Husni, jangan menyerah, dek. Percayalah akan ada banyak tangan yang akan mengulurkan bantuan saat engkau terjatuh. Akan ada yang meluruskan saat engkau mulai melenceng. Mengutip dari Aris Ahmad Jay, “Bangkit dan jadilah bukti! Optimislah agar engkau jadi magnet kebaikan”. Motivasi itu juga untuk semua personil Himapura.
Untuk adek-adek angkatan 2009 saatnya kalian berjaya tahun ini. Buktikan bahwa kalian mampu berbuat lebih baik dari kami!
Sekali lagi, SELAMAT HARI LAHIR YANG KETIGA UNTUK HIMAPURA….
Rabu, 03 November 2010
Sebiru Hari Ini
Awalnya iseng-iseng buka web-nya Edcoustic. Eh liat judul lagunya kok ya seru banget. bikin penasaran. jadinya searching di google, pengen liat lagu itu temanya tentang apa gitu. eh pas ketemu, kayaknya keren tuh. temanya soal persahabatan sih...
kebetulan emang lagi kangen sama sahabat-sahabatku yang nun jauh di sana. udah pada pulkam semua. mana ada yang jarang bales SMS pula. Jadi tambah kangen.
dulu, mudah nian menemukan mereka. bertemu mereka. bercanda, tertawa bersama. menangis bersama. masak-masak n makan-makan (walaupun yang dimasak, entah gimana rasanya. Jadi artis (ada rumah tidur sembarangan), berkelana dari satu kost ke kost yang lain. hehehe.
pulang kemalaman, hingga kena tegur para ikhwan (karena sering pulang maghrib, hihihi). saling cela. saling tegur. saling menasehati. saling--kadang-kadang-- sok tau. (huihihi).
Makin kangen sama mereka... apalagi buku yang dibaca akhir-akhir ini lebih banyak soal persahabatan.
yang paling diingat saat aku sama erma make baju yang sama--baju waki--, jilbab putih, rok hitam (kalo erma rok biru dongker) dan ransel hitam. Wandi, pales dkk deh sibuk bergaya ala ibu-ibu yang sedang nyanyi qasidah. Pada gak sopan itu adek-adek sama mbak-mbaknya. hehehe. ulah mereka akhirnya memancing orang-orang untuk memperhatikan kami berdua. erma dengan kalemnya ngomong begini "Dak apo mik, itu tandonyo kito emang ado chemistry-nyo." (halah, apo dio oi maksudnyo ini? Keluar deh bahasa kerajaannya, huihihi...) akhirnya jawaban ngelantur keluar dari mulutku, "Kami kan make telepati... hahaha".
ingat dengan teman-teman "satu lingkaran". yang hampir tiap minggu ngumpul di satu tempat. hahaha. Tak terpisahkah sejak 2005. hingga takdir Allah memisahkan kami. masing-masing pulang ke kampung halamannya. saling menasehati, saling dukung, saling menguatkan. ah... mengingat wajah itu satu persatu membuat mataku gerimis. karena ada kalian disisiku, lima tahun ini begitu berwarna. warna-warna cinta....
Duhai Allah Sang Maha Cinta, sampaikanlah kepada mereka bahwa aku merindukan mereka.
Semoga mereka semua selalu dalam lindungan Engkau Ya Allah...
Semoga mereka selalu dalam petunjuk-Mu Ya Rabb...
Tetapkan mereka untuk selalu dalam hidayah-Mu Ya Ilahi...
Untuk Erma Fitriyani, Heriyah, Lidiawati, Reni Sarlin, Prati Negasari, Listiyorini, Era yuliana, Yenni, Wulan, Lena, Sherly Korpriyanti, Rizka Melita Sari, Aida FKIP, Anita, Ida Fahrika, Fadilah, Ari Diliyanti Puspita, Shinta Ambar Wulan, Rani Rajungan Eska Tantri, Heti Andriyani, Neli Liana, Novetri Sari, Nurul Aisyiah, Aku merindukan canda tawa kita lagi. i love you coz Allah. semoga persaudaraan ini kekal hingga ke jannah-Nya.
amin....
nah, aku mengetik entri ini sembari ditemani oleh lagu edcoustic sebiru hari ini. Lirik yang membuat mataku basah, ingat kalian. ini lirik sebiru hari ini....
Sebiru hari ini, Edcoustic
Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di sini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
intro
reff 2x
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
Semoga rindu ini tersampaikan pada kalian....
Miss u guys...
Kalau pun kita tak bisa bertemu langsung, semoga kita saling menguatkan lewat doa, saudaraku.
yang merindukan kalian
Rahmi Badar
Sarjana B 18, 3 November 2010.
10.15
Selasa, 19 Oktober 2010
Untukmu Duhai Sahabat
Untukmu duhai sahabat…
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Langganan:
Postingan (Atom)