Malam sabtu alias jum’at malam saat saya sedang mencoba untuk tidur, tepat di depan kos saya terdengar suara kucing berantem. Saya misuh-misuh. Lah itu kucing nggak tau diri banget dah. Gak tau apa yah kalo udah malem banget. Waktunya orang mau tidur tau.
Biasanya kalo ada kucing berantem saya akan bawa gayung yang berisi air terus disiram deh ke kucing-kucing itu. Hasilnya manjur banget. Kucingnya pada ngibrit semua. Gak jadi berantem, soalnya pada sibuk ngeringin bulu mereka yang basah. Kalo udah kering n ketemu lagi, ya berantem lagi. Hihihi. Jangan coba dekat-dekat ya apalagi sok mau misahin, ntar kamu yang malah dicakar mereka.
Saya yang udah siap-siap mau tidur, males buka pintu trus nyiram kucing-kucing gak tau aturan itu. Lumayan lama suara beratem kucingnya. Nah, sebenarnya saya ngerasa ada yang aneh dari suara kucing berantem itu. Kok suara kucingnya cuman satu alias solo. Biasanya duo atau trio. Lah ini kok cuma satu? Bawaan ngantuk jadi saya cuekin aja deh. Terserah.
Pagi-pagi pas buka pintu mo jemur pakaian, saya kaget. Kejutan untuk saya pagi itu adalah ular sepanjang 40 cm ada di tanah dekat pintu kos. Tubuh saya beku, jantung saya dag dig dug duer. Saya udah mau teriak aja manggil bapak kos. Eh sebentar, tu ular kok gak gerak-gerak yah? Saya perhatiin baik-baik, jangan-jangan udah mati.
Saya maju satu langkah, bener deh. Udah mati. Badannya aja udah dikerubutin semut merah. Saya alhamdulilllah berkali-kali. Hihihi. Hiperbola banget yah.
Karena tau udah mati baru deh saya berani mendekat. Hehehe. Saya perhatiin lagi itu ular. Kok gak ada tanda-tanda dipukul yah? Gak ada tanda-tanda bekas penganiayaan pake benda tumpul (gayanya sok jadi tim investigasi polisi). Hehe. Saya perhatiin lagi. Eh, ada luka-luka tuh, luka sobek. Kayaknya penganiayaan pake benda tajam nih—mulai ngelantur--. :p
Yuk, cari siapa pembunuhnya. Adoooohh... gak penting banget sih kerjaan saya pagi itu. Ngapain nyariin pembunuhnya toh ini ular juga gak dicariin sama orang tuanya. Buktinya gak ada laporan kehilangan anak tuh. (Makin gak jelas nih ngomong apaan. Hihihi.)
I have a suspect. Jangan-jangan yang bunuh ular ini kucing yang semalam. Tapi buat mastiin saya lapor sama bapak kos. Celingak-celinguk nyari Pak Mamat. Nah itu dia orangnya.
Saya : “Pak, Bapak ya yang semalam bunuh ular depan kamar Ami?”
Pak Mamat : “Ular? Bapak dak bunuh ular semalam.
Trus bapak liat mayat ularnya. Saya ngikutin dari belakang. Tuh benerkan bukan Pak Mamat yang bunuh. Kucing nih tersangkanya.
Pak Mamat : “Kucing mungkin ini yang bunuhnya. Bapak dak bunuh ular semalam.”
Saya : (ngangguk-ngangguk)
Dibuang deh ularnya sama Bapak ke kebun sebelah pagar. Dalam hati saya nih, “Maaf ya ular, saya gak bisa nguburin dengan prosesi yang layak.” –mulai lebay. Hehe—
Nah balik ke pembunuhnya nih. Gak tau kucing yang mana. Ada 3 kucing yang biasa berkeliaran di sekitar kos. Kucing abu-abu, jenisnya jantan. Yang kedua kucing kuning putih hitam, jenisnya betina. Yang ketiga kucing kuning putih, kayaknya sih anaknya si kuning putih hitam.
Kalo aja ketemu kucingnya, saya mo bilang makasih. Coba aja kalo gak ketemu tu kucing n gak berantem, mungkin ularnya malah silaturrahim ke kos saya. Ngajak ngobrol atau numpang tidur, di sepertiga malam bangunin saya trus ngomong, “Bangun cuy, shalat lail dulu.” Hahaha... ngayal terus....
Malemnya pas mau tidur, saya keinget untuk nutup bawah pintu kos dengan kain. Takutnya nih saudaranya si ular yang mati kemarin malem nyariin. Kan udah satu kali dua puluh empat jam, udah bisa lapor kehilangan. Hehe.
Dalam pikiran saya nih, saudaranya ular itu nyelinap dari bawah pintu trus nanya saya gini:
Saudaranya ular :”Liat saudara saya gak? Kemaren malem main ke sekitar sini. Katanya sih jalan-jalan. Tapi sampai sekarang gak pulang-pulang. Udah lapor kehilangan tapi belum ada hasil juga.
Nah kalo pertanyaannya gitu, saya mau jawab apa dong? Masa saya jawab gini, “Oh ada, tapi udah mati digigit kucing. Trus mayatnya dibuang Pak Mamat ke kebun sebelah. Cari aja deh di sono, siapa tau ketemu.”
Aduuuh, khayalan saya tingkat tinggi banget dah.
Well, saya bersyukur pada Allah ternyata Allah menyelamatkan saya dari ular itu, lewat hewan kesayangan saya, kucing. :)
#kangen bella, kangen juga sama Mamet, Umpil, Cat terutama YUI ^_^
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Juli 2012
Dakwah ini mengajariku banyak hal....
Dakwah ini mengajariku banyak hal. Itu yang pertama terlintas dibenak. Hmm... sepertinya bahasan kali ini berat nih. Hehe. :p
Percakapan yang lumayan panjang malam itu dengan seorang sahabat, membuatku mau tak mau mengingat kembali awal mula perjalanan panjang ini. Saat itu setelah percakapan kami berakhir, ia—via SMS--masih sempat menyuruhku beristirahat. Tapi ternyata tubuh ini masih menyimpan resahnya sendiri. Alih-alih istirahat saya malah menulis. Walau malam sudah mencapai separuhnya tapi mata ini tak jua bisa diajak kompromi.
Orang tua saya memberi nama Rahmi Dwi Hastuti. Tapi ternyata orang-orang di catatan sipil kreatif sekali. Saya yang waktu SD bangga dengan tiga akhiran i di belakang nama saya harus merelakan kata terakhir dari nama saya berakhiran y. Sempat protes juga pada Ibu kenapa saya yang lahir di bulan Mei harus menuliskan Juni di bulan lahir saya untuk pengisian biodata. Kesalahan akta kelahiran yang dibuat di capil. Sekarang jika ada yang bertanya tanggal lahir dengan iseng saya malah balik nanya, “Mau yang asli apa yang palsu?” Yang bertanya bengong mendengar pertanyaan saya. Hehe...
Saya lahir dengan embel-embel suku komering. Suku yang bagi banyak orang di Indonesia ini lekat dengan masalah kriminal. Banyak preman-preman di kota-kota besar dengan suku ini. Sisi positifnya jika bepergian keluar Sumatera Selatan, menggunakan bahasa Palembang atau bahasa komering biasanya aman dari aksi kriminal. Hihihi... Negatifnya orang-orang takut dengan kita, disangkanya bagian dari kawanan kriminal itu. Hadeeeh. Yah ada positif negatifnyalah.
