Kala bencana datang melanda
Porak poranda tanah kita
Semua orang terhentak ingin bertanya
Mengapa terjadi? mengapa?
Mengapa terjadi? mengapa?
Tangisan derita menyayat jiwa
Kezhaliman mengungkung masa
Apakah kebenaran telah binasa?
Mengapa terjadi? mengapa?
Mengapa terjadi? mengapa?
*Nafsu angkara murka
Telah gelapkan manusia
Merebak gulita lenyapkan cahaya
Tibalah azab bencana
Telah nampak nyata, kerusakan di dunia
Karna perbuatan tangan keji manusia
Bencana dan peperangan makin merajalela
Hanya pada Mu Tuhan kami mohon perlindungan.
(Duka Tanah Kita, Justice Voice)
Duka tanah kita. Tepat memang judulnya dengan kondisi Indonesiaku saat ini. Pertiwi pun menangis lagi. Menangis melihat Wasior nun jauh di Papua sana terendam banjir. Menangis melihat penduduk di lereng Gunung Merapi yang tunggang langgang menyelamatkan diri. Menangis melihat Mentawai yang luluh lantak diterjang tsunami.
Saya tidak akan mengomentari bagaimana penanganan bencana —yang kata banyak media— begitu lambat. Begitu lambat untuk sampai ke Mentawai, Wasior dan Merapi.
Di saat keadilan, kesejahteraan dan keamanan adalah barang mahal dan mungkin hampir hilang di negeri ini. Saat kebutuhan pokok melambung tinggi, meroket yang akibatnya mencekik rakyat miskin. Saat para pejabat negeri ini sibuk dengan pencitraan diri. Saat para wakil rakyat sibuk plesir ke luar negeri. Saya melihat sesuatu yang ternyata tidak hilang dari rakyat negeri ini. Empati. Kepedulian terhadap sesama penduduk negeri yang bernama Indonesia. Indonesia memang mendapat cap sebagai negara yang tingkat korupsinya gila-gilaan. Namun, kepedulian itu masih ada.
Masih banyak rakyat yang peduli melihat saudaranya yang menangis kehilangan sanak keluarga dan harta benda. Masih banyak yang peduli melihat saudaranya tidur berjejalan dan kedinginan di tenda pengungsian. Hingga bantuan selimut berdatangan dari penjuru negeri. Masih banyak yang peduli melihat mereka yang kelaparan di barak pengungsian, hingga bantuan makanan itu juga mengalir ke mereka yang tengah berduka.
Saya pernah menangis dan ternganga saat tsunami menerjang Aceh tahun 2004 silam. Menangis melihat begitu banyak korban yang jatuh baik yang meninggal, luka-luka baik itu luka ringan maupun yang berat, kehilangan sanak keluarga. Ternganga melihat begitu banyak orang yang rela menyisihkan harta mereka untuk Aceh. Saya ingat betul hari itu saat SMA, setelah upacara bendera hari senin, diumumkan bahwa sekolah menerima sumbangan untuk tsunami Aceh.
Antrian panjang yang mengular mulai terbentuk. Teman-teman, kakak-kakak serta adik-adik kelas banyak yang menyisihkan uang jajannya hari itu untuk disumbangkan. Begitu juga dengan guru-guru. Ternyata banyak sekolah hari itu juga melakukan hal yang sama dengan sekolah kami. Seorang teman saat saya tanya mengapa memberikan semua uang jajannya hari itu. Dia menjawab seperti ini, “Mi, aku memang tidak jajan hari ini. Besok masih bisa jajan. Tapi orang di Aceh sana apa masih bisa jajan seperti aku?”
Terkenangku pada gempa di Padang tahun lalu. Gempa yang meluluhlantakkan Padang. Saat itu teman-teman kampus saya banyak yang turun menjadi relawan di sana. Berangkat penuh semangat demi meringankan beban warga Padang.
Seberat apapun musibah yang melanda Indonesia. Masih ada—banyak bahkan—nurani-nurani yang terketuk, terpanggil untuk membantu. Bantuan yang diberikan mungkin tidak seberapa. Namun sungguh berarti bagi yang dilanda musibah. Karena kepedulian, bantuan dan uluran tangan penuh kasih itu menjadi penguat kala rapuh mendera. Walaupun kekuatan yang paling penting adalah IMAN.
Indonesia memang menangis. Indonesia memang berduka. Indonesia pun menjerit menahan pilu yang mendera rakyatnya. Ya, Indonesia memang pantas berduka mengingat bencana yang datang bertubi-tubi. Namun masih ada tangan-tangan yang akan menghapus airmata itu. Merengkuh mereka dalam pelukan hangat penuh cinta atas nama persaudaraan. Masih ada tangan yang akan menggenggam tangan-tangan rapuh itu untuk saling menguatkan. Percayalah. Harapan itu masih ada!
Kini media disibukkan dengan Wasior yang masih saja terendam banjir. Mentawai yang belum juga mendapat suplai bantuan. Merapi yang terus saja “batuk”, memuntahkan lahar, abu vulkanik yang menurut berita terakhir hingga ke Jawa Barat dampaknya.
Hingga kini bantuan terus datang dari berbagai penjuru negeri. Untuk meringankan beban mereka yang dirundung duka. Semoga senyum anak bangsa ini akan kembali terukir setelah duka berkepanjangan mendera negeri. Amin.
Saya juga mengacungkan dua jempol untuk kinerja TNI. Menjadi garda depan dalam penyelamatan dan tanggap bencana. Saya melihat–lewat tivi, hehehe--bagaimana mereka berjibaku untuk menyelamatkan warga Wasior yang dilanda banjir. Memberi bantuan untuk korban bencana gempa dan tsunami di Mentawai. Dan, berupaya mengevakuasi warga dan korban meninggal akibat muntahan Merapi.
Masih begitu banyak rakyat Indonesia yang peduli pada saudaranya setanah air. Masih banyak. Harapan itu jelas masih ada. Masih ada. Masih dan akan selalu ada!
Saya terkenang pada satu program yang waktu itu di-launching oleh sebuah lembaga amil zakat. Kembalikan Senyum Anak Bangsa (KSAB). Teringat akan duka Indonesia, semoga senyum anak bangsa ini akan kembali. Semoga… Kabulkan, Ya Rabb…
Kembali saya teringat dengan SMS yang dikirim oleh sahabat saya:
“Semoga Allah memberi pelangi disetiap badai. Memberi senyuman disetiap airmata. Dzikir lembut disetiap hela nafas. Memberi kebaikan disetiap kehidupan. Memberi berkah disetiap cobaan. Dan, memberi jawaban indah disetiap doa-doa kita. Amin.”
Setidaknya banyak hikmah yang bisa diambil dari musibah yang datang bertubi-tubi ini. Saya sendiri menghaturkan beribu syukur pada Allah karena berada ditempat yang aman—insya Allah. Saya masih bisa makan enak. Masih bisa tidur nyenyak tanpa takut akan adanya gempa susulan, banjir bandang ataupun abu vulkanik yang akan merusak sistem pernafasan. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Kesana sini dengan nyaman—walaupun kadang was-was juga takut copet dan maling, hehe.
Setidaknya bila dibandingkan dengan pengungsi Mentawai, Merapi dan Wasior, saya jauh lebih beruntung. Jauh sekali. Alhamdulillah…. Syukurku pada-Mu, Duhai Sang Maha Melindungi.
Bukan maksud saya untuk tertawa diatas penderitaan saudara-saudara saya yang berada di pengungsian, saudara-saudara saya yang menjadi korban bencana alam itu. Tapi saya mencoba untuk mensyukuri nikmat yang ada pada saya. Mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah untuk saya. Karena manusia kadang kala—sering bahkan—melupakan nikmat yang telah diberikan Allah. Astaghfirullahal ‘adzhim…. Ampuni kami, Ya Rabb.
Dan kembali saya terkenang pada sosok mulia itu, sosok yang hingga kini hanya bisa saya telusuri lewat sirah nabawiyah. Rasulullah, Muhammad. Beliau telah mengajarkan agar disetiap musibah yang melanda hendaknya kita mengucapkan ucapan yang baik, yaitu innaalillaahi wa innaailaihi raajiuun. Mengembalikan semuanya kepada Allah. Singkatnya dari Allah kembali ke Allah (Kok, seperti judul lagu nasyid ya? hehe.)
Begitu banyak harapan di negeri yang gelarnya gemah ripah loh jinawi dan zamrud katulistiwa ini. Semoga Indonesia akan bangkit dari keterpurukan. ^_^
Ya Rabb, lindungi saudara-saudara kami yang kini tertimpa bencana….
Kuatkan mereka, Ya Aziz….
Tegarkan mereka, Ya Rahman….
Teringat akan doa ma’tsur yang sering dibaca pagi dan petang, Doa yang ada dalam surat kedua dalam Al Qur’an, yang artinya:
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Wahai Tuhan kami, jangan Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimanaEngkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. (Al Baqarah : 286)
Harapan itu masih ada!!
Saatnya kembalikan senyum anak bangsa!
Allahu a’lam bish-shawab.
Sarjana B. 18, 5 November 2010.
20.35
“Rahmi Badar”
Sabtu, 06 November 2010
Rabu, 03 November 2010
Sebiru Hari Ini
Awalnya iseng-iseng buka web-nya Edcoustic. Eh liat judul lagunya kok ya seru banget. bikin penasaran. jadinya searching di google, pengen liat lagu itu temanya tentang apa gitu. eh pas ketemu, kayaknya keren tuh. temanya soal persahabatan sih...
kebetulan emang lagi kangen sama sahabat-sahabatku yang nun jauh di sana. udah pada pulkam semua. mana ada yang jarang bales SMS pula. Jadi tambah kangen.
dulu, mudah nian menemukan mereka. bertemu mereka. bercanda, tertawa bersama. menangis bersama. masak-masak n makan-makan (walaupun yang dimasak, entah gimana rasanya. Jadi artis (ada rumah tidur sembarangan), berkelana dari satu kost ke kost yang lain. hehehe.
pulang kemalaman, hingga kena tegur para ikhwan (karena sering pulang maghrib, hihihi). saling cela. saling tegur. saling menasehati. saling--kadang-kadang-- sok tau. (huihihi).
Makin kangen sama mereka... apalagi buku yang dibaca akhir-akhir ini lebih banyak soal persahabatan.
yang paling diingat saat aku sama erma make baju yang sama--baju waki--, jilbab putih, rok hitam (kalo erma rok biru dongker) dan ransel hitam. Wandi, pales dkk deh sibuk bergaya ala ibu-ibu yang sedang nyanyi qasidah. Pada gak sopan itu adek-adek sama mbak-mbaknya. hehehe. ulah mereka akhirnya memancing orang-orang untuk memperhatikan kami berdua. erma dengan kalemnya ngomong begini "Dak apo mik, itu tandonyo kito emang ado chemistry-nyo." (halah, apo dio oi maksudnyo ini? Keluar deh bahasa kerajaannya, huihihi...) akhirnya jawaban ngelantur keluar dari mulutku, "Kami kan make telepati... hahaha".
ingat dengan teman-teman "satu lingkaran". yang hampir tiap minggu ngumpul di satu tempat. hahaha. Tak terpisahkah sejak 2005. hingga takdir Allah memisahkan kami. masing-masing pulang ke kampung halamannya. saling menasehati, saling dukung, saling menguatkan. ah... mengingat wajah itu satu persatu membuat mataku gerimis. karena ada kalian disisiku, lima tahun ini begitu berwarna. warna-warna cinta....
Duhai Allah Sang Maha Cinta, sampaikanlah kepada mereka bahwa aku merindukan mereka.
Semoga mereka semua selalu dalam lindungan Engkau Ya Allah...
Semoga mereka selalu dalam petunjuk-Mu Ya Rabb...
Tetapkan mereka untuk selalu dalam hidayah-Mu Ya Ilahi...
Untuk Erma Fitriyani, Heriyah, Lidiawati, Reni Sarlin, Prati Negasari, Listiyorini, Era yuliana, Yenni, Wulan, Lena, Sherly Korpriyanti, Rizka Melita Sari, Aida FKIP, Anita, Ida Fahrika, Fadilah, Ari Diliyanti Puspita, Shinta Ambar Wulan, Rani Rajungan Eska Tantri, Heti Andriyani, Neli Liana, Novetri Sari, Nurul Aisyiah, Aku merindukan canda tawa kita lagi. i love you coz Allah. semoga persaudaraan ini kekal hingga ke jannah-Nya.
amin....
nah, aku mengetik entri ini sembari ditemani oleh lagu edcoustic sebiru hari ini. Lirik yang membuat mataku basah, ingat kalian. ini lirik sebiru hari ini....
Sebiru hari ini, Edcoustic
Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di sini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
intro
reff 2x
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
Semoga rindu ini tersampaikan pada kalian....
Miss u guys...
Kalau pun kita tak bisa bertemu langsung, semoga kita saling menguatkan lewat doa, saudaraku.
yang merindukan kalian
Rahmi Badar
Sarjana B 18, 3 November 2010.
10.15
Jumat, 29 Oktober 2010
soundtrack hidupku....
Sepertinya saya nggak mau kalah dengan salah satu blog yang rajin saya kunjungi. Sebuah blog yang menginspirasi saya. Banget, untuk itu saya menghaturkan beribu terima kasih pada KGC OI (Komunitas Generasi Cendekia, Ogan Ilir)yang awal ramadhan kemarin mengajak saya bergabung di acara pesantren kilat.
Saat itu sang trainer yang dipesan langsung dari Trustco (hihihi, afwan ya Kak), Kak Aang Kunaifi memutarkan salah satu video yang full inspirasi. video milik Danang A. Prabowo, anak IPB. Waaah, pokoknya menginspirasi deh. Kalo mau lihat videonya silahkan klik di www.danangap7.multiply.com. Terbuka untuk umum kok. (Weleh... weleh... apa maksudnya itu. hehe)
Lama kemudian baru saya dapat video aslinya. Kalo mau diceritain proses mendapatkan videonya, panjaaaang banget. Jadi dipersingkat aja yah. sedikit maksa, ya?
Ok, jadi hubungan antara judul di atas dan video danang adalah saya menemukan alamat blognya (halah, jauuh banget dari perkiraan ya? hihihi....)
Nah, salah satu postingan blog itu adalah, sountrack jejak-jejak perjalanan seorang Danang A. Prabowo. Diakhirnya Danang menuliskan (yang intinya kayak gini, kira-kira. hehe, itu merupakan soundtrack jejak-jejak dia, dan carilah soundtrack jejakmu sendiri.
Akhirnya ketemu juga soundtrack untukku, yang jelas sangat cocok untukku saat ini. Pas banget deh. nah ini judulnya "HERO" yang nyanyinya Mariah Carey. Kalo mo denger lagunya silahkan cari aja di google atau yahoo.
Liriknya seperti ini:
"HERO" mariah carey
There's a hero if you look inside your heart
You don't have to be afraid of what you are
There's an answer if you reach into your soul
And the sorrow that you know will melt away
R: And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And then you'll finally see the truth
That a hero lies in you
It's a long road when you face the world alone
No one reaches out a hand for you to hold
You can find love if you search within your self
And the empitiness you felt will disappear
Back to R
# Lord knows dreams are hard to follow
But don't let anyone tear them away
Hold on, there will be tomorrow
In time you'll find the way
Back to R
Oh iya lirik ini didapat dari www.rizkyonline.com.
Bener deh kata Pak Sholikhin Abu Izzuddin, kalo motivasi dan semangat itu seharusnya datang dari diri sendiri. Sehingga motivasi itu awet, melekat pada diri kita. Nah, lagu itu juga mengatakan hal itu.
I love that song!
"Radisty Badar"
Saat itu sang trainer yang dipesan langsung dari Trustco (hihihi, afwan ya Kak), Kak Aang Kunaifi memutarkan salah satu video yang full inspirasi. video milik Danang A. Prabowo, anak IPB. Waaah, pokoknya menginspirasi deh. Kalo mau lihat videonya silahkan klik di www.danangap7.multiply.com. Terbuka untuk umum kok. (Weleh... weleh... apa maksudnya itu. hehe)
Lama kemudian baru saya dapat video aslinya. Kalo mau diceritain proses mendapatkan videonya, panjaaaang banget. Jadi dipersingkat aja yah. sedikit maksa, ya?
Ok, jadi hubungan antara judul di atas dan video danang adalah saya menemukan alamat blognya (halah, jauuh banget dari perkiraan ya? hihihi....)
Nah, salah satu postingan blog itu adalah, sountrack jejak-jejak perjalanan seorang Danang A. Prabowo. Diakhirnya Danang menuliskan (yang intinya kayak gini, kira-kira. hehe, itu merupakan soundtrack jejak-jejak dia, dan carilah soundtrack jejakmu sendiri.
Akhirnya ketemu juga soundtrack untukku, yang jelas sangat cocok untukku saat ini. Pas banget deh. nah ini judulnya "HERO" yang nyanyinya Mariah Carey. Kalo mo denger lagunya silahkan cari aja di google atau yahoo.
Liriknya seperti ini:
"HERO" mariah carey
There's a hero if you look inside your heart
You don't have to be afraid of what you are
There's an answer if you reach into your soul
And the sorrow that you know will melt away
R: And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And then you'll finally see the truth
That a hero lies in you
It's a long road when you face the world alone
No one reaches out a hand for you to hold
You can find love if you search within your self
And the empitiness you felt will disappear
Back to R
# Lord knows dreams are hard to follow
But don't let anyone tear them away
Hold on, there will be tomorrow
In time you'll find the way
Back to R
Oh iya lirik ini didapat dari www.rizkyonline.com.
Bener deh kata Pak Sholikhin Abu Izzuddin, kalo motivasi dan semangat itu seharusnya datang dari diri sendiri. Sehingga motivasi itu awet, melekat pada diri kita. Nah, lagu itu juga mengatakan hal itu.
I love that song!
"Radisty Badar"
Selasa, 19 Oktober 2010
Almamatermu vs Almamaterku
Sebenarnya wacana ini sudah lama bergulir diantara kami. Antara saya dan dua teman. Setamat SMA, kami bertiga diterima di universitas yang berbeda. Saya sendiri diterima di Universitas Sriwijaya (Unsri). Seorang lagi di Universitas Andalas (Unand) dan yang satu lagi terdampar di IPB. Hihihi.
Teman saya di Andalas yang pertama kali membuka wacana ini. Saat kumpul-kumpul lebaran adalah saat yang selalu jadi arena debat yang sengit antara saya dan dua teman saya itu. Khususnya teman saya yang kuliah di Andalas. Seiring berlalunya waktu, saya pikir masalah itu pun juga akan terlupakan. Biarlah mengendap begitu saja. Namun harapan tinggal harapan, karena teman saya ini sepertinya senang sekali mengulasnya kembali. Dalam hati saya berfikir, “Kok ya nggak capek-capek membicarakan hal ini terus?”. Saya aja bosan!
Terakhir saat kami berbincang via telepon, lagi-lagi ia mengungkit masalah yang sama. Dia mempermasalahkan mengapa banyak orang-orang hanya berfikir untuk melanjutkan kuliah di Palembang dan Lampung. Tidakkah terpikir oleh mereka untuk melanjutkan kuliah keluar Sumatera Selatan dan Lampung? Dan, akhirnya membanding-bandingkan antara Unsri dan Unand. Membandingkan grade Unand yang jauh diatas Unsri. Membandingkan bahwa lulusan Unand—yang kata teman saya—80% sudah diterima bekerja dibandingkan lulusan Unsri. Dan masih banyak lagi yang ia katakan.
Saya tidak menyalahkan pendapat teman saya tersebut, namun tidak pula membenarkan. Mungkin di satu sisi ia benar, namun di sisi lain ia salah. Ya kan?? Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda dalam memilih universitas. Karena alasan jarak, keuangan ataupun kualitas universitas itu sendiri.
Saya hanya mencoba berfikir ulang dengan lebih mendalam. Mencoba merenungi lebih jauh. Mencoba berfikir lebih jernih. Akhirnya timbul pertanyaan dalam diri saya.
Benarkah sukses atau tidaknya seseorang itu tergantung dari asal almamaternya?
Benarkah sukses tidaknya seseorang ditentukan dari universitas mana ia mendapatkan titel?
Benarkan lulusan dari universitas yang grade-nya jauh lebih rendah tidak akan sukses meniti karirnya?
Benarkah lulusan dari universitas yang grade-nya tinggi akan lebih sukses dari lulusan universitas yang grade-nya rendah?
Masih banyak benarkah-benarkah lainnya yang memenuhi kepala saya, meminta jawaban secepatnya. Sepertinya agak berlebihan ya??? Hehe.
Dan, akhirnya saya temukan jawaban dari masalah ini. Jawabannya ada dalam buku ESQ yang ditulis oleh Bapak Ari Ginanjar. Ternyata kita sering terjebak pada belenggu-belenggu yang ada pada diri dan lingkungan kita. Kita sering kali terjebak pada tujuh belenggu yakni prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, sudut pandang, pembanding-pembanding yang subyektif serta fanatisme yang menyesatkan. Hal inilah yang mempengaruhi cara seseorang dalam menyikapi suatu masalah.
Dari tujuh belenggu itu saya mengambil dua belenggu yaitu sudut pandang dan pembanding. Sering kali kita membandingkan sesuatu dengan pengalaman sebelumnya dan konsep yang kita pikirkan sendiri. Begitu juga dengan orang lain. Kita membandingkan sesuatu berdasarkan pembanding yang sangat subyektif. Berdasarkan pada kacamata kita sendiri. Mengukur orang lain dan sesuatu itu dengan baju kita sendiri. Hingga kita terjebak pada hal yang picik menurut saya.
Ini adalah keyakinan saya pribadi, bahwa “SUKSES TIDAKNYA SESEORANG TIDAK DITENTUKAN DARI ALMAMATERNYA.”
Sukses tidaknya seseorang tidak ditentukan darimana ia mendapatkan titel tersebut. Karena setiap orang memiliki potensi untuk sukses. Setiap orang memiliki potensi untuk maju. Semua itu kembali lagi ke kita, mau atau tidak mengambil momentum untuk meraih kesuksesan.
Picik rasanya jika memandang sukses atau tidak seseorang dari lulusan mana ia berasal. Tidak adil rasanya jika menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya. Karena, begitu banyak orang yang luar biasa dengan penampilan yang sangat bersahaja.
Sekarang ini menjadi tidak penting membahas lulusan dari universitas mana. Yang paling penting adalah ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan. Apakah ilmu itu bisa kita terapkan dalam kehidupan atau tidak. Apakah ilmu itu mampu menjadi amal jariyah yang akan menjadi penerang di alam kubur atau tidak. Ataukah ilmu itu malah akan menjadi cambuk yang akan mengantarkan kita pada sakitnya siksa kubur dan panasnya neraka.
Yang jadi persoalan itu seberapa bermanfaat kita untuk umat ini. Percuma rasanya jika titel yang ada di depan dan di belakang nama kita begitu banyak namun tak sesuai dengan kelakuan. Orang-orang merasa jauh lebih aman jika berada jauh dari kita. Kehadiran kita tidak pernah diharapkan. Bahkan orang-orang merasa gembira dengan ketiadaan kita di sekitar mereka. Na'udzubillah….
Tanpa perlu mempermasalahkan lulusan dari mana dan seberapa bergengsi universitas yang menaungi kita selama ini. Marilah berfikir dan bertindak untuk menerapkan ilmu yang di dapat selama ini demi kesejahteraan umat. Karena telah lama rakyat “dijajah” oleh bangsanya sendiri. Lihatlah, begitu banyak orang pintar di negeri ini. Namun pada kenyataannya tega membodohi saudaranya sendiri. Begitu banyak orang dengan titel yang berjejer di depan dan belakang namanya, namun sanggup menikam saudaranya.
Sudah terlalu lama rakyat negeri ini dibodohi. Bangkitkan kesadaran untuk melawan. Jangan hanya diam membisu. Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku sejarah. Jangan pernah berharap balasan dari manusia. Biarlah Rajanya manusia yang akan membalas jerih payah kita selama ini.
Sekarang, masihkah perlu membahas dari universitas mana gelar itu kita dapat? Saya fikir itu sudah tak penting lagi!
Mengutip kata-kata dalam buku Happy Ending Full Barokah: “Belajar bukan sekedar “mengisi diri” dengan koleksi ilmu tetapi bagaimana setiap ilmu yang kita miliki, penelitian yang dilakukan, jabatan yang dipikul, amanah yang diemban, bisa menjadi kebaikan yang mensurgakan. Membuat kebijakan yang melahirkan kebajikan.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allahu a’lam bish shawab…
B. 18, 12 Oktober 2010
13.21
Radisty
Teman saya di Andalas yang pertama kali membuka wacana ini. Saat kumpul-kumpul lebaran adalah saat yang selalu jadi arena debat yang sengit antara saya dan dua teman saya itu. Khususnya teman saya yang kuliah di Andalas. Seiring berlalunya waktu, saya pikir masalah itu pun juga akan terlupakan. Biarlah mengendap begitu saja. Namun harapan tinggal harapan, karena teman saya ini sepertinya senang sekali mengulasnya kembali. Dalam hati saya berfikir, “Kok ya nggak capek-capek membicarakan hal ini terus?”. Saya aja bosan!
Terakhir saat kami berbincang via telepon, lagi-lagi ia mengungkit masalah yang sama. Dia mempermasalahkan mengapa banyak orang-orang hanya berfikir untuk melanjutkan kuliah di Palembang dan Lampung. Tidakkah terpikir oleh mereka untuk melanjutkan kuliah keluar Sumatera Selatan dan Lampung? Dan, akhirnya membanding-bandingkan antara Unsri dan Unand. Membandingkan grade Unand yang jauh diatas Unsri. Membandingkan bahwa lulusan Unand—yang kata teman saya—80% sudah diterima bekerja dibandingkan lulusan Unsri. Dan masih banyak lagi yang ia katakan.
Saya tidak menyalahkan pendapat teman saya tersebut, namun tidak pula membenarkan. Mungkin di satu sisi ia benar, namun di sisi lain ia salah. Ya kan?? Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda dalam memilih universitas. Karena alasan jarak, keuangan ataupun kualitas universitas itu sendiri.
Saya hanya mencoba berfikir ulang dengan lebih mendalam. Mencoba merenungi lebih jauh. Mencoba berfikir lebih jernih. Akhirnya timbul pertanyaan dalam diri saya.
Benarkah sukses atau tidaknya seseorang itu tergantung dari asal almamaternya?
Benarkah sukses tidaknya seseorang ditentukan dari universitas mana ia mendapatkan titel?
Benarkan lulusan dari universitas yang grade-nya jauh lebih rendah tidak akan sukses meniti karirnya?
Benarkah lulusan dari universitas yang grade-nya tinggi akan lebih sukses dari lulusan universitas yang grade-nya rendah?
Masih banyak benarkah-benarkah lainnya yang memenuhi kepala saya, meminta jawaban secepatnya. Sepertinya agak berlebihan ya??? Hehe.
Dan, akhirnya saya temukan jawaban dari masalah ini. Jawabannya ada dalam buku ESQ yang ditulis oleh Bapak Ari Ginanjar. Ternyata kita sering terjebak pada belenggu-belenggu yang ada pada diri dan lingkungan kita. Kita sering kali terjebak pada tujuh belenggu yakni prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, sudut pandang, pembanding-pembanding yang subyektif serta fanatisme yang menyesatkan. Hal inilah yang mempengaruhi cara seseorang dalam menyikapi suatu masalah.
Dari tujuh belenggu itu saya mengambil dua belenggu yaitu sudut pandang dan pembanding. Sering kali kita membandingkan sesuatu dengan pengalaman sebelumnya dan konsep yang kita pikirkan sendiri. Begitu juga dengan orang lain. Kita membandingkan sesuatu berdasarkan pembanding yang sangat subyektif. Berdasarkan pada kacamata kita sendiri. Mengukur orang lain dan sesuatu itu dengan baju kita sendiri. Hingga kita terjebak pada hal yang picik menurut saya.
Ini adalah keyakinan saya pribadi, bahwa “SUKSES TIDAKNYA SESEORANG TIDAK DITENTUKAN DARI ALMAMATERNYA.”
Sukses tidaknya seseorang tidak ditentukan darimana ia mendapatkan titel tersebut. Karena setiap orang memiliki potensi untuk sukses. Setiap orang memiliki potensi untuk maju. Semua itu kembali lagi ke kita, mau atau tidak mengambil momentum untuk meraih kesuksesan.
Picik rasanya jika memandang sukses atau tidak seseorang dari lulusan mana ia berasal. Tidak adil rasanya jika menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya. Karena, begitu banyak orang yang luar biasa dengan penampilan yang sangat bersahaja.
Sekarang ini menjadi tidak penting membahas lulusan dari universitas mana. Yang paling penting adalah ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan. Apakah ilmu itu bisa kita terapkan dalam kehidupan atau tidak. Apakah ilmu itu mampu menjadi amal jariyah yang akan menjadi penerang di alam kubur atau tidak. Ataukah ilmu itu malah akan menjadi cambuk yang akan mengantarkan kita pada sakitnya siksa kubur dan panasnya neraka.
Yang jadi persoalan itu seberapa bermanfaat kita untuk umat ini. Percuma rasanya jika titel yang ada di depan dan di belakang nama kita begitu banyak namun tak sesuai dengan kelakuan. Orang-orang merasa jauh lebih aman jika berada jauh dari kita. Kehadiran kita tidak pernah diharapkan. Bahkan orang-orang merasa gembira dengan ketiadaan kita di sekitar mereka. Na'udzubillah….
Tanpa perlu mempermasalahkan lulusan dari mana dan seberapa bergengsi universitas yang menaungi kita selama ini. Marilah berfikir dan bertindak untuk menerapkan ilmu yang di dapat selama ini demi kesejahteraan umat. Karena telah lama rakyat “dijajah” oleh bangsanya sendiri. Lihatlah, begitu banyak orang pintar di negeri ini. Namun pada kenyataannya tega membodohi saudaranya sendiri. Begitu banyak orang dengan titel yang berjejer di depan dan belakang namanya, namun sanggup menikam saudaranya.
Sudah terlalu lama rakyat negeri ini dibodohi. Bangkitkan kesadaran untuk melawan. Jangan hanya diam membisu. Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku sejarah. Jangan pernah berharap balasan dari manusia. Biarlah Rajanya manusia yang akan membalas jerih payah kita selama ini.
Sekarang, masihkah perlu membahas dari universitas mana gelar itu kita dapat? Saya fikir itu sudah tak penting lagi!
Mengutip kata-kata dalam buku Happy Ending Full Barokah: “Belajar bukan sekedar “mengisi diri” dengan koleksi ilmu tetapi bagaimana setiap ilmu yang kita miliki, penelitian yang dilakukan, jabatan yang dipikul, amanah yang diemban, bisa menjadi kebaikan yang mensurgakan. Membuat kebijakan yang melahirkan kebajikan.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allahu a’lam bish shawab…
B. 18, 12 Oktober 2010
13.21
Radisty
Untukmu Duhai Sahabat
Untukmu duhai sahabat…
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Rabu, 06 Oktober 2010
Ibunda....
Mother....
Ibunda....
Ummi....
Mummy....
Umak....
Emak...
apapun itu panggilanya, ia tetap--menurutku--wanita luar biasa.
^-^
pertama kali mendengar lagu yang diputar saat ada acara pesantren kilat di SMAN 1 Inderalaya, aku sudah jatuh cinta dengan lagu itu. Lagunya keren. jadi penasaran apa judul lagu itu???
ternyata hari ini, secara sengaja membuka blog www.danangap7.multiply.com ketemu lagunya.
hehehe. akhirnya memutuskan untuk mendownload lagu itu. eh pas tau arti lagunya aku makin suka sama lagu itu. lagunya itu berjudul Mother yang nyanyi Seamo. nih tak tulis juga lirik lagunya... iya liriknya dapet dari google
SEAMO MOTHER LYRICS
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
--------------------------------------------------
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…
JAdi kangen ma ibunda ku tercinta....
love you mom....
^_^
"Radisty Badar"
Ibunda....
Ummi....
Mummy....
Umak....
Emak...
apapun itu panggilanya, ia tetap--menurutku--wanita luar biasa.
^-^
pertama kali mendengar lagu yang diputar saat ada acara pesantren kilat di SMAN 1 Inderalaya, aku sudah jatuh cinta dengan lagu itu. Lagunya keren. jadi penasaran apa judul lagu itu???
ternyata hari ini, secara sengaja membuka blog www.danangap7.multiply.com ketemu lagunya.
hehehe. akhirnya memutuskan untuk mendownload lagu itu. eh pas tau arti lagunya aku makin suka sama lagu itu. lagunya itu berjudul Mother yang nyanyi Seamo. nih tak tulis juga lirik lagunya... iya liriknya dapet dari google
SEAMO MOTHER LYRICS
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
--------------------------------------------------
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…
JAdi kangen ma ibunda ku tercinta....
love you mom....
^_^
"Radisty Badar"
Rabu, 04 Agustus 2010
entah
pasti aneh membaca untuk yang pertama kali judul itu. karena aku sebagai penulis pun juga ikutan aneh. sebenarnya apa yang ingin kutulis ya? banyak yang ingin dibagi sebanyak apa yang ingin kudapatkan.
semuanya berlalu begitu saja. ada hikmah yang bisa diambil. ada suka maupun juga duka. namun usia jelas terus bertambah membuatku harus tetap melangkah maju. pembicaraan yang menghiasi adalah soal kerja, tamat kuliah dan menikah. topik yang terakhir begitu sering dibicarakan. mulai dari si ini menikah, si itu menikah hingga pertanyaan kapan hendak menikah. nanti setelah tamat kuliah, kerja bahkan menikah pertanyaan yang diajukan akan berubah menjadi kapan punya anak, anaknya berapa?
memikirkan itu aku hanya bisa tersenyum... tidakkah orang-orang merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja?
sudahlah...
kok jadi terlalu berfilosofi ya??? sepertinya memang bukan aku banget. menurut beberapa orang aku simple minded. hah? apakah itu benar? is that true? yah yang punya badan malah nggak merasa sama sekali. hehehe.
tidak terasa agustus sudah dijalani. hitungan hari lagi menginjakan kaki ke ramadhan. bulan penuh berkah itu. namun aku merasa semua persiapanku selama dua bulan ini benar-benar minim. padahal Rasul yang mulia itu mencontohkan dengan mempersiapkan diri menghadapi ramadhan dua bulan sebelum ramadhan datang. aku bukan umat yang taat ya?
bulan kemarin aku hanya mempostingkan satu entri di blogku. entri yang aku rasa mewakili semua perasaanku. karena aku tidak bisa mengatakan secara langsung kepada orang-orang diluar sana. mencurahkan ke blog membuatku sedikit merasa bisa bernafas lega. entahlah sekarang aku juga harus bangkit. masa aku bisa membuat ibuku sidang munaqosyah, sedang aku tidak?
terlalu banyak yang terjadi membuatku harus jeli mengorek-ngorek hikmah yang tercecer dari semua ini. dengan begini semoga aku makin menjadi dewasa.
hingga doa dipenghujung shalatku adalah memohon keistiqomahan di jalan ini. aku merasa aku bukan siapa-siapa dan tidak akan berarti apa-apa tanpa islam. aku bisa tetap tegak karena rahmat Allah untuk membuatku di jalan ini. melihat satu per satu orang-orang yang gugur dari jalan ini, membuatku ingin tetap bertahan. semoga harapan itu tetap tumbuh dan makin kokoh di hatiku. entah berapa banyak badai yang datang, semoga ia tetap kokoh di dasar hatiku.
sepertinya terlalu banyak cerita yang telah ditulis. dan tak satupun yang saling memiliki koneksi satu sama lain.
hidup itu hanya satu kali, semoga yang satu kali ini mengantarkanku pada keridhoan Ilahi Rabbi.
semoga sebanyak apapun kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak pernah lupa untuk memohonkan ampun atas semua khilaf yang telah kulakukan. dan semoga Allah yang maha penerima taubat mengampuniku.
terakhir MARHABAN YA RAMADHAN. semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari ramadhan tahun kemarin. go go mujahid, mujahidah! ayo sambut festival full pahala ini dengan suka cita dan kegembiraan yang akan mengantarkan kita menjadi pemenang di syawal nanti.
amin
amin
amin...
"Rahmi Badar"
semuanya berlalu begitu saja. ada hikmah yang bisa diambil. ada suka maupun juga duka. namun usia jelas terus bertambah membuatku harus tetap melangkah maju. pembicaraan yang menghiasi adalah soal kerja, tamat kuliah dan menikah. topik yang terakhir begitu sering dibicarakan. mulai dari si ini menikah, si itu menikah hingga pertanyaan kapan hendak menikah. nanti setelah tamat kuliah, kerja bahkan menikah pertanyaan yang diajukan akan berubah menjadi kapan punya anak, anaknya berapa?
memikirkan itu aku hanya bisa tersenyum... tidakkah orang-orang merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja?
sudahlah...
kok jadi terlalu berfilosofi ya??? sepertinya memang bukan aku banget. menurut beberapa orang aku simple minded. hah? apakah itu benar? is that true? yah yang punya badan malah nggak merasa sama sekali. hehehe.
tidak terasa agustus sudah dijalani. hitungan hari lagi menginjakan kaki ke ramadhan. bulan penuh berkah itu. namun aku merasa semua persiapanku selama dua bulan ini benar-benar minim. padahal Rasul yang mulia itu mencontohkan dengan mempersiapkan diri menghadapi ramadhan dua bulan sebelum ramadhan datang. aku bukan umat yang taat ya?
bulan kemarin aku hanya mempostingkan satu entri di blogku. entri yang aku rasa mewakili semua perasaanku. karena aku tidak bisa mengatakan secara langsung kepada orang-orang diluar sana. mencurahkan ke blog membuatku sedikit merasa bisa bernafas lega. entahlah sekarang aku juga harus bangkit. masa aku bisa membuat ibuku sidang munaqosyah, sedang aku tidak?
terlalu banyak yang terjadi membuatku harus jeli mengorek-ngorek hikmah yang tercecer dari semua ini. dengan begini semoga aku makin menjadi dewasa.
hingga doa dipenghujung shalatku adalah memohon keistiqomahan di jalan ini. aku merasa aku bukan siapa-siapa dan tidak akan berarti apa-apa tanpa islam. aku bisa tetap tegak karena rahmat Allah untuk membuatku di jalan ini. melihat satu per satu orang-orang yang gugur dari jalan ini, membuatku ingin tetap bertahan. semoga harapan itu tetap tumbuh dan makin kokoh di hatiku. entah berapa banyak badai yang datang, semoga ia tetap kokoh di dasar hatiku.
sepertinya terlalu banyak cerita yang telah ditulis. dan tak satupun yang saling memiliki koneksi satu sama lain.
hidup itu hanya satu kali, semoga yang satu kali ini mengantarkanku pada keridhoan Ilahi Rabbi.
semoga sebanyak apapun kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak pernah lupa untuk memohonkan ampun atas semua khilaf yang telah kulakukan. dan semoga Allah yang maha penerima taubat mengampuniku.
terakhir MARHABAN YA RAMADHAN. semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari ramadhan tahun kemarin. go go mujahid, mujahidah! ayo sambut festival full pahala ini dengan suka cita dan kegembiraan yang akan mengantarkan kita menjadi pemenang di syawal nanti.
amin
amin
amin...
"Rahmi Badar"
Langganan:
Postingan (Atom)