Sepertinya saya nggak mau kalah dengan salah satu blog yang rajin saya kunjungi. Sebuah blog yang menginspirasi saya. Banget, untuk itu saya menghaturkan beribu terima kasih pada KGC OI (Komunitas Generasi Cendekia, Ogan Ilir)yang awal ramadhan kemarin mengajak saya bergabung di acara pesantren kilat.
Saat itu sang trainer yang dipesan langsung dari Trustco (hihihi, afwan ya Kak), Kak Aang Kunaifi memutarkan salah satu video yang full inspirasi. video milik Danang A. Prabowo, anak IPB. Waaah, pokoknya menginspirasi deh. Kalo mau lihat videonya silahkan klik di www.danangap7.multiply.com. Terbuka untuk umum kok. (Weleh... weleh... apa maksudnya itu. hehe)
Lama kemudian baru saya dapat video aslinya. Kalo mau diceritain proses mendapatkan videonya, panjaaaang banget. Jadi dipersingkat aja yah. sedikit maksa, ya?
Ok, jadi hubungan antara judul di atas dan video danang adalah saya menemukan alamat blognya (halah, jauuh banget dari perkiraan ya? hihihi....)
Nah, salah satu postingan blog itu adalah, sountrack jejak-jejak perjalanan seorang Danang A. Prabowo. Diakhirnya Danang menuliskan (yang intinya kayak gini, kira-kira. hehe, itu merupakan soundtrack jejak-jejak dia, dan carilah soundtrack jejakmu sendiri.
Akhirnya ketemu juga soundtrack untukku, yang jelas sangat cocok untukku saat ini. Pas banget deh. nah ini judulnya "HERO" yang nyanyinya Mariah Carey. Kalo mo denger lagunya silahkan cari aja di google atau yahoo.
Liriknya seperti ini:
"HERO" mariah carey
There's a hero if you look inside your heart
You don't have to be afraid of what you are
There's an answer if you reach into your soul
And the sorrow that you know will melt away
R: And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And then you'll finally see the truth
That a hero lies in you
It's a long road when you face the world alone
No one reaches out a hand for you to hold
You can find love if you search within your self
And the empitiness you felt will disappear
Back to R
# Lord knows dreams are hard to follow
But don't let anyone tear them away
Hold on, there will be tomorrow
In time you'll find the way
Back to R
Oh iya lirik ini didapat dari www.rizkyonline.com.
Bener deh kata Pak Sholikhin Abu Izzuddin, kalo motivasi dan semangat itu seharusnya datang dari diri sendiri. Sehingga motivasi itu awet, melekat pada diri kita. Nah, lagu itu juga mengatakan hal itu.
I love that song!
"Radisty Badar"
Jumat, 29 Oktober 2010
Selasa, 19 Oktober 2010
Almamatermu vs Almamaterku
Sebenarnya wacana ini sudah lama bergulir diantara kami. Antara saya dan dua teman. Setamat SMA, kami bertiga diterima di universitas yang berbeda. Saya sendiri diterima di Universitas Sriwijaya (Unsri). Seorang lagi di Universitas Andalas (Unand) dan yang satu lagi terdampar di IPB. Hihihi.
Teman saya di Andalas yang pertama kali membuka wacana ini. Saat kumpul-kumpul lebaran adalah saat yang selalu jadi arena debat yang sengit antara saya dan dua teman saya itu. Khususnya teman saya yang kuliah di Andalas. Seiring berlalunya waktu, saya pikir masalah itu pun juga akan terlupakan. Biarlah mengendap begitu saja. Namun harapan tinggal harapan, karena teman saya ini sepertinya senang sekali mengulasnya kembali. Dalam hati saya berfikir, “Kok ya nggak capek-capek membicarakan hal ini terus?”. Saya aja bosan!
Terakhir saat kami berbincang via telepon, lagi-lagi ia mengungkit masalah yang sama. Dia mempermasalahkan mengapa banyak orang-orang hanya berfikir untuk melanjutkan kuliah di Palembang dan Lampung. Tidakkah terpikir oleh mereka untuk melanjutkan kuliah keluar Sumatera Selatan dan Lampung? Dan, akhirnya membanding-bandingkan antara Unsri dan Unand. Membandingkan grade Unand yang jauh diatas Unsri. Membandingkan bahwa lulusan Unand—yang kata teman saya—80% sudah diterima bekerja dibandingkan lulusan Unsri. Dan masih banyak lagi yang ia katakan.
Saya tidak menyalahkan pendapat teman saya tersebut, namun tidak pula membenarkan. Mungkin di satu sisi ia benar, namun di sisi lain ia salah. Ya kan?? Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda dalam memilih universitas. Karena alasan jarak, keuangan ataupun kualitas universitas itu sendiri.
Saya hanya mencoba berfikir ulang dengan lebih mendalam. Mencoba merenungi lebih jauh. Mencoba berfikir lebih jernih. Akhirnya timbul pertanyaan dalam diri saya.
Benarkah sukses atau tidaknya seseorang itu tergantung dari asal almamaternya?
Benarkah sukses tidaknya seseorang ditentukan dari universitas mana ia mendapatkan titel?
Benarkan lulusan dari universitas yang grade-nya jauh lebih rendah tidak akan sukses meniti karirnya?
Benarkah lulusan dari universitas yang grade-nya tinggi akan lebih sukses dari lulusan universitas yang grade-nya rendah?
Masih banyak benarkah-benarkah lainnya yang memenuhi kepala saya, meminta jawaban secepatnya. Sepertinya agak berlebihan ya??? Hehe.
Dan, akhirnya saya temukan jawaban dari masalah ini. Jawabannya ada dalam buku ESQ yang ditulis oleh Bapak Ari Ginanjar. Ternyata kita sering terjebak pada belenggu-belenggu yang ada pada diri dan lingkungan kita. Kita sering kali terjebak pada tujuh belenggu yakni prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, sudut pandang, pembanding-pembanding yang subyektif serta fanatisme yang menyesatkan. Hal inilah yang mempengaruhi cara seseorang dalam menyikapi suatu masalah.
Dari tujuh belenggu itu saya mengambil dua belenggu yaitu sudut pandang dan pembanding. Sering kali kita membandingkan sesuatu dengan pengalaman sebelumnya dan konsep yang kita pikirkan sendiri. Begitu juga dengan orang lain. Kita membandingkan sesuatu berdasarkan pembanding yang sangat subyektif. Berdasarkan pada kacamata kita sendiri. Mengukur orang lain dan sesuatu itu dengan baju kita sendiri. Hingga kita terjebak pada hal yang picik menurut saya.
Ini adalah keyakinan saya pribadi, bahwa “SUKSES TIDAKNYA SESEORANG TIDAK DITENTUKAN DARI ALMAMATERNYA.”
Sukses tidaknya seseorang tidak ditentukan darimana ia mendapatkan titel tersebut. Karena setiap orang memiliki potensi untuk sukses. Setiap orang memiliki potensi untuk maju. Semua itu kembali lagi ke kita, mau atau tidak mengambil momentum untuk meraih kesuksesan.
Picik rasanya jika memandang sukses atau tidak seseorang dari lulusan mana ia berasal. Tidak adil rasanya jika menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya. Karena, begitu banyak orang yang luar biasa dengan penampilan yang sangat bersahaja.
Sekarang ini menjadi tidak penting membahas lulusan dari universitas mana. Yang paling penting adalah ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan. Apakah ilmu itu bisa kita terapkan dalam kehidupan atau tidak. Apakah ilmu itu mampu menjadi amal jariyah yang akan menjadi penerang di alam kubur atau tidak. Ataukah ilmu itu malah akan menjadi cambuk yang akan mengantarkan kita pada sakitnya siksa kubur dan panasnya neraka.
Yang jadi persoalan itu seberapa bermanfaat kita untuk umat ini. Percuma rasanya jika titel yang ada di depan dan di belakang nama kita begitu banyak namun tak sesuai dengan kelakuan. Orang-orang merasa jauh lebih aman jika berada jauh dari kita. Kehadiran kita tidak pernah diharapkan. Bahkan orang-orang merasa gembira dengan ketiadaan kita di sekitar mereka. Na'udzubillah….
Tanpa perlu mempermasalahkan lulusan dari mana dan seberapa bergengsi universitas yang menaungi kita selama ini. Marilah berfikir dan bertindak untuk menerapkan ilmu yang di dapat selama ini demi kesejahteraan umat. Karena telah lama rakyat “dijajah” oleh bangsanya sendiri. Lihatlah, begitu banyak orang pintar di negeri ini. Namun pada kenyataannya tega membodohi saudaranya sendiri. Begitu banyak orang dengan titel yang berjejer di depan dan belakang namanya, namun sanggup menikam saudaranya.
Sudah terlalu lama rakyat negeri ini dibodohi. Bangkitkan kesadaran untuk melawan. Jangan hanya diam membisu. Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku sejarah. Jangan pernah berharap balasan dari manusia. Biarlah Rajanya manusia yang akan membalas jerih payah kita selama ini.
Sekarang, masihkah perlu membahas dari universitas mana gelar itu kita dapat? Saya fikir itu sudah tak penting lagi!
Mengutip kata-kata dalam buku Happy Ending Full Barokah: “Belajar bukan sekedar “mengisi diri” dengan koleksi ilmu tetapi bagaimana setiap ilmu yang kita miliki, penelitian yang dilakukan, jabatan yang dipikul, amanah yang diemban, bisa menjadi kebaikan yang mensurgakan. Membuat kebijakan yang melahirkan kebajikan.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allahu a’lam bish shawab…
B. 18, 12 Oktober 2010
13.21
Radisty
Teman saya di Andalas yang pertama kali membuka wacana ini. Saat kumpul-kumpul lebaran adalah saat yang selalu jadi arena debat yang sengit antara saya dan dua teman saya itu. Khususnya teman saya yang kuliah di Andalas. Seiring berlalunya waktu, saya pikir masalah itu pun juga akan terlupakan. Biarlah mengendap begitu saja. Namun harapan tinggal harapan, karena teman saya ini sepertinya senang sekali mengulasnya kembali. Dalam hati saya berfikir, “Kok ya nggak capek-capek membicarakan hal ini terus?”. Saya aja bosan!
Terakhir saat kami berbincang via telepon, lagi-lagi ia mengungkit masalah yang sama. Dia mempermasalahkan mengapa banyak orang-orang hanya berfikir untuk melanjutkan kuliah di Palembang dan Lampung. Tidakkah terpikir oleh mereka untuk melanjutkan kuliah keluar Sumatera Selatan dan Lampung? Dan, akhirnya membanding-bandingkan antara Unsri dan Unand. Membandingkan grade Unand yang jauh diatas Unsri. Membandingkan bahwa lulusan Unand—yang kata teman saya—80% sudah diterima bekerja dibandingkan lulusan Unsri. Dan masih banyak lagi yang ia katakan.
Saya tidak menyalahkan pendapat teman saya tersebut, namun tidak pula membenarkan. Mungkin di satu sisi ia benar, namun di sisi lain ia salah. Ya kan?? Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda dalam memilih universitas. Karena alasan jarak, keuangan ataupun kualitas universitas itu sendiri.
Saya hanya mencoba berfikir ulang dengan lebih mendalam. Mencoba merenungi lebih jauh. Mencoba berfikir lebih jernih. Akhirnya timbul pertanyaan dalam diri saya.
Benarkah sukses atau tidaknya seseorang itu tergantung dari asal almamaternya?
Benarkah sukses tidaknya seseorang ditentukan dari universitas mana ia mendapatkan titel?
Benarkan lulusan dari universitas yang grade-nya jauh lebih rendah tidak akan sukses meniti karirnya?
Benarkah lulusan dari universitas yang grade-nya tinggi akan lebih sukses dari lulusan universitas yang grade-nya rendah?
Masih banyak benarkah-benarkah lainnya yang memenuhi kepala saya, meminta jawaban secepatnya. Sepertinya agak berlebihan ya??? Hehe.
Dan, akhirnya saya temukan jawaban dari masalah ini. Jawabannya ada dalam buku ESQ yang ditulis oleh Bapak Ari Ginanjar. Ternyata kita sering terjebak pada belenggu-belenggu yang ada pada diri dan lingkungan kita. Kita sering kali terjebak pada tujuh belenggu yakni prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, sudut pandang, pembanding-pembanding yang subyektif serta fanatisme yang menyesatkan. Hal inilah yang mempengaruhi cara seseorang dalam menyikapi suatu masalah.
Dari tujuh belenggu itu saya mengambil dua belenggu yaitu sudut pandang dan pembanding. Sering kali kita membandingkan sesuatu dengan pengalaman sebelumnya dan konsep yang kita pikirkan sendiri. Begitu juga dengan orang lain. Kita membandingkan sesuatu berdasarkan pembanding yang sangat subyektif. Berdasarkan pada kacamata kita sendiri. Mengukur orang lain dan sesuatu itu dengan baju kita sendiri. Hingga kita terjebak pada hal yang picik menurut saya.
Ini adalah keyakinan saya pribadi, bahwa “SUKSES TIDAKNYA SESEORANG TIDAK DITENTUKAN DARI ALMAMATERNYA.”
Sukses tidaknya seseorang tidak ditentukan darimana ia mendapatkan titel tersebut. Karena setiap orang memiliki potensi untuk sukses. Setiap orang memiliki potensi untuk maju. Semua itu kembali lagi ke kita, mau atau tidak mengambil momentum untuk meraih kesuksesan.
Picik rasanya jika memandang sukses atau tidak seseorang dari lulusan mana ia berasal. Tidak adil rasanya jika menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya. Karena, begitu banyak orang yang luar biasa dengan penampilan yang sangat bersahaja.
Sekarang ini menjadi tidak penting membahas lulusan dari universitas mana. Yang paling penting adalah ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan. Apakah ilmu itu bisa kita terapkan dalam kehidupan atau tidak. Apakah ilmu itu mampu menjadi amal jariyah yang akan menjadi penerang di alam kubur atau tidak. Ataukah ilmu itu malah akan menjadi cambuk yang akan mengantarkan kita pada sakitnya siksa kubur dan panasnya neraka.
Yang jadi persoalan itu seberapa bermanfaat kita untuk umat ini. Percuma rasanya jika titel yang ada di depan dan di belakang nama kita begitu banyak namun tak sesuai dengan kelakuan. Orang-orang merasa jauh lebih aman jika berada jauh dari kita. Kehadiran kita tidak pernah diharapkan. Bahkan orang-orang merasa gembira dengan ketiadaan kita di sekitar mereka. Na'udzubillah….
Tanpa perlu mempermasalahkan lulusan dari mana dan seberapa bergengsi universitas yang menaungi kita selama ini. Marilah berfikir dan bertindak untuk menerapkan ilmu yang di dapat selama ini demi kesejahteraan umat. Karena telah lama rakyat “dijajah” oleh bangsanya sendiri. Lihatlah, begitu banyak orang pintar di negeri ini. Namun pada kenyataannya tega membodohi saudaranya sendiri. Begitu banyak orang dengan titel yang berjejer di depan dan belakang namanya, namun sanggup menikam saudaranya.
Sudah terlalu lama rakyat negeri ini dibodohi. Bangkitkan kesadaran untuk melawan. Jangan hanya diam membisu. Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku sejarah. Jangan pernah berharap balasan dari manusia. Biarlah Rajanya manusia yang akan membalas jerih payah kita selama ini.
Sekarang, masihkah perlu membahas dari universitas mana gelar itu kita dapat? Saya fikir itu sudah tak penting lagi!
Mengutip kata-kata dalam buku Happy Ending Full Barokah: “Belajar bukan sekedar “mengisi diri” dengan koleksi ilmu tetapi bagaimana setiap ilmu yang kita miliki, penelitian yang dilakukan, jabatan yang dipikul, amanah yang diemban, bisa menjadi kebaikan yang mensurgakan. Membuat kebijakan yang melahirkan kebajikan.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allahu a’lam bish shawab…
B. 18, 12 Oktober 2010
13.21
Radisty
Untukmu Duhai Sahabat
Untukmu duhai sahabat…
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Kadang kala aku merasa tak mampu untuk bangkit lagi
Setelah jatuh berulang kali
Merasa diri tak kuasa untuk berlari….
Mengejar langkah-langkah kalian
Yang terlalu jauh untuk kutelusuri
Tapi…
Ada keyakinan dalam diri
Bahwa diujung jalan itu
Ada kalian yang tengah menanti
Dan, ‘kan kita lalui jalan itu
Bersama-sama lagi!
Bersama meraih jutaan mimpi
Yang kita gangtung di langit berjuta impian
Dengan tangga perjuangan.
Bersama melukis pelangi
Dengan warna-warna cinta dan pengorbanan
Pada kanvas-kanvas kehidupan.
Terima kasih….
‘Karna tetap berada di sisi.
Terima kasih….
‘Karna telah setia menemani.
Suatu saat,
Akan kutulis kisah kita
Pada lembar-lembar diari kehidupan
Dan, ‘kan kuceritakan pada generasi selanjutnya
Bahwa aku pernah dan masih
Memiliki sahabat yang luar biasa seperti kalian.
B 18, 9 oktober 2010
11..26
Radisty
Rabu, 06 Oktober 2010
Ibunda....
Mother....
Ibunda....
Ummi....
Mummy....
Umak....
Emak...
apapun itu panggilanya, ia tetap--menurutku--wanita luar biasa.
^-^
pertama kali mendengar lagu yang diputar saat ada acara pesantren kilat di SMAN 1 Inderalaya, aku sudah jatuh cinta dengan lagu itu. Lagunya keren. jadi penasaran apa judul lagu itu???
ternyata hari ini, secara sengaja membuka blog www.danangap7.multiply.com ketemu lagunya.
hehehe. akhirnya memutuskan untuk mendownload lagu itu. eh pas tau arti lagunya aku makin suka sama lagu itu. lagunya itu berjudul Mother yang nyanyi Seamo. nih tak tulis juga lirik lagunya... iya liriknya dapet dari google
SEAMO MOTHER LYRICS
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
--------------------------------------------------
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…
JAdi kangen ma ibunda ku tercinta....
love you mom....
^_^
"Radisty Badar"
Ibunda....
Ummi....
Mummy....
Umak....
Emak...
apapun itu panggilanya, ia tetap--menurutku--wanita luar biasa.
^-^
pertama kali mendengar lagu yang diputar saat ada acara pesantren kilat di SMAN 1 Inderalaya, aku sudah jatuh cinta dengan lagu itu. Lagunya keren. jadi penasaran apa judul lagu itu???
ternyata hari ini, secara sengaja membuka blog www.danangap7.multiply.com ketemu lagunya.
hehehe. akhirnya memutuskan untuk mendownload lagu itu. eh pas tau arti lagunya aku makin suka sama lagu itu. lagunya itu berjudul Mother yang nyanyi Seamo. nih tak tulis juga lirik lagunya... iya liriknya dapet dari google
SEAMO MOTHER LYRICS
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
--------------------------------------------------
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…
JAdi kangen ma ibunda ku tercinta....
love you mom....
^_^
"Radisty Badar"
Rabu, 04 Agustus 2010
entah
pasti aneh membaca untuk yang pertama kali judul itu. karena aku sebagai penulis pun juga ikutan aneh. sebenarnya apa yang ingin kutulis ya? banyak yang ingin dibagi sebanyak apa yang ingin kudapatkan.
semuanya berlalu begitu saja. ada hikmah yang bisa diambil. ada suka maupun juga duka. namun usia jelas terus bertambah membuatku harus tetap melangkah maju. pembicaraan yang menghiasi adalah soal kerja, tamat kuliah dan menikah. topik yang terakhir begitu sering dibicarakan. mulai dari si ini menikah, si itu menikah hingga pertanyaan kapan hendak menikah. nanti setelah tamat kuliah, kerja bahkan menikah pertanyaan yang diajukan akan berubah menjadi kapan punya anak, anaknya berapa?
memikirkan itu aku hanya bisa tersenyum... tidakkah orang-orang merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja?
sudahlah...
kok jadi terlalu berfilosofi ya??? sepertinya memang bukan aku banget. menurut beberapa orang aku simple minded. hah? apakah itu benar? is that true? yah yang punya badan malah nggak merasa sama sekali. hehehe.
tidak terasa agustus sudah dijalani. hitungan hari lagi menginjakan kaki ke ramadhan. bulan penuh berkah itu. namun aku merasa semua persiapanku selama dua bulan ini benar-benar minim. padahal Rasul yang mulia itu mencontohkan dengan mempersiapkan diri menghadapi ramadhan dua bulan sebelum ramadhan datang. aku bukan umat yang taat ya?
bulan kemarin aku hanya mempostingkan satu entri di blogku. entri yang aku rasa mewakili semua perasaanku. karena aku tidak bisa mengatakan secara langsung kepada orang-orang diluar sana. mencurahkan ke blog membuatku sedikit merasa bisa bernafas lega. entahlah sekarang aku juga harus bangkit. masa aku bisa membuat ibuku sidang munaqosyah, sedang aku tidak?
terlalu banyak yang terjadi membuatku harus jeli mengorek-ngorek hikmah yang tercecer dari semua ini. dengan begini semoga aku makin menjadi dewasa.
hingga doa dipenghujung shalatku adalah memohon keistiqomahan di jalan ini. aku merasa aku bukan siapa-siapa dan tidak akan berarti apa-apa tanpa islam. aku bisa tetap tegak karena rahmat Allah untuk membuatku di jalan ini. melihat satu per satu orang-orang yang gugur dari jalan ini, membuatku ingin tetap bertahan. semoga harapan itu tetap tumbuh dan makin kokoh di hatiku. entah berapa banyak badai yang datang, semoga ia tetap kokoh di dasar hatiku.
sepertinya terlalu banyak cerita yang telah ditulis. dan tak satupun yang saling memiliki koneksi satu sama lain.
hidup itu hanya satu kali, semoga yang satu kali ini mengantarkanku pada keridhoan Ilahi Rabbi.
semoga sebanyak apapun kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak pernah lupa untuk memohonkan ampun atas semua khilaf yang telah kulakukan. dan semoga Allah yang maha penerima taubat mengampuniku.
terakhir MARHABAN YA RAMADHAN. semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari ramadhan tahun kemarin. go go mujahid, mujahidah! ayo sambut festival full pahala ini dengan suka cita dan kegembiraan yang akan mengantarkan kita menjadi pemenang di syawal nanti.
amin
amin
amin...
"Rahmi Badar"
semuanya berlalu begitu saja. ada hikmah yang bisa diambil. ada suka maupun juga duka. namun usia jelas terus bertambah membuatku harus tetap melangkah maju. pembicaraan yang menghiasi adalah soal kerja, tamat kuliah dan menikah. topik yang terakhir begitu sering dibicarakan. mulai dari si ini menikah, si itu menikah hingga pertanyaan kapan hendak menikah. nanti setelah tamat kuliah, kerja bahkan menikah pertanyaan yang diajukan akan berubah menjadi kapan punya anak, anaknya berapa?
memikirkan itu aku hanya bisa tersenyum... tidakkah orang-orang merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja?
sudahlah...
kok jadi terlalu berfilosofi ya??? sepertinya memang bukan aku banget. menurut beberapa orang aku simple minded. hah? apakah itu benar? is that true? yah yang punya badan malah nggak merasa sama sekali. hehehe.
tidak terasa agustus sudah dijalani. hitungan hari lagi menginjakan kaki ke ramadhan. bulan penuh berkah itu. namun aku merasa semua persiapanku selama dua bulan ini benar-benar minim. padahal Rasul yang mulia itu mencontohkan dengan mempersiapkan diri menghadapi ramadhan dua bulan sebelum ramadhan datang. aku bukan umat yang taat ya?
bulan kemarin aku hanya mempostingkan satu entri di blogku. entri yang aku rasa mewakili semua perasaanku. karena aku tidak bisa mengatakan secara langsung kepada orang-orang diluar sana. mencurahkan ke blog membuatku sedikit merasa bisa bernafas lega. entahlah sekarang aku juga harus bangkit. masa aku bisa membuat ibuku sidang munaqosyah, sedang aku tidak?
terlalu banyak yang terjadi membuatku harus jeli mengorek-ngorek hikmah yang tercecer dari semua ini. dengan begini semoga aku makin menjadi dewasa.
hingga doa dipenghujung shalatku adalah memohon keistiqomahan di jalan ini. aku merasa aku bukan siapa-siapa dan tidak akan berarti apa-apa tanpa islam. aku bisa tetap tegak karena rahmat Allah untuk membuatku di jalan ini. melihat satu per satu orang-orang yang gugur dari jalan ini, membuatku ingin tetap bertahan. semoga harapan itu tetap tumbuh dan makin kokoh di hatiku. entah berapa banyak badai yang datang, semoga ia tetap kokoh di dasar hatiku.
sepertinya terlalu banyak cerita yang telah ditulis. dan tak satupun yang saling memiliki koneksi satu sama lain.
hidup itu hanya satu kali, semoga yang satu kali ini mengantarkanku pada keridhoan Ilahi Rabbi.
semoga sebanyak apapun kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak pernah lupa untuk memohonkan ampun atas semua khilaf yang telah kulakukan. dan semoga Allah yang maha penerima taubat mengampuniku.
terakhir MARHABAN YA RAMADHAN. semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari ramadhan tahun kemarin. go go mujahid, mujahidah! ayo sambut festival full pahala ini dengan suka cita dan kegembiraan yang akan mengantarkan kita menjadi pemenang di syawal nanti.
amin
amin
amin...
"Rahmi Badar"
Selasa, 13 Juli 2010
mengertilah, ku mohon....
aku tak pernah menuntutmu untuk selalu ada dalam setiap masalahku.
aku hanya memintamu mengerti aku.
ada saat aku ingin sendiri
ada saat aku ingin berbagi
ada saat aku ingin dimengerti.
pernahkah sekali saja,
kau berkata padaku
"jika memang engkau tak sanggup lagi, berhentilah.
berhentilah untuk sejenak mengambil nafas kekuatan.
kemudian bangkitlah."
untuk sekali saja, mengertilah dengan apa yang kurasa.
untuk sekali saja, berhentilah menyemangatiku.
untuk sekali saja, bertanyalah tentang apa yang kurasa,
tentang semua luka ini,
tentang semua perasaan tersisih ini.
sekali saja bertanyalah padaku sahabat!
sekali saja....
aku tak butuh dengan segala macam support itu. aku hanya butuh didengarkan. aku hanya butuh telinga untuk mendengarkan semua kesahku.
yang kubutuhkan hanya tepukan lembut di bahuku,
hanya itu.
tidak lebih.
taukah kau???
pertanyaan yang terus-menerus kau tanyakan padaku,
pertanyaan yang sama yang ditanyakan orang-orang di luar sana padaku.
aku mungkin bisa menjawab dengan senyum, jika yang bertanya itu adalah orang-orang di luar sana.
tapi ini kau!
kau yang terus menerus bertanya padaku,
tidakkah kau tahu pertanyaan itu terus menyudutkanku,
terus menambah luka itu,
terus menambah sakit itu.
aku tidak akan mempermasalahkan jika yang bertanya orang-orang di sana.
jika ternyata yang bertanya itu orang-orang terdekatku, tidakkah kalian memberiku ruang untuk bernafas, atau sekedar beristirahat dari semua tekanan di luar sana.
mengapa tidak memberiku ruang untuk sekedar menenangkan pikiran?
bukan aku tak mau menyelesaikan secepatnya,
bukan aku tidak mau mempersembahkan itu pada orang tuaku secepatnya.
taukah kau?
aku menangis dalam hati saat melihat satu per satu kalian pergi meninggalkanku.
senyum dan tawa itu hanya semu.
aku hanya ingin kalian melihatku bahagia saat hari bahagia kalian.
aku tak ingin menambah beban jika menampakkan wajah sedih.
taukah kalian,
sempat terlintas dalam benakku,
memohon agar kalian tetap disampingku.
namun aku tak ingin egois,
kalian memiliki kehidupan sendiri, aku tak ingin memonopoli.
biarlah aku mengiringi kebahagiaan itu di sini.
kumohon berhentilah bertanya hal itu padaku.
tanpa kalian tanyakan aku pun memikirkannya.
jadi mengertilah, kumohon ....
aku hanya memintamu mengerti aku.
ada saat aku ingin sendiri
ada saat aku ingin berbagi
ada saat aku ingin dimengerti.
pernahkah sekali saja,
kau berkata padaku
"jika memang engkau tak sanggup lagi, berhentilah.
berhentilah untuk sejenak mengambil nafas kekuatan.
kemudian bangkitlah."
untuk sekali saja, mengertilah dengan apa yang kurasa.
untuk sekali saja, berhentilah menyemangatiku.
untuk sekali saja, bertanyalah tentang apa yang kurasa,
tentang semua luka ini,
tentang semua perasaan tersisih ini.
sekali saja bertanyalah padaku sahabat!
sekali saja....
aku tak butuh dengan segala macam support itu. aku hanya butuh didengarkan. aku hanya butuh telinga untuk mendengarkan semua kesahku.
yang kubutuhkan hanya tepukan lembut di bahuku,
hanya itu.
tidak lebih.
taukah kau???
pertanyaan yang terus-menerus kau tanyakan padaku,
pertanyaan yang sama yang ditanyakan orang-orang di luar sana padaku.
aku mungkin bisa menjawab dengan senyum, jika yang bertanya itu adalah orang-orang di luar sana.
tapi ini kau!
kau yang terus menerus bertanya padaku,
tidakkah kau tahu pertanyaan itu terus menyudutkanku,
terus menambah luka itu,
terus menambah sakit itu.
aku tidak akan mempermasalahkan jika yang bertanya orang-orang di sana.
jika ternyata yang bertanya itu orang-orang terdekatku, tidakkah kalian memberiku ruang untuk bernafas, atau sekedar beristirahat dari semua tekanan di luar sana.
mengapa tidak memberiku ruang untuk sekedar menenangkan pikiran?
bukan aku tak mau menyelesaikan secepatnya,
bukan aku tidak mau mempersembahkan itu pada orang tuaku secepatnya.
taukah kau?
aku menangis dalam hati saat melihat satu per satu kalian pergi meninggalkanku.
senyum dan tawa itu hanya semu.
aku hanya ingin kalian melihatku bahagia saat hari bahagia kalian.
aku tak ingin menambah beban jika menampakkan wajah sedih.
taukah kalian,
sempat terlintas dalam benakku,
memohon agar kalian tetap disampingku.
namun aku tak ingin egois,
kalian memiliki kehidupan sendiri, aku tak ingin memonopoli.
biarlah aku mengiringi kebahagiaan itu di sini.
kumohon berhentilah bertanya hal itu padaku.
tanpa kalian tanyakan aku pun memikirkannya.
jadi mengertilah, kumohon ....
Kamis, 03 Juni 2010
hmmmmm.....
Bangun pagi yang disertai dengan ogah-ogahan beranjak shalat subuh. Astaghfirullah. Alarm hp pun telah berdering sedari tadi. Bawaan ngantuk. Berat! Akhirnya bangun juga, dengan sedikit paksaan tentunya. Berjuang melawan kantuk yang tidak bisa diajak kompromi. Masuk kamar mandi pun dengan mata setengah terpejam. Akhirnya mata ini bisa melek dengan sempurna setelah air bak mandi dengan sukses mengguyur mukaku. Dingin. Cuci muka, sikat gigi dan wudhu.
Sesudah shalat subuh, Ria mengajakku keluar. Biasalah cari makan. Maklum di Unsri sedang musim UAS. Isi perut untuk energi menyelesaikan soal-soal UAS yang diberikan dosen. Rencana hari ini adalah ke Palembang. Mengambil tugas ibu yang kemarin diberikan ke Nurul. Atas perintah ibuku sih. Hehe…
Jam 8.30 baru beranjak dari depan laptop. Mandi. Sehabis mandi, nyetrika dulu. Nggak ada jilbab, baju dan rok yang sudah disetrika. Iseng aku meng-SMS Nurul, menanyakan hari ini ia ada di kostnya tidak. Karena aku akan ke sana. Dapat balasan dari Nurul, katanya tugasnya belum kelar, besok diantar ke Indralaya. Kecewa! Padahal aku ingin melepas suntuk jadinya memutuskan untuk ke Palembang. Eh, malah nggak jadi. Sedihnya…. Hiks....
Erma SMS katanya mau main ke kos. Eh, nggak lama dah nongol. Ckckck. Cepet banget. Katanya dari dinas luar, diminta ke diknas. Huuu, kesempatan! Ngobrol ngalor ngidul, nggak jelas juntrungannya. Eh, malah ngajak ke Gubuk Jaya. Mo liat2 buku. Pergi ke sana, malah buat nyesel ajah. Bukunya bagus-bagus. Cuma sayang nggak ada duit. Hiks..Hiks.. Ada tiga buku yang buat aku tergoda nih. Yang pertama, buku tentang blog. Haha. Emang lagi senang jadi blogger nih! Penasaran untuk bagusin blog, kayak blog orang laen. Buku kedua tentang belajar iqra plus cdnya. Metodenya beda tuh. Kalo iqra entah berapa jam baru bisa Al Qur’an, Al Barqy, delapan jam bisa baca Al Qur’an. Nah buku ini lima jam bisa baca Al Qur’an. Makanya aku penasaran. Gimana isi itu buku.
Buku yang ketiga, adalah doa untuk anak-anak bergambar. Hohoho. Sayangnya bukan emak-emak. Kalo dah punya anak, itu buku-buku mungkin bisa aku borong. Pengen beliin Bilal nih. Anak itu entah bagaimana melukiskan semangat belajarnya yang ampun deh. Bukan rajin, tapi mualas banget. Maen aja pikirannya. Baiklah, pelajari cara belajarnya dulu deh sama tipe kepribadian apa dia itu. Halah, dah kayak psikolog ajah!
Hari ini ngajar TPA. Rendi SMS katanya gak enak badan. Aduh pak, pak, kok ya baru SMS pas jam 4. Yah, mana sempat nyiapin bahan buat ngajar tajwid hari ini. Basrawi SMS katanya ketiduran. Jadilah aku ngajar sendirian. Mana ujan deras. Karena nggak tau mau ngapain. Akhirnya, aku tanya aja sama mereka mau apa. Katanya mau maen. Setelah di pikir-pikir lagi, ya deh nggak apa kalo mo maen. Jarang-jarang juga mereka dikasih kebebasan buat maen. Hehe…
Emang jadinya nggak belajar. Tapi aku jadi tahu mereka lebih jauh. Selain itu bisa masuk ke dunia mereka. Membiarkan mereka merancang sendiri apa yang mereka mau. Mengatakan apa yang mereka suka. Mengeluarkan unek-unek selama ini. Rata-rata sih mengeluhkan soal Rendi. Hahaha. Coba tadi bisa direkam. Biar diputar ulang di depan orangnya.
Aku terharu saat aku mengatakan nggak belajar, Yori dengan santainya mengeluarkan buku kemudian mencatat ulang surat Al Kafirun. Wah, semangat belajarnya patut diacungin jempol nih! Opi dan Imam yang semangat buat nanya-nanya. All about islam. Teringat percakapan dengan dua temanku. Yang satu pernah ikut ESQ Parenting, yang satu ikut seminar Smart Parenting.
Dari mereka berdua dapet pelajaran-pelajaran berharga. Katanya anak jangan dimarahin, kalo anak nanya-nanya dijawab ajah, tapi jangan boong juga jawabnya. Biarkan mereka menyelesaikan konflik mereka sendiri, orang tua hanya diminta mengarahkan. Beri mereka kepercayaan. Pokoknya banyak deh!! Penasaran pengen baca bukunya.
Hari ini malah ditambah dengan baca bukunya Asma Nadia, yang judulnya La Tahzan, Cinta Tak Pernah Menyerah. The Real Dezperate Housewives. Hahaha. Asli aneh-aneh banget! Perjuangan jadi ibu itu benar-benar nggak mudah deh. Salut deh buat para ibu. Semoga aku juga bisa jadi supermom. Duile, ngayal mulu! Bangun, non!
The last, terima kasihku untuk para adek-adek TPA yang sudah mengajarkan banyak hal padaku. Kesabaran, materi-materi baru, hingga senyum dan tawa itu. Serta mempelajari sifat mereka satu per satu. Mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan mereka, supaya mereka bisa asyik belajar di TPA. Semua masih berproses. Semoga akan jauh lebih baik lagi nantinya.
Bersama mereka ada senyum, tawa, sedih dan juga luka. Story-nya nggak bakal selesai diceritain di sini. Masih banyak hal yang bisa menceritakan about mereka. Yang Jelas itu memberikan arti yang positif ke aku. Mereka mungkin tidak mengajari secara langsung. Mengajari mereka doa sehari-hari, perginya nggak tau itu doa, pulangnya doa itu dah lekat di kepala. Mereka belajar, dan aku juga turut belajar bersama mereka. Bukan aku aja yang ngaku kalo yang awalnya nggak tau atau lupa, pulangnya dah ingat. Hehe…
Dah panjang ya cerita kita. Lanjut lagi ah nanti! Lain kali ganti topik pembicaraan kita. Hari ini proses panjang tentang TPA. Besok-besok ganti lagi. Mana topik yang kira-kira menarik ajah buat diceritain. Hehe…
Sesudah shalat subuh, Ria mengajakku keluar. Biasalah cari makan. Maklum di Unsri sedang musim UAS. Isi perut untuk energi menyelesaikan soal-soal UAS yang diberikan dosen. Rencana hari ini adalah ke Palembang. Mengambil tugas ibu yang kemarin diberikan ke Nurul. Atas perintah ibuku sih. Hehe…
Jam 8.30 baru beranjak dari depan laptop. Mandi. Sehabis mandi, nyetrika dulu. Nggak ada jilbab, baju dan rok yang sudah disetrika. Iseng aku meng-SMS Nurul, menanyakan hari ini ia ada di kostnya tidak. Karena aku akan ke sana. Dapat balasan dari Nurul, katanya tugasnya belum kelar, besok diantar ke Indralaya. Kecewa! Padahal aku ingin melepas suntuk jadinya memutuskan untuk ke Palembang. Eh, malah nggak jadi. Sedihnya…. Hiks....
Erma SMS katanya mau main ke kos. Eh, nggak lama dah nongol. Ckckck. Cepet banget. Katanya dari dinas luar, diminta ke diknas. Huuu, kesempatan! Ngobrol ngalor ngidul, nggak jelas juntrungannya. Eh, malah ngajak ke Gubuk Jaya. Mo liat2 buku. Pergi ke sana, malah buat nyesel ajah. Bukunya bagus-bagus. Cuma sayang nggak ada duit. Hiks..Hiks.. Ada tiga buku yang buat aku tergoda nih. Yang pertama, buku tentang blog. Haha. Emang lagi senang jadi blogger nih! Penasaran untuk bagusin blog, kayak blog orang laen. Buku kedua tentang belajar iqra plus cdnya. Metodenya beda tuh. Kalo iqra entah berapa jam baru bisa Al Qur’an, Al Barqy, delapan jam bisa baca Al Qur’an. Nah buku ini lima jam bisa baca Al Qur’an. Makanya aku penasaran. Gimana isi itu buku.
Buku yang ketiga, adalah doa untuk anak-anak bergambar. Hohoho. Sayangnya bukan emak-emak. Kalo dah punya anak, itu buku-buku mungkin bisa aku borong. Pengen beliin Bilal nih. Anak itu entah bagaimana melukiskan semangat belajarnya yang ampun deh. Bukan rajin, tapi mualas banget. Maen aja pikirannya. Baiklah, pelajari cara belajarnya dulu deh sama tipe kepribadian apa dia itu. Halah, dah kayak psikolog ajah!
Hari ini ngajar TPA. Rendi SMS katanya gak enak badan. Aduh pak, pak, kok ya baru SMS pas jam 4. Yah, mana sempat nyiapin bahan buat ngajar tajwid hari ini. Basrawi SMS katanya ketiduran. Jadilah aku ngajar sendirian. Mana ujan deras. Karena nggak tau mau ngapain. Akhirnya, aku tanya aja sama mereka mau apa. Katanya mau maen. Setelah di pikir-pikir lagi, ya deh nggak apa kalo mo maen. Jarang-jarang juga mereka dikasih kebebasan buat maen. Hehe…
Emang jadinya nggak belajar. Tapi aku jadi tahu mereka lebih jauh. Selain itu bisa masuk ke dunia mereka. Membiarkan mereka merancang sendiri apa yang mereka mau. Mengatakan apa yang mereka suka. Mengeluarkan unek-unek selama ini. Rata-rata sih mengeluhkan soal Rendi. Hahaha. Coba tadi bisa direkam. Biar diputar ulang di depan orangnya.
Aku terharu saat aku mengatakan nggak belajar, Yori dengan santainya mengeluarkan buku kemudian mencatat ulang surat Al Kafirun. Wah, semangat belajarnya patut diacungin jempol nih! Opi dan Imam yang semangat buat nanya-nanya. All about islam. Teringat percakapan dengan dua temanku. Yang satu pernah ikut ESQ Parenting, yang satu ikut seminar Smart Parenting.
Dari mereka berdua dapet pelajaran-pelajaran berharga. Katanya anak jangan dimarahin, kalo anak nanya-nanya dijawab ajah, tapi jangan boong juga jawabnya. Biarkan mereka menyelesaikan konflik mereka sendiri, orang tua hanya diminta mengarahkan. Beri mereka kepercayaan. Pokoknya banyak deh!! Penasaran pengen baca bukunya.
Hari ini malah ditambah dengan baca bukunya Asma Nadia, yang judulnya La Tahzan, Cinta Tak Pernah Menyerah. The Real Dezperate Housewives. Hahaha. Asli aneh-aneh banget! Perjuangan jadi ibu itu benar-benar nggak mudah deh. Salut deh buat para ibu. Semoga aku juga bisa jadi supermom. Duile, ngayal mulu! Bangun, non!
The last, terima kasihku untuk para adek-adek TPA yang sudah mengajarkan banyak hal padaku. Kesabaran, materi-materi baru, hingga senyum dan tawa itu. Serta mempelajari sifat mereka satu per satu. Mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan mereka, supaya mereka bisa asyik belajar di TPA. Semua masih berproses. Semoga akan jauh lebih baik lagi nantinya.
Bersama mereka ada senyum, tawa, sedih dan juga luka. Story-nya nggak bakal selesai diceritain di sini. Masih banyak hal yang bisa menceritakan about mereka. Yang Jelas itu memberikan arti yang positif ke aku. Mereka mungkin tidak mengajari secara langsung. Mengajari mereka doa sehari-hari, perginya nggak tau itu doa, pulangnya doa itu dah lekat di kepala. Mereka belajar, dan aku juga turut belajar bersama mereka. Bukan aku aja yang ngaku kalo yang awalnya nggak tau atau lupa, pulangnya dah ingat. Hehe…
Dah panjang ya cerita kita. Lanjut lagi ah nanti! Lain kali ganti topik pembicaraan kita. Hari ini proses panjang tentang TPA. Besok-besok ganti lagi. Mana topik yang kira-kira menarik ajah buat diceritain. Hehe…
Langganan:
Postingan (Atom)