Saya sempat menahan tawa dan terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri, melihat seorang teman dalam perjalanan menuju Lampung. Saat itu kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Martapura. Saat berhenti itu masuklah pengamen. Mendengar mereka bernyanyi sontak teman saya itu menarik kedua tangannya, dimasukkan ke dalam jilbab. Ia secara refleks menutup kedua telinganya dengan tangan. Setelah pengamen itu pergi, sambil geleng-geleng teman saya bilang, “Aih parah... nyanyi apa ngajak berantem sih pengamen tadi?” Tawa saya langsung meledak saat itu juga. Dengan senyum dikulum saya kemudian berkomentar, “Ya beginilah Martapura, yang kalian kira marah itu, sebenarnya mereka hanya ngobrol.”
Itulah mengapa saat pertama kali diterima di Unsri, saya sempat mengalami syok juga. Teman-teman dan kakak tingkat sibuk protes dan mengkritik nada suara saya yang katanya ‘terlalu tinggi’. Yang buat saya heran, kok teman-teman di Martapura gak ada yang protes dengan yang ‘terlalu tinggi’ itu. Seorang sahabat dengan bijak mengatakan, “Beda Mi. Di sana mungkin nada yang seperti itu dianggap biasa. Tapi di sini jadi luar biasa.” Dalam hati saya bilang, “Bisa jadi...”
Seorang teman yang juga dari Martapura pernah bilang begini, “Nah wong Martapura ni apalagi komering ga marah aja dikira marah. Apalagi marah jangan-jangan dikira mau bunuh orang.” Saya cekikikan mendengar komennya.
Bukan saya ingin membela suku sendiri sih. Saya lahir dan besar di Martapura. Baru merantau saat masuk kuliah. Notabenenya delapan belas tahun saya habiskan di Martapura. Kultur yang seperti itu sudah seperti mengakar di diri saya. Dan ternyata gak cuma saya yang seperti itu. Tengoklah saat anggota Himpunan Mahasiswa Martapura berkumpul kadang kala yang datang baru 3 orang tapi suaranya sudah hampir mencapai 10 orang. :)
Kadang kala saat ingin memperjelas sesuatu karena ada beberapa teman yang tak mendengar, saya mengeraskan suara. Teman saya langsung komen, “Iya tau. Gak usah marah-marah kale.” Jreeeeenggggg... saya langsung diem. Dalam hati saya nih, “Yah... salah lagi. Padahal niatnya mau bantu.” T.T
Saya jadi berpikir apa saya sebegitu buruknya? Akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri. Berarti masih ada dalam diri yang membuat saudara-saudara saya ini tak nyaman untuk berdekatan. Masih banyak perbuatan dan lisan ini yang menyakiti mereka, dan ternyata itu saya lakukan entah dengan sengaja atau pun tidak disengaja. Untuk semua yang pernah tersakiti hatinya oleh saya, saya memohon kemaafan dari kalian. :)
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Sejak saya bergabung di jalan dakwah ini membuat saya banyak berubah. Jika ditilik dari awal mula bergabung hingga sekarang, saya tak pernah menyangka akan berubah sampai sejauh ini. Perubahan itu signifikan sekali.
Pertama kali dapat penilaian dari orang lain hasilnya negatif. Terlalu banyak buruknya dari pada baiknya. Kertas hasil penilaian mereka yang banyak nilai merahnya untuk saya itu masih saya simpan hingga dua tahun yang lalu. Masih suka saya baca-baca untuk muhasabah. Dua tahun lalu seorang teman yang meminjam catatan saya menghilangkannya.
Dari itu mencoba introspeksi lagi, oh ternyata saya begini. Dan hal yang sampai sekarang masih sulit saya kendalikan adalah nada bicara saya. Masih ‘terlalu tinggi’ untuk ukuran saudara-saudara saya itu. Jika saya pulang ke Martapura dan naik angkot, nada suara saya yang sekarang gak cukup untuk bikin sopir angkot menghentikan laju mobilnya, alias gak denger saya minta berhenti. Atau paling tidak membuat Ibu harus mengulang panggilannya sekali lagi, karena tak mendengar saya menjawab panggilannya. Hehe...
Pernah terlintas dalam benak saya untuk jadi seperti mbak-mbak senior saya di kampus. Anggun dengan jilbabnya, lembut dan tampak tenang. Saya pernah mencoba seperti itu. Hasilnya saya merasa seperti membohongi diri sendiri. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Ini bukan wujud pembelaan diri karena tak mau berubah kearah yang lebih baik. Bukan. Sama sekali bukan. Saya hanya merasa itu bukan saya.
Akhirnya saya bukan berubah untuk jadi seperti mbak itu atau mbak ini. Saya mencoba untuk jadi saya sendiri, dengan catatan ya sisi negatif saya dihilangkan atau paling tidak diminimalisir. Saya ketawa sendiri mengingat sebuah buku yang pernah saya baca. Pengennya ngomong kayak gitu. Cuma kesannya kok kayak gak mau berubah ya. Hehe... Nih saya kutip tulisannya—dengan editan versi saya lho ini. “Ami ya begini ini, nerima syukur, nggak terima kebangetan.” #korban buku Parcel Mini La Tansa. Hihihi...
Kebersamaan ini mengajari saya banyak hal. Mengajari saya untuk lebih peka, lebih peduli dan lebih memahami. Mengajari saya meminta maaf atas kesalahan yang dibuat. Mengajari memaafkan saudara yang bersalah karena mereka bukan malaikat yang gak pernah salah. Kebersamaan ini mengajari saya mempelajari karakteristik mereka satu per satu, belajar dari mereka walaupun mereka tanpa sadar ngajarinnya ke saya. Mengajari untuk setiap hari berproses menjadi lebih baik lagi. Walau pun karakter saya yang galak itu agak sulit saya ubah. Mau bantu saya untuk berubah? Hehehe...
Saya terkenang dengan kisah antara Abu Dzar dan Bilal bin Rabah. Seperti yang dituliskan oleh Salim A. Fillah, di buku Dalam Dekapan Ukhuwah. “Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditunjukkan ke wajah kita seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw kepada Abu Dzar. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Saya sadar masih banyak kekurangan saya. Mungkin masih banyak saudara-saudara di kehidupan ini yang belum mendapatkan perlakuan yang selayaknya dari saya. Mungkin masih banyak yang mengeluhkan sikap dan lisan saya.
Saya sadari itu. Dan saya membayangkan, pun jika Rasulullah saw di depan saya sekarang, pasti lisan yang mulia itu juga akan berucap hal yang sama. Sama seperti ucapan yang beliau tujukan untuk Abu Dzar. “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Untuk saudara-saudaraku yang sempat bahkan sering terlukai hatinya karena lisan dan perbuatan saya, tolong maafkan saya. ^_^
Hijau 12, 01.25
Rahmi Dwi Hastuty
Percakapan yang lumayan panjang malam itu dengan seorang sahabat, membuatku mau tak mau mengingat kembali awal mula perjalanan panjang ini. Saat itu setelah percakapan kami berakhir, ia—via SMS--masih sempat menyuruhku beristirahat. Tapi ternyata tubuh ini masih menyimpan resahnya sendiri. Alih-alih istirahat saya malah menulis. Walau malam sudah mencapai separuhnya tapi mata ini tak jua bisa diajak kompromi.
Orang tua saya memberi nama Rahmi Dwi Hastuti. Tapi ternyata orang-orang di catatan sipil kreatif sekali. Saya yang waktu SD bangga dengan tiga akhiran i di belakang nama saya harus merelakan kata terakhir dari nama saya berakhiran y. Sempat protes juga pada Ibu kenapa saya yang lahir di bulan Mei harus menuliskan Juni di bulan lahir saya untuk pengisian biodata. Kesalahan akta kelahiran yang dibuat di capil. Sekarang jika ada yang bertanya tanggal lahir dengan iseng saya malah balik nanya, “Mau yang asli apa yang palsu?” Yang bertanya bengong mendengar pertanyaan saya. Hehe...
Saya lahir dengan embel-embel suku komering. Suku yang bagi banyak orang di Indonesia ini lekat dengan masalah kriminal. Banyak preman-preman di kota-kota besar dengan suku ini. Sisi positifnya jika bepergian keluar Sumatera Selatan, menggunakan bahasa Palembang atau bahasa komering biasanya aman dari aksi kriminal. Hihihi... Negatifnya orang-orang takut dengan kita, disangkanya bagian dari kawanan kriminal itu. Hadeeeh. Yah ada positif negatifnyalah.
Saya sempat menahan tawa dan terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri, melihat seorang teman dalam perjalanan menuju Lampung. Saat itu kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun Martapura. Saat berhenti itu masuklah pengamen. Mendengar mereka bernyanyi sontak teman saya itu menarik kedua tangannya, dimasukkan ke dalam jilbab. Ia secara refleks menutup kedua telinganya dengan tangan. Setelah pengamen itu pergi, sambil geleng-geleng teman saya bilang, “Aih parah... nyanyi apa ngajak berantem sih pengamen tadi?” Tawa saya langsung meledak saat itu juga. Dengan senyum dikulum saya kemudian berkomentar, “Ya beginilah Martapura, yang kalian kira marah itu, sebenarnya mereka hanya ngobrol.”
Itulah mengapa saat pertama kali diterima di Unsri, saya sempat mengalami syok juga. Teman-teman dan kakak tingkat sibuk protes dan mengkritik nada suara saya yang katanya ‘terlalu tinggi’. Yang buat saya heran, kok teman-teman di Martapura gak ada yang protes dengan yang ‘terlalu tinggi’ itu. Seorang sahabat dengan bijak mengatakan, “Beda Mi. Di sana mungkin nada yang seperti itu dianggap biasa. Tapi di sini jadi luar biasa.” Dalam hati saya bilang, “Bisa jadi...”
Seorang teman yang juga dari Martapura pernah bilang begini, “Nah wong Martapura ni apalagi komering ga marah aja dikira marah. Apalagi marah jangan-jangan dikira mau bunuh orang.” Saya cekikikan mendengar komennya.
Bukan saya ingin membela suku sendiri sih. Saya lahir dan besar di Martapura. Baru merantau saat masuk kuliah. Notabenenya delapan belas tahun saya habiskan di Martapura. Kultur yang seperti itu sudah seperti mengakar di diri saya. Dan ternyata gak cuma saya yang seperti itu. Tengoklah saat anggota Himpunan Mahasiswa Martapura berkumpul kadang kala yang datang baru 3 orang tapi suaranya sudah hampir mencapai 10 orang. :)
Kadang kala saat ingin memperjelas sesuatu karena ada beberapa teman yang tak mendengar, saya mengeraskan suara. Teman saya langsung komen, “Iya tau. Gak usah marah-marah kale.” Jreeeeenggggg... saya langsung diem. Dalam hati saya nih, “Yah... salah lagi. Padahal niatnya mau bantu.” T.T
Saya jadi berpikir apa saya sebegitu buruknya? Akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri. Berarti masih ada dalam diri yang membuat saudara-saudara saya ini tak nyaman untuk berdekatan. Masih banyak perbuatan dan lisan ini yang menyakiti mereka, dan ternyata itu saya lakukan entah dengan sengaja atau pun tidak disengaja. Untuk semua yang pernah tersakiti hatinya oleh saya, saya memohon kemaafan dari kalian. :)
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Sejak saya bergabung di jalan dakwah ini membuat saya banyak berubah. Jika ditilik dari awal mula bergabung hingga sekarang, saya tak pernah menyangka akan berubah sampai sejauh ini. Perubahan itu signifikan sekali.
Pertama kali dapat penilaian dari orang lain hasilnya negatif. Terlalu banyak buruknya dari pada baiknya. Kertas hasil penilaian mereka yang banyak nilai merahnya untuk saya itu masih saya simpan hingga dua tahun yang lalu. Masih suka saya baca-baca untuk muhasabah. Dua tahun lalu seorang teman yang meminjam catatan saya menghilangkannya.
Dari itu mencoba introspeksi lagi, oh ternyata saya begini. Dan hal yang sampai sekarang masih sulit saya kendalikan adalah nada bicara saya. Masih ‘terlalu tinggi’ untuk ukuran saudara-saudara saya itu. Jika saya pulang ke Martapura dan naik angkot, nada suara saya yang sekarang gak cukup untuk bikin sopir angkot menghentikan laju mobilnya, alias gak denger saya minta berhenti. Atau paling tidak membuat Ibu harus mengulang panggilannya sekali lagi, karena tak mendengar saya menjawab panggilannya. Hehe...
Pernah terlintas dalam benak saya untuk jadi seperti mbak-mbak senior saya di kampus. Anggun dengan jilbabnya, lembut dan tampak tenang. Saya pernah mencoba seperti itu. Hasilnya saya merasa seperti membohongi diri sendiri. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Ini bukan wujud pembelaan diri karena tak mau berubah kearah yang lebih baik. Bukan. Sama sekali bukan. Saya hanya merasa itu bukan saya.
Akhirnya saya bukan berubah untuk jadi seperti mbak itu atau mbak ini. Saya mencoba untuk jadi saya sendiri, dengan catatan ya sisi negatif saya dihilangkan atau paling tidak diminimalisir. Saya ketawa sendiri mengingat sebuah buku yang pernah saya baca. Pengennya ngomong kayak gitu. Cuma kesannya kok kayak gak mau berubah ya. Hehe... Nih saya kutip tulisannya—dengan editan versi saya lho ini. “Ami ya begini ini, nerima syukur, nggak terima kebangetan.” #korban buku Parcel Mini La Tansa. Hihihi...
Kebersamaan ini mengajari saya banyak hal. Mengajari saya untuk lebih peka, lebih peduli dan lebih memahami. Mengajari saya meminta maaf atas kesalahan yang dibuat. Mengajari memaafkan saudara yang bersalah karena mereka bukan malaikat yang gak pernah salah. Kebersamaan ini mengajari saya mempelajari karakteristik mereka satu per satu, belajar dari mereka walaupun mereka tanpa sadar ngajarinnya ke saya. Mengajari untuk setiap hari berproses menjadi lebih baik lagi. Walau pun karakter saya yang galak itu agak sulit saya ubah. Mau bantu saya untuk berubah? Hehehe...
Saya terkenang dengan kisah antara Abu Dzar dan Bilal bin Rabah. Seperti yang dituliskan oleh Salim A. Fillah, di buku Dalam Dekapan Ukhuwah. “Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditunjukkan ke wajah kita seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw kepada Abu Dzar. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Saya sadar masih banyak kekurangan saya. Mungkin masih banyak saudara-saudara di kehidupan ini yang belum mendapatkan perlakuan yang selayaknya dari saya. Mungkin masih banyak yang mengeluhkan sikap dan lisan saya.
Saya sadari itu. Dan saya membayangkan, pun jika Rasulullah saw di depan saya sekarang, pasti lisan yang mulia itu juga akan berucap hal yang sama. Sama seperti ucapan yang beliau tujukan untuk Abu Dzar. “Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Untuk saudara-saudaraku yang sempat bahkan sering terlukai hatinya karena lisan dan perbuatan saya, tolong maafkan saya. ^_^
Hijau 12, 01.25
Rahmi Dwi Hastuty
Jumat, 21 Oktober 2011
Kenapa Harus Pacaran (Hasil Survey ^_^)
Ketemu lagi... Saya mo lanjutin posting yang kemaren nih. Baru bisa posting sekarang. Gak usah dibahas deh kenapa saya baru bisa posting. Hehehe…
Ok lanjut surveynya… Dah isi pulsa nih… Bangga beneeerrr dah isi pulsa. Hihihi…
Jawaban dari temen-temen saya beragam. Tapi kalo disimpulin ya hampir samalah. Gak jauh beda gitu. (yaelah apa bedanya kata hampir sama dengan gak jauh beda…) hahaha…
1. Ada yang bilang UNTUK MASA PENJAJAKAN.
Banyak yang jawab ini lho. Katanya, “Pacaran itu untuk masa penjajakan Mi”. hhmmm….
“Kita kan harus memilih siapa yang tepat buat kita. Nah pacaran itu masa dimana kita memilah milih pasangan. Mengenali mereka lebih dekat. Jadi kalo gak cocok, kan belum nikah juga, jadi bisa ditinggalin en nyari yang lain.” Whhhaaaat??? (Baca: ekspresi mata melotot dan mulut menganga).
Dipikiran saya nih, ‘Walah kok kayak milih pakaian aja ya? Yang hijau warnanya suka nih, tapi modelnya dah ketinggalan zaman. Gak jadi beli. Ketemu yang merah, nah modelnya bagus tuh, tapiiiii… harganya gak kuku. Gak jadi juga belinya. Nah yang biru nih, eh kok agak kekecilan ya, mana gak ada ukuran yang pas. Gak jadi lagi.’
Atau bisa jadi kayak gini:
Si A cakep tuh, tapi gayanya norak, kampungan. Dibuang ke laut… (berlebihan… :D). Si B keren juga, yah sayangnya kurang kaya. Ditinggalin deh. (kasian…). Si C mantap nih, ehm… wajahnya ketuaan. Gak noleh sama sekali. (*,*). Si D tampan juga, ih tapi bodohnya amit-amit dah. Makin mantap buat gak dipilih. Sampe ketemu si Z yang juga selalu ada kurangnya. So? Kapan dapetnya??? #mulai histeris. Wkwkwk
Nah, saya ketemu tulisan di bukunya Mbak Asma Nadia nih, ada testimoni dari buku itu yang isinya kayak gini, “Tadinya aku pikir kalau menikah dengan sahabat dekat, segalanya bakal lancar karena kami udah tau sama tau sampai ke yang jelek-jeleknya. Wow, ternyata salah besaaar! Udah sobatan sepuluh tahun nggak bikin kita kenal pasangan kita seratus persen. Jadi sebenarnya yang pacaran itu rada buang-buang waktu juga siy. Toh, kalau udah nikah semuanya mulai dari nol lagi. Banyak hal sepele tentang pasangan yang baru kita tahu setelah kita nikah.”
Nah lho! Siapa tadi yang bilang mengenali lebih dekat? Hayo ngaku! Ngaku gak?
Mengenali lebih dekat? Darimananya? Kalo ternyata kita harus mulai dari nol lagi kalo udah nikah. Boong banget dah. Guys, jangan buang-buang umur untuk mencoba hal yang nggak ada manfaatnya.
2. CUMA NGIKUTIN TEMEN-TEMEN.
“Ikutan temen aja sih, Mi. Biar dibilang gaul gitu.” Yaiksss… Asli saya mau muntah!
Ini nih yang saya gak setuju. Sama sekali. Jadi anggapannya kita gak punya pendirian gitu. Ngikut aja kayak bebek. Hhmmm… Kita kan dah gede. Kalo kata orang-orang sih udah dewasa. Udah seharusnya dunk punya prinsip hidup. Satu lagi, sejak kapan ukuran gaul seseorang ditentukan oleh pacaran? Ada yang bisa menjelaskan sejak jaman kapan hal ini berlaku?
Ntar gara-gara olok-olokan temen ikut goyah juga pendiriannya. Gara-gara temen malah kitanya yang rusak, kan gak bagus banget. Temen pacaran, ikutan pacaran. Temen ngerokok, ikutan ngerokok. Temen mabok ikut juga mabok. Ntar temen mati ikutan mati juga. Ihhh… gak banget deh.
Seharusnya kan kita berjalan berdasarkan prinsip hidup masing-masing. Gak mungkin dong orang akan menghormati prinsip saya kalo sendirinya suka melanggar prinsip yang dipegang. Ya kan? Hidup yang bahagia itu jika berdasarkan prinsip-prinsip yang ada dalam Islam. Berdasarkan aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Hidup di dunia bahagia, matinya bisa masuk sorga. Amin Ya Allah…
Lagipula kalo mo solider liat-iat juga lah. Kalo solider untuk kebaikan sih oke aja. Dalam kebaikan emang harus tolong menolong. Kalo mo dibilang setia kawan harus ngelakuin hal-hal yang melanggar aturan agama. Wew nanti dulu… Setuju temen-temen?
3. BIAR ADA STATUSNYA.
Ini yang paling gak masuk akal. Biar ada statusnya? Yah pacaran gak pacaran juga ada kok statusnya. Yang dah nikah statusnya istri atawa suami. Yang sendirian statusnya jomblo. Masih berstatus juga kan? Lah terus apa bedanya? Ada yang bisa jelasin ke saya???
4.PAS.
“Biar Pas, Mi.” Saya bengong. Ini maksudnya apaan sih? Ternyata ini maksudnya sodara-sodara:
“Pas aku belanja, ada yang bayarin. (heeh..?) Pas mo pergi, ada yang nganterin. (ojek kaleeee…) Pas jamnya makan, ada yang ngingetin—(mungkin weker itu ya atau alarm hape?)—syukur-syukur dibayarin. (Whatt…?) Pas pulsa abis, ada yang ngisiin (M-kios kale…). Biar malming ada acara. (idih…)”
Okelah, tapi ‘pengakuan mengerikan’ ini harus kalian renungkan juga. Ini komen yang terlontar dari someone soal testimoni PAS itu, “Oke, gak masalah harus gitu. Cuma harus ada timbal baliknya dong. Harus ada yang ‘menguntungkan’ kami juga lah.” Waksss…
Saya merinding. Ternyata ada udang dibalik bakwan. Upzzz…salah kalo itu enak ya. Dasar musang berbulu domba! So, guys pikir-pikir lagi ya…
5. BUAT KAWAN NGOBROL DAN BERBAGI.
Emang gak cukup ya teman-teman en keluarga kita untuk tempat curhat? Sehingga harus mencari pelampiasan ke orang lain? Selama ini saya ngerasa cukup tuh. Ada temen-temen yang senantiasa siap untuk berbagi. Punya keluarga yang luar biasa. So, apa lagi yang kurang? Kenapa harus mencari pelampiasan di luar? Hm…
6. FOR FUN
Cuma untuk senang-senang. Menikmati masa muda katanya. Jadi pemuas ego aja, kalo kata temen saya. Bangga bisa memiliki si dia walau cuma sesaat. Bangga bisa jalan sama doi. Di luar sana banyak yang beralasan kayak gini. Ujung-ujungnya? Kalo gak berakhir di KUA, karena ‘kecelakaan’, ya berakhir di tempat-tempat aborsi. Makanya banyak tuh, bayi-bayi yang dibuang ortunya. Mau seneng-senengnya aja, pas diminta tanggung jawab pada tutup mata. Huh…!!
7. KETAGIHAN
Ada juga yang bilang ini ke saya. Katanya sekali kita pacaran bakal nagih lagi.
“Adiktif ya? Kok bisa jadi ketagihan?” saya mencoba menanyakan lebih detil.
“Yoi,” jawab temen saya. “Pengen lagi ada yang merhatiin, ada yang ngingetin makan, ada yang jemput. Gitu deh. So, jangan coba-coba ya!” nasehat temen saya.
Saya mengangguk walaupun rada bingung. Lah yang nasehatin saya aja sering gonta-ganti pacar. Waduhhh… Tapi thanks deh dah ngingetin saya. :)
8. BUTUH PERHATIAN
“Kurang perhatian tuh.”
Iya sih kalo liat temen-temen yang pacaran pasti jadi romantis en perhatian banget ma pacarnya. Mulai dari nanyain udah sarapan hingga makan malem. Sampe mandi atau belum pun ditanyain. Kalo lama gak di SMS atau di telpon, ngambek. Ribetnya…
Sampe ada tuh ngingetin pacarnya buat shalat maghrib, eh si pacar dah shalat tapi karena asyik telpon-an yang ngingetin sendirinya bablas maghribnya. Waduuhhhh…
Walah segitu perhatiannya sama orang yang belum jelas bakal jadi pendamping kita. Yang kadang kala malah sama keluarga sendiri gak perhatian. Dengan temen datengnya pas lagi butuh aja. Padahal kalo putus, lagi-lagi tempat ngadu ya sobat-sobat n keluarganya juga. Huh! Pas seneng, seneng sendiri. Pas susah ngajak-ngajak orang. Ckckck. Gak adil banget dah!
9. GAK ADA GUNANYA
Banyak juga yang bilang, gak ada gunanya. Gak ada manfaatnya sama sekali. So, dari pada ngabisin waktu, nyari kegiatan yang bermanfaat aja, gitu katanya temen-temen saya. Setujuuuuu…!!
Ada nih komen salah satu sahabat saya, “Wa’alaikumsalam. Kalo belum nikah, pacaran gak ada gunanya. Kalo setelah nikah, pacaran artinya menyelami sifat dan tabiat pasangan. Berusaha memahami dan toleransi gituuu! And than pacaran setelah nikah itu ladang pahala lho!!” Wuaaahhhh… ngomporin dia! Mentang-mentang baru ‘pacaran' sama suaminya nih. Hehehe…
10. NANYA BALIK
Yang ini juga banyak. Saya nanya eh malah nanya balik. Weleh weeelleeehhh! Contohnya gini nih:
“Tumben pertanyaannya aneh? Anti gak lagi error kan?”. Whattt??? Malah disangka error. T.T
“Kenapa? Ada yang ngajak pacaran, Mi?”
“Udah tau jawabannya kan?”
11. GAK TAU
“Gak tau! Ana gak pernah pacaran!”
“Gak tau! Tanya yang lain aja!”
“Entah, Mi! Lagian anti kan udah tau, ngapain nanya ana lagi?”
Wew, pada jutek-jutek amat yak. Intinya, gak pada tau mo jawab apa dah, gitu aja simple-nya. Hehehe.
12. ABSTAIN
Bagian ini yang gak bales SMS saya. Entah gak mo jawab. Gak ada pulsa atau apa. Pokoknya abstain. Hehe
Selain itu, ada juga yang maen rahasia-rahasiaan sama saya. Katanya, “Ada deh. Mo tau aja!”. Gedubrakk!
Buat temen-temen yang udah berpartisipasi dalam menjawab survey kecil-kecilan saya, jazakumullah khair. :)
KESIMPULANNYA, gak usah deh pacaran. Gak ada gunanya juga. Jangan takut dibilang gak laku. Jomblo gak berarti gak laku kok. Lebih baik terus memperbaiki diri hingga datang seseorang yang shalih dan baik yang akan meminta kita langsung pada ortu. Dengan jalan yang baik dan yang paling penting DIRIDHAI ALLAH.
Yang saya perhatiin selama ini, kalo udah jadi pacar, sah-sah aja jalan dua-duaan. Gak tau ya, kalo perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim jalan dua-duaan yang ketiganya setan? Hati-hati, ntar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Waspadalah! Kalo dah pacaran sah aja untuk pegangan tangan, terus… terus…. Hiyyyyy…. Nau’udzubillah… Jauh jauh deh!
Gak maukan buat Allah murka? Ntar dikasih tiket gratis menginap selamanya di ‘hotel’ Jahanam. Hiiiyyyy… gak kuku… en gak mau… Saya sih mana sanggup… Gak tau deh kalo kamu. Kalo kamu bilangnya sanggup, sepuluh jempol deh buat kamu. Duanya emang jempol saya, delapannya lagi minjem jempol temen. Hahaha…
So, ngutip judul bukunya Mbak Afifah Afra, BUANGLAH PACAR PADA TEMPATNYA! :D (kira-kira kalo saya ikut bantu promosiin dapet fee gak ya? ($_$) hehe…)
NB. Buat yang mau nambahin kenapa harus pacaran or apa sih gunanya pacaran silakan aja… :)
Ok lanjut surveynya… Dah isi pulsa nih… Bangga beneeerrr dah isi pulsa. Hihihi…
Jawaban dari temen-temen saya beragam. Tapi kalo disimpulin ya hampir samalah. Gak jauh beda gitu. (yaelah apa bedanya kata hampir sama dengan gak jauh beda…) hahaha…
1. Ada yang bilang UNTUK MASA PENJAJAKAN.
Banyak yang jawab ini lho. Katanya, “Pacaran itu untuk masa penjajakan Mi”. hhmmm….
“Kita kan harus memilih siapa yang tepat buat kita. Nah pacaran itu masa dimana kita memilah milih pasangan. Mengenali mereka lebih dekat. Jadi kalo gak cocok, kan belum nikah juga, jadi bisa ditinggalin en nyari yang lain.” Whhhaaaat??? (Baca: ekspresi mata melotot dan mulut menganga).
Dipikiran saya nih, ‘Walah kok kayak milih pakaian aja ya? Yang hijau warnanya suka nih, tapi modelnya dah ketinggalan zaman. Gak jadi beli. Ketemu yang merah, nah modelnya bagus tuh, tapiiiii… harganya gak kuku. Gak jadi juga belinya. Nah yang biru nih, eh kok agak kekecilan ya, mana gak ada ukuran yang pas. Gak jadi lagi.’
Atau bisa jadi kayak gini:
Si A cakep tuh, tapi gayanya norak, kampungan. Dibuang ke laut… (berlebihan… :D). Si B keren juga, yah sayangnya kurang kaya. Ditinggalin deh. (kasian…). Si C mantap nih, ehm… wajahnya ketuaan. Gak noleh sama sekali. (*,*). Si D tampan juga, ih tapi bodohnya amit-amit dah. Makin mantap buat gak dipilih. Sampe ketemu si Z yang juga selalu ada kurangnya. So? Kapan dapetnya??? #mulai histeris. Wkwkwk
Nah, saya ketemu tulisan di bukunya Mbak Asma Nadia nih, ada testimoni dari buku itu yang isinya kayak gini, “Tadinya aku pikir kalau menikah dengan sahabat dekat, segalanya bakal lancar karena kami udah tau sama tau sampai ke yang jelek-jeleknya. Wow, ternyata salah besaaar! Udah sobatan sepuluh tahun nggak bikin kita kenal pasangan kita seratus persen. Jadi sebenarnya yang pacaran itu rada buang-buang waktu juga siy. Toh, kalau udah nikah semuanya mulai dari nol lagi. Banyak hal sepele tentang pasangan yang baru kita tahu setelah kita nikah.”
Nah lho! Siapa tadi yang bilang mengenali lebih dekat? Hayo ngaku! Ngaku gak?
Mengenali lebih dekat? Darimananya? Kalo ternyata kita harus mulai dari nol lagi kalo udah nikah. Boong banget dah. Guys, jangan buang-buang umur untuk mencoba hal yang nggak ada manfaatnya.
2. CUMA NGIKUTIN TEMEN-TEMEN.
“Ikutan temen aja sih, Mi. Biar dibilang gaul gitu.” Yaiksss… Asli saya mau muntah!
Ini nih yang saya gak setuju. Sama sekali. Jadi anggapannya kita gak punya pendirian gitu. Ngikut aja kayak bebek. Hhmmm… Kita kan dah gede. Kalo kata orang-orang sih udah dewasa. Udah seharusnya dunk punya prinsip hidup. Satu lagi, sejak kapan ukuran gaul seseorang ditentukan oleh pacaran? Ada yang bisa menjelaskan sejak jaman kapan hal ini berlaku?
Ntar gara-gara olok-olokan temen ikut goyah juga pendiriannya. Gara-gara temen malah kitanya yang rusak, kan gak bagus banget. Temen pacaran, ikutan pacaran. Temen ngerokok, ikutan ngerokok. Temen mabok ikut juga mabok. Ntar temen mati ikutan mati juga. Ihhh… gak banget deh.
Seharusnya kan kita berjalan berdasarkan prinsip hidup masing-masing. Gak mungkin dong orang akan menghormati prinsip saya kalo sendirinya suka melanggar prinsip yang dipegang. Ya kan? Hidup yang bahagia itu jika berdasarkan prinsip-prinsip yang ada dalam Islam. Berdasarkan aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Hidup di dunia bahagia, matinya bisa masuk sorga. Amin Ya Allah…
Lagipula kalo mo solider liat-iat juga lah. Kalo solider untuk kebaikan sih oke aja. Dalam kebaikan emang harus tolong menolong. Kalo mo dibilang setia kawan harus ngelakuin hal-hal yang melanggar aturan agama. Wew nanti dulu… Setuju temen-temen?
3. BIAR ADA STATUSNYA.
Ini yang paling gak masuk akal. Biar ada statusnya? Yah pacaran gak pacaran juga ada kok statusnya. Yang dah nikah statusnya istri atawa suami. Yang sendirian statusnya jomblo. Masih berstatus juga kan? Lah terus apa bedanya? Ada yang bisa jelasin ke saya???
4.PAS.
“Biar Pas, Mi.” Saya bengong. Ini maksudnya apaan sih? Ternyata ini maksudnya sodara-sodara:
“Pas aku belanja, ada yang bayarin. (heeh..?) Pas mo pergi, ada yang nganterin. (ojek kaleeee…) Pas jamnya makan, ada yang ngingetin—(mungkin weker itu ya atau alarm hape?)—syukur-syukur dibayarin. (Whatt…?) Pas pulsa abis, ada yang ngisiin (M-kios kale…). Biar malming ada acara. (idih…)”
Okelah, tapi ‘pengakuan mengerikan’ ini harus kalian renungkan juga. Ini komen yang terlontar dari someone soal testimoni PAS itu, “Oke, gak masalah harus gitu. Cuma harus ada timbal baliknya dong. Harus ada yang ‘menguntungkan’ kami juga lah.” Waksss…
Saya merinding. Ternyata ada udang dibalik bakwan. Upzzz…salah kalo itu enak ya. Dasar musang berbulu domba! So, guys pikir-pikir lagi ya…
5. BUAT KAWAN NGOBROL DAN BERBAGI.
Emang gak cukup ya teman-teman en keluarga kita untuk tempat curhat? Sehingga harus mencari pelampiasan ke orang lain? Selama ini saya ngerasa cukup tuh. Ada temen-temen yang senantiasa siap untuk berbagi. Punya keluarga yang luar biasa. So, apa lagi yang kurang? Kenapa harus mencari pelampiasan di luar? Hm…
6. FOR FUN
Cuma untuk senang-senang. Menikmati masa muda katanya. Jadi pemuas ego aja, kalo kata temen saya. Bangga bisa memiliki si dia walau cuma sesaat. Bangga bisa jalan sama doi. Di luar sana banyak yang beralasan kayak gini. Ujung-ujungnya? Kalo gak berakhir di KUA, karena ‘kecelakaan’, ya berakhir di tempat-tempat aborsi. Makanya banyak tuh, bayi-bayi yang dibuang ortunya. Mau seneng-senengnya aja, pas diminta tanggung jawab pada tutup mata. Huh…!!
7. KETAGIHAN
Ada juga yang bilang ini ke saya. Katanya sekali kita pacaran bakal nagih lagi.
“Adiktif ya? Kok bisa jadi ketagihan?” saya mencoba menanyakan lebih detil.
“Yoi,” jawab temen saya. “Pengen lagi ada yang merhatiin, ada yang ngingetin makan, ada yang jemput. Gitu deh. So, jangan coba-coba ya!” nasehat temen saya.
Saya mengangguk walaupun rada bingung. Lah yang nasehatin saya aja sering gonta-ganti pacar. Waduhhh… Tapi thanks deh dah ngingetin saya. :)
8. BUTUH PERHATIAN
“Kurang perhatian tuh.”
Iya sih kalo liat temen-temen yang pacaran pasti jadi romantis en perhatian banget ma pacarnya. Mulai dari nanyain udah sarapan hingga makan malem. Sampe mandi atau belum pun ditanyain. Kalo lama gak di SMS atau di telpon, ngambek. Ribetnya…
Sampe ada tuh ngingetin pacarnya buat shalat maghrib, eh si pacar dah shalat tapi karena asyik telpon-an yang ngingetin sendirinya bablas maghribnya. Waduuhhhh…
Walah segitu perhatiannya sama orang yang belum jelas bakal jadi pendamping kita. Yang kadang kala malah sama keluarga sendiri gak perhatian. Dengan temen datengnya pas lagi butuh aja. Padahal kalo putus, lagi-lagi tempat ngadu ya sobat-sobat n keluarganya juga. Huh! Pas seneng, seneng sendiri. Pas susah ngajak-ngajak orang. Ckckck. Gak adil banget dah!
9. GAK ADA GUNANYA
Banyak juga yang bilang, gak ada gunanya. Gak ada manfaatnya sama sekali. So, dari pada ngabisin waktu, nyari kegiatan yang bermanfaat aja, gitu katanya temen-temen saya. Setujuuuuu…!!
Ada nih komen salah satu sahabat saya, “Wa’alaikumsalam. Kalo belum nikah, pacaran gak ada gunanya. Kalo setelah nikah, pacaran artinya menyelami sifat dan tabiat pasangan. Berusaha memahami dan toleransi gituuu! And than pacaran setelah nikah itu ladang pahala lho!!” Wuaaahhhh… ngomporin dia! Mentang-mentang baru ‘pacaran' sama suaminya nih. Hehehe…
10. NANYA BALIK
Yang ini juga banyak. Saya nanya eh malah nanya balik. Weleh weeelleeehhh! Contohnya gini nih:
“Tumben pertanyaannya aneh? Anti gak lagi error kan?”. Whattt??? Malah disangka error. T.T
“Kenapa? Ada yang ngajak pacaran, Mi?”
“Udah tau jawabannya kan?”
11. GAK TAU
“Gak tau! Ana gak pernah pacaran!”
“Gak tau! Tanya yang lain aja!”
“Entah, Mi! Lagian anti kan udah tau, ngapain nanya ana lagi?”
Wew, pada jutek-jutek amat yak. Intinya, gak pada tau mo jawab apa dah, gitu aja simple-nya. Hehehe.
12. ABSTAIN
Bagian ini yang gak bales SMS saya. Entah gak mo jawab. Gak ada pulsa atau apa. Pokoknya abstain. Hehe
Selain itu, ada juga yang maen rahasia-rahasiaan sama saya. Katanya, “Ada deh. Mo tau aja!”. Gedubrakk!
Buat temen-temen yang udah berpartisipasi dalam menjawab survey kecil-kecilan saya, jazakumullah khair. :)
KESIMPULANNYA, gak usah deh pacaran. Gak ada gunanya juga. Jangan takut dibilang gak laku. Jomblo gak berarti gak laku kok. Lebih baik terus memperbaiki diri hingga datang seseorang yang shalih dan baik yang akan meminta kita langsung pada ortu. Dengan jalan yang baik dan yang paling penting DIRIDHAI ALLAH.
Yang saya perhatiin selama ini, kalo udah jadi pacar, sah-sah aja jalan dua-duaan. Gak tau ya, kalo perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim jalan dua-duaan yang ketiganya setan? Hati-hati, ntar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Waspadalah! Kalo dah pacaran sah aja untuk pegangan tangan, terus… terus…. Hiyyyyy…. Nau’udzubillah… Jauh jauh deh!
Gak maukan buat Allah murka? Ntar dikasih tiket gratis menginap selamanya di ‘hotel’ Jahanam. Hiiiyyyy… gak kuku… en gak mau… Saya sih mana sanggup… Gak tau deh kalo kamu. Kalo kamu bilangnya sanggup, sepuluh jempol deh buat kamu. Duanya emang jempol saya, delapannya lagi minjem jempol temen. Hahaha…
So, ngutip judul bukunya Mbak Afifah Afra, BUANGLAH PACAR PADA TEMPATNYA! :D (kira-kira kalo saya ikut bantu promosiin dapet fee gak ya? ($_$) hehe…)
NB. Buat yang mau nambahin kenapa harus pacaran or apa sih gunanya pacaran silakan aja… :)
Selasa, 18 Oktober 2011
Kenapa Harus Pacaran?
Apa sih gunanya pacaran???
Itu yang terlintas di otak saya pertama kali. Terserah deh mau dibilang norak, gak gaul deelel. Yang jelas saya mau menuntaskan rasa penasaran saya nih. Ehm sebenarnya bukan saya gak ngerti apa manfaat (emang ada manfaatnya??) dan buruknya pacaran. Cuma saya lagi gak habis pikir nih. Nah, daripada mubazir—kan mubazir itu temennya setan—so, saya memutuskan untuk menuntaskannya. Hahaha… ngeles aja. :p
Keingintahuan saya itu mengantarkan saya pada satu kesimpulan yaitu gimana kalo survey kecil-kecilan. Hehehe… Maka dimulailah survey itu. Yang jadi respondennya temen-temen yang nomor ponselnya tercatat di buku telepon saya. Mungkin teman-teman saya sudah sedemikian bosennya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang bisa dibilang ehm agak nyeleneh. :D
Oh iya kenapa tiba-tiba muncul pertanyaan itu juga harus saya jelaskan, ya kan? Saat kami kumpul-kumpul, tiba-tiba salah seorang dari dari mereka bertanya pada saya. Nah pertanyaannya itu adalah, “Mbak, gimana kalo ada cowok yang nembak aku?”. Dia bertanya dengan malu-malu.
Saya sempat bengong sebentar. Alih-alih menjawab pertanyaannya, saya malah balik bertanya, “Kok tanya itu?”. Akhirnya mengalirlah dari mulutnya alasan ia bertanya seperti itu. Saya yang mendengar cuma bisa geleng-geleng.
Alasannya sepele kok. Sekarang ini dia sedang praktik mengajar di sebuah sekolah. Nah, oleh teman-teman satu kelompoknya ia selalu jadi bahan olok-olokan. Karena apa? Karena statusnya yang masih menjomblo dan belum pernah pacaran hingga usianya yang menginjak kepala dua. Halaaaahhh…
Dia akhirnya malah mengatakan hal yang gak saya duga sama sekali, “Boleh gak mbak pacaran? Nanti dibilang gak laku kalo gak pacaran. Mana Ibu juga sudah nyindir-nyindir kok gak ada satu pun teman pria yang dikenalkan sebagai pacar.” Tuweweww….
Saya sempat bengong (lagi). Kemudian saya senyum. Pertanyaannya emang mudah dijawab. Namun pertanyaan ini harus disikapi dengan bijak. Bisa saja saya menjawab dengan keras, namun nantinya ia malah kucing-kucingan dengan saya. Atau saya mengiyakan tapi… dampaknya besar. Oh nooooo…
Dari itu muncul pertanyaan ini, APA SIH GUNANYA PACARAN? Atau lebih tepatnya KENAPA HARUS PACARAN?
Pikiran itu juga yang mengantarkan saya untuk melakukan survey gak resmi. Hehehe… Maka saya mengirim sms yang isinya kayak ini:
“Aww. Apa sih gunanya pacaran?”
Baru terkirim ke beberapa orang eh udah dapet laporan kalo sms yang saya kirim gagal. What??? Saya bingung. Awalnya yang saya salahin sih providernya. Kan di tempat saya biasa tuh, tiap abis ujan sinyalnya hilang-timbul hilang-timbul. Ternyata bukan salah providernya, yang salah itu saya. Pulsanya abis. :D. Dah pake nyalahin orang lain lagi. Haaahhh… ami.. ami..
Mau keluar ngisi pulsa dah kemaleman. Mau sms temen minta isiin pun pulsanya dah gak cukup lagi. Baru esok hari bisa isi pulsa. So…nanti aja ya kita bahas hasil surveynya. Hehehe. ^_^
Kenapa harus pacaran? Kenapa coba? Saya gak ngerti nih.
Selama ini saya ngerasa enjoy aja dengan status jomblo saya. Saya juga gak kepikiran sendirian tanpa ‘pacar’ pertanda ‘nggak laku’. Darimana bisa nyimpulin gitu? Toh masih ada juga yang mau sama saya. Ehem… :p
Toh saya udah ngerasa cukup selama ini. Dengan sahabat-sahabat saya yang setia setiap saat. Keluarga yang senantiasa mendukung apa yang saya kerjakan selama masih dalam koridor yang benar. Terus kenapa harus mencari pelampiasan pada seseorang yang belum tentu jadi soulmate kita?
Kalo kenapa harus pacaran dipikiran iseng saya adalah biar kuku saya cantik. Ada warnanya. So, dipakaikan pacar deh. Lebih dari itu gak kepikiran lagi tuh. :D
Oh iya dari beberapa sms yang terkirim ke teman-teman, ada yang jadi curiga sama saya. Curiganya gara-gara sms saya itu. Atau malah membalas sms saya dengan jutek, “Kan udah tau jawabannya, ngapain nanya saya lagi.” Gubrak!
Saya bukan gak tau, tapi ini lebih dari mencari pendapat. Namanya juga survey kecil-kecilan. Bukan untuk diikuti tanpa dipikir lagi. Tapi setelah dapet gambaran dari sekian banyak jawaban maka saya bisa menelaahnya lagi. Dan menyajikan ke adik yang bertanya pada saya itu sekian banyak jawaban yang ada. Karena entah perasaan saya aja atau emang bener adanya, saya merasa adik itu masih memiliki ganjalan di hatinya soal pacaran ini. Walaupun ia juga tau Islam gak pernah ngajarin itu.
Dia tipe orang yang mudah terprovokasi. Mudah untuk dikompor-komporin. Walaupun statusnya dah tarbiyah dua tahun lebih. Dah mengerti bagaimana Islam mengatur semuanya. Tapi kekhawatiran itu masih ada juga sih. Astaghfirullah…
Balik lagi, kenapa harus pacaran? Kenapa ya? Ada yang bisa bantu saya?
Hmm.. kita bahasnya dilain kesempatan ya… ;)
Itu yang terlintas di otak saya pertama kali. Terserah deh mau dibilang norak, gak gaul deelel. Yang jelas saya mau menuntaskan rasa penasaran saya nih. Ehm sebenarnya bukan saya gak ngerti apa manfaat (emang ada manfaatnya??) dan buruknya pacaran. Cuma saya lagi gak habis pikir nih. Nah, daripada mubazir—kan mubazir itu temennya setan—so, saya memutuskan untuk menuntaskannya. Hahaha… ngeles aja. :p
Keingintahuan saya itu mengantarkan saya pada satu kesimpulan yaitu gimana kalo survey kecil-kecilan. Hehehe… Maka dimulailah survey itu. Yang jadi respondennya temen-temen yang nomor ponselnya tercatat di buku telepon saya. Mungkin teman-teman saya sudah sedemikian bosennya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang bisa dibilang ehm agak nyeleneh. :D
Oh iya kenapa tiba-tiba muncul pertanyaan itu juga harus saya jelaskan, ya kan? Saat kami kumpul-kumpul, tiba-tiba salah seorang dari dari mereka bertanya pada saya. Nah pertanyaannya itu adalah, “Mbak, gimana kalo ada cowok yang nembak aku?”. Dia bertanya dengan malu-malu.
Saya sempat bengong sebentar. Alih-alih menjawab pertanyaannya, saya malah balik bertanya, “Kok tanya itu?”. Akhirnya mengalirlah dari mulutnya alasan ia bertanya seperti itu. Saya yang mendengar cuma bisa geleng-geleng.
Alasannya sepele kok. Sekarang ini dia sedang praktik mengajar di sebuah sekolah. Nah, oleh teman-teman satu kelompoknya ia selalu jadi bahan olok-olokan. Karena apa? Karena statusnya yang masih menjomblo dan belum pernah pacaran hingga usianya yang menginjak kepala dua. Halaaaahhh…
Dia akhirnya malah mengatakan hal yang gak saya duga sama sekali, “Boleh gak mbak pacaran? Nanti dibilang gak laku kalo gak pacaran. Mana Ibu juga sudah nyindir-nyindir kok gak ada satu pun teman pria yang dikenalkan sebagai pacar.” Tuweweww….
Saya sempat bengong (lagi). Kemudian saya senyum. Pertanyaannya emang mudah dijawab. Namun pertanyaan ini harus disikapi dengan bijak. Bisa saja saya menjawab dengan keras, namun nantinya ia malah kucing-kucingan dengan saya. Atau saya mengiyakan tapi… dampaknya besar. Oh nooooo…
Dari itu muncul pertanyaan ini, APA SIH GUNANYA PACARAN? Atau lebih tepatnya KENAPA HARUS PACARAN?
Pikiran itu juga yang mengantarkan saya untuk melakukan survey gak resmi. Hehehe… Maka saya mengirim sms yang isinya kayak ini:
“Aww. Apa sih gunanya pacaran?”
Baru terkirim ke beberapa orang eh udah dapet laporan kalo sms yang saya kirim gagal. What??? Saya bingung. Awalnya yang saya salahin sih providernya. Kan di tempat saya biasa tuh, tiap abis ujan sinyalnya hilang-timbul hilang-timbul. Ternyata bukan salah providernya, yang salah itu saya. Pulsanya abis. :D. Dah pake nyalahin orang lain lagi. Haaahhh… ami.. ami..
Mau keluar ngisi pulsa dah kemaleman. Mau sms temen minta isiin pun pulsanya dah gak cukup lagi. Baru esok hari bisa isi pulsa. So…nanti aja ya kita bahas hasil surveynya. Hehehe. ^_^
Kenapa harus pacaran? Kenapa coba? Saya gak ngerti nih.
Selama ini saya ngerasa enjoy aja dengan status jomblo saya. Saya juga gak kepikiran sendirian tanpa ‘pacar’ pertanda ‘nggak laku’. Darimana bisa nyimpulin gitu? Toh masih ada juga yang mau sama saya. Ehem… :p
Toh saya udah ngerasa cukup selama ini. Dengan sahabat-sahabat saya yang setia setiap saat. Keluarga yang senantiasa mendukung apa yang saya kerjakan selama masih dalam koridor yang benar. Terus kenapa harus mencari pelampiasan pada seseorang yang belum tentu jadi soulmate kita?
Kalo kenapa harus pacaran dipikiran iseng saya adalah biar kuku saya cantik. Ada warnanya. So, dipakaikan pacar deh. Lebih dari itu gak kepikiran lagi tuh. :D
Oh iya dari beberapa sms yang terkirim ke teman-teman, ada yang jadi curiga sama saya. Curiganya gara-gara sms saya itu. Atau malah membalas sms saya dengan jutek, “Kan udah tau jawabannya, ngapain nanya saya lagi.” Gubrak!
Saya bukan gak tau, tapi ini lebih dari mencari pendapat. Namanya juga survey kecil-kecilan. Bukan untuk diikuti tanpa dipikir lagi. Tapi setelah dapet gambaran dari sekian banyak jawaban maka saya bisa menelaahnya lagi. Dan menyajikan ke adik yang bertanya pada saya itu sekian banyak jawaban yang ada. Karena entah perasaan saya aja atau emang bener adanya, saya merasa adik itu masih memiliki ganjalan di hatinya soal pacaran ini. Walaupun ia juga tau Islam gak pernah ngajarin itu.
Dia tipe orang yang mudah terprovokasi. Mudah untuk dikompor-komporin. Walaupun statusnya dah tarbiyah dua tahun lebih. Dah mengerti bagaimana Islam mengatur semuanya. Tapi kekhawatiran itu masih ada juga sih. Astaghfirullah…
Balik lagi, kenapa harus pacaran? Kenapa ya? Ada yang bisa bantu saya?
Hmm.. kita bahasnya dilain kesempatan ya… ;)
Langganan:
Postingan (Atom